brotherhood

11.7K 1.6K 341
                                    

_bagian 4, brotherhood_

Puluhan gagak hitam bertengger di atas menara pusat kota. Burung yang disimbolkan sebagai tanda kematian itu berkoak ramai, mengiringi hiruk pikuk para manusia di bawahnya. Mereka bersikap acuh tak acuh seakan lupa bahwa ajal bisa datang kapan saja.

Sementara itu, dua pria dewasa nekat menjadikan puncak menara sebagai tempat tersembunyi untuk misi mereka kali ini. Padahal kawasan tersebut merupakan tempat keramat. Dimana turis maupun orang lokal dilarang menginjakkan kaki.

Demian Linerio Devinter, putra kedua Kaizel, fokus merakit senjata runduknya, mengatur teleskop pada titik tertentu. Sedangkan sang kakak duduk semaunya di atas pagar pembatas, tak mau repot-repot membantu.

"Eh? Aku dicampakan ayah sendiri," gumam lelaki bertindik itu, menatap earpiece yang dia rebut dari sang adik.

Demian mengawasi hiruk pikuk kota lewat teleskop senjatanya dengan badan membungkuk. Sebelah matanya terpejam sementara tangannya yang dibalut sarung tangan setengah jari mengatur posisi teleskop. "Ayah mungkin sedikit kesal karena anak tertuanya hanya tumbuh secara fisik saja, sedangkan yang 'lain' tidak." (Translate : Akhlak misalnya)

"Terima kasih pujiannya."

"Sama-sama."

Reyson Kazef Devinter yang sedari tadi cuma duduk-duduk santai melirik ke arah Demian. "Ku bunuh kamu kalau pakai cara seperti target kita yang terakhir kali."

Demian dengan pakaian serba hitam kembali menegakkan badan menghadap Reyson. Kedua sudut bibirnya melengkung lebar. "Kakakku tersayang, waktu itu aku tidak sengaja. Jariku kebas dan tanpa sadar melepaskan peluru begitu saja." Seorang genius yang dinobatkan sebagai salah satu penembak jitu terbaik Devinter bicara begitu.

Reyson menumpu dagu, mengalihkan pandangan ke arah lain. Omong kosong.

Di misi mereka sebelumnya, bagian Reyson adalah memancing target menjauhi keramaian. Sementara Demian bertugas menembaknya. Tak disangka, Demian justru melepaskan peluru laknat itu saat Reyson belum membawanya ke tempat sepi. Alhasil, kini Reyson jadi buronan yang paling dicari.

"Ah, sebelumnya aku ingin bilang," tukas Demian tanpa mengalihkan atensi dari lubang teleskop, "target kita kali ini punya sakit jantung. Aku ingin mencoba sedikit eksperimen."

"Kamu ingin aku bawakan potongan jantungnya?"

Alih-alih menjawab, Demian lagi-lagi tersenyum hingga mata sabitnya muncul.

Berarti bukan, batin Reyson. Senyum Demian yang seperti itu menandakan bahwa dia sudah menyiapkan suatu perangkap. Persetan dengan jebakanmu, Adik sial.

Tak berselang lama, Demian pun menemukan mangsa mereka. "Target ke 9 arah jam 2. Jaket coklat, topi merah."

"Nghokey."

Reyson dengan kemeja pantai tanpa dikancing langsung terjun dari menara, mendarat dengan teknik rolling ke rooftop gedung satu ke gedung lainnya. Layaknya agen rahasia profesional, sambil terus berjalan Reyson menanggalkan kemejanya, mengganti dengan jass milik supir Target 9 yang dia ambil secara cuma-cuma.

"Pak."

Lelaki 40 tahun berjaket coklat itu menoleh ke belakang. Diliriknya jass biru Reyson yang dia kenali milik sopirnya yang baru mulai bekerja hari ini. "Oh, kamu. Ada apa?"

"Maafkan saya. Kasino yang Anda tuju masih dua kilometer dari sini. Saya salah alamat."

Reyson sudah menyuntikkan obat bius pada sopir Target 9. Jika sesuai rencana, dia akan mengantarkan targetnya ke daerah sepi untuk bertemu ajal. Karena pejabat yang menghamburkan uang rakyat untuk perjudian harus mati.

Young Lady's Bodyguards (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang