25. Sarangheo

171K 19.4K 1.3K
                                        

Calvin menyilangkan tanganya di depan dada, tatapanya tajam menghunus ke arah Aaron yang kini susah payah meneguk salivanya. Di seberang sana, Ayla hanya menatap Calvin dengan sedikit takut. Masalahya, Calvin belum mau berbicara sepatah kata apa pun sejak tadi.

"Jelasin!" ucap Calvin dingin.

"Apa?" tanya Aaron santai, padahal dalam hati sudah dibuat takut hanya dengan melihat tatapan Calvin.

Kedua lelaki berbadan jangkung itu sekarang berada di sofa depan TV, dengan posisi Aaron yang duduk di sofa dan Calvin yang berdiri sambil bersedekap. Tadi, Calvin benar-benar mengamuk, pria itu terus menggedor pintu kamar Aaron seperti orang kesetanan. Aaron tentu saja tidak membukakan pintu kamar. Pria itu justru berdiri di belakang pintu, berjaga-jaga jika Calvin bisa mendobrak pintunya.

Namun, perkataan Calvin membuat Aaron mau tidak mau membukakan pintu yang sejak tadi ia tahan mati-matian.

Begini kata Calvin, "Kalau lo nggak mau keluar sekarang, gue pastiin lo bakal jadi gelandangan di sini."

Aaron yang mendengarnya dibuat ketar-ketir, dengan memberanikan diri pria berambut pirang itu membuka pintu. Ketika pintu dibuka, Aaron langsung mendapat sambutan yang luar biasa dari Calvin. Pria itu menjambak rambut Aaron, menyeretnya ke sofa. Aaron meringis, tapi tak digubris sama sekali oleh Calvin.

Calvin berdecak keras. "Siapa yang indehoyan di pesawat?" ucapnya memecah keheningan ketiganya.

Aaron mengerjapkan matanya pelan.

"Gue," jawabnya mengaku.

"Siapa yang mojok di pesawat?"

"Gue." Lagi-lagi, Aaron mengakui perbuatannya.

"Siapa yang manggil pramugari supaya dateng nyamperin?"

"Gue, Vin, gue," ucap Aaron pasrah.

"Bagus. Sekarang lo denger, kan, Ay, gue nggak ngapa-ngapain," ucap Calvin pada Ayla.

Enak saja, dirinya yang tak tahu apa-apa dijadikan sasaran kambing hitam oleh mulut lemes Aaron. Aaron menoleh ke arah Calvin yang kini menatap Ayla. Biasanya, sahabatnya itu paling malas menjelaskan sesuatu, tapi kini dengan Ayla berbeda. Sepertinya, Calvin memang sudah benar-benar mencintai Ayla.

"Iya, maaf," sahut Ayla pelan.

Calvin menatap Aaron sekilas. Pria itu lebih memilih membawa ponselnya masuk ke dalam kamar.

"Maaf, ya," ulang Ayla berusaha membujuk suaminya supaya tidak marah.

"Hm...."

Terjadi keheningan di antara keduanya, hingga celetukan Calvin memecah keheningan di antara keduanya.

"Lucuan gue atau Aaron?"

"Aaron," jawab Ayla jujur.

Astaga, sepertinya Ayla melupkan bahwa dirinya baru saja diberi maaf Calvin.

"Aaron teros," sahut Calvin kelewat kesal.

"Marah, ya?"

"Nggak."

"Baperan, ih."

"Suka-suka gue, lah!"

"Lucuan Aaron, tapi gantengan kamu. Gimana, dong?" tanya Ayla di seberang sana.

Calvin mengalihkan pandanganya, bisa-bisanya pria itu justru salting dipuji tampan oleh istrinya sendiri.

"Udah bisa gombal, siapa yang ngajarin?"

Ayla mengerutkan kening. "Siapa yang gombal? Aku, kan, jujur. Kamu memang ganteng."

Calvin tak bisa menyembunyikan senyumnya kali ini, beralih menatap Ayla di seberang sana intens. "Lo juga cantik," ucapnya sungguh-sungguh.

"Udah tau."

"Dih, PD! iapa yang bilang?"

"Kamu barusan."

Calvin berdecak pelan. "Mending sekarang lo tidur, udah malem, kan?"

"Baru jam sembilan, mending kamu yang tidur. Pasti di sana udah malem banget."

Calvin mendongak ke arah jam dinding, pukul 2.00 pagi. Gila, jika bukan karena Aaron yang membuat gara-gara pasti dirinya sudah tidur dari tadi. Calvin yang sejak tadi duduk di tepi ranjang, kini memilih untuk merebahkan tubuhnya.

"Nggak bisa tidur gue."

"Kenapa?"

"Nggak ada yang ngelus kepala gue."

Ayla tergelak mendengar ucapan Calvin, memang biasanya ia harus mengelus kepala suaminya itu sebelum tidur.

"Tidur Calvin, udah malem."

"Nggak bisa."

"Itu matanya ditutup. Aku matiin, ya, biar kamu bisa istirahat."

Calvin menggeleng cepat.

"Kiss dulu."

"Hah?" beo Ayla tak paham maksud suaminya.

"Kiss me, now!"

"Good night." Ayla mendekatkan bibirnya pada ponsel, memberikan kecupan di sana.

Ah, Calvin meleleh kali ini.

"Tunggu, Yang."

Ayla hendak mematikan sambunganya urung ketika Calvin memanggilnya. "Kenapa?"

"Ada yang ketinggalan."

"Apa?"

Calvin memasukkan tangan ke dalam saku baju, mengeluarkannya menyatukan jari jempol dan telunjuk. "Sarangheo."

Ayla tertawa pelan, ada-ada saja tingkah suaminya ini. Menyadari kebodohanya, Calvin langsung mematikan sambunganya sepihak.

"Gila! Gue ngapain, sih?" gumam Calvin merutuki kebodohannya sendiri.

**





My Sweet Calvin [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang