Duo sejoli itu kini sudah disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Ayla yang sibuk dengan kuliah dan Calvin yang kembali sibuk dengan latihan.
"Jangan lupa makan, nggak usah nunggu gue pulang. Tidur langsung di kamar."
"Iya."
Ayla menjawab wejangan-wejangan dari Calvin, lalu mencium punggung tangan suaminya. Mereka kini berada di mobil Jeep milik Calvin. Rutinitas pagi Calvin sebelum berangkat latihan, yaitu mengantar istrinya itu ke kampus.
Calvin mencium kening Ayla sekilas, mengusap kepala Ayla lembut. Meskipun sudah menikah satu bulan lebih, Ayla belum menunjukkan mahkotanya itu pada Calvin. Calvin bilang kalau belum siap jangan dipaksa, pria itu bisa memakluminya.
"Uang masih?"
"Masih," jawab Ayla cepat.
Ayla tak mau Calvin kembali memberinya uang jajan yang fantastis. Apalagi, jika pria itu memberinya uang harus habis hari itu juga, Ayla kan jadi bingung harus menggunakanya untuk apa.
"Pulang jam berapa?"
"Belum tau, soalnya nanti mau ada bimbingan."
Calvin mengangguk, "Kalau pulang kabarin, nanti gue jemput."
"Nggak usah, nanti aku pulang sendiri. Kamu fokus sama latihan aja."
"Pulang naik apa?"
"Naik ang—"
Ayla mengatupkan bibirnya ketika mendapat pelototan tajam dari Calvin.
"Naik taksi, kok," ucap Ayla cepat.
Gadis dengan balutan cadar berwarna navy itu, lalu buru-buru turun dari mobil.
"Hati-hati, ya. Makasih udah dianterin," Ayla melambaikan tangan.
Ayla kemudian berlari meninggalkan Calvin, membuat Calvin mengekeh. Sebegitu menakutkankah dirinya sampai Ayla takut padanya? Calvin memutar Jeep-nya menuju tempat latihan, tadi ia sudah menyuruh Aaron mengambil motor miliknya di apartemen.
***
Calvin tersentak ketika Aaron tiba-tiba menghampirinya dengan wajah panik. Jam menunjukkan pukul 8.00 malam, masih tersisa dua jam lagi untuk latihan terakhirnya.
"Bini lo, Bos," teriak Aaron heboh.
Pria itu menepuk bahu Calvin, mencoba memberi tahu sesuatu.
"Apa?" tanya Calvin santai.
"Bini lo, Ayla, dia kecelakaan."
"Hah?" Calvin bangkit dari duduknya.
Ikut panik, lalu meraih ponsel yang ia letakkan di meja kecil di sana. Sial, ponselnya mati karena lupa ia charger.
"Aunty barusan telepon gue, katanya lo nggak bisa dihubungin," ucap Aaron mencoba menjelaskan.
"Sekarang Ayla di mana?"
"Di rumah sakit punya Uncle."
Calvin langsung menyambar jaketnya, menaiki motor sport-nya dengan kecepatan tinggi.
Kenapa ini? Tadi pagi Calvin masih mengantar Ayla ke kampus. Namun, kenapa sekarang bisa kecelakaan? Apalagi, Ayla baru saja sembuh dari sakitnya.
Calvin terus menancap gas motornya, tak peduli umpatan dan sumpah serapah orang orang yang ia langgar. Pikiranya hanya tertuju pada satu nama, Ayla.
Tiba di rumah sakit, Calvin langsung berlari menyusuri lorong. Sial, Calvin melupakan sesuatu, ia tidak tahu ruangan Ayla. Calvin hendak menuju ke resepsionis menanyakan ruangan Ayla, tapi telinganya mendengar tangisan seseorang yang tak asing baginya. Calvin menoleh, matanya melebar ketika melihat Vei menangis dalam dekapan Marc.
Perasaan tak enak langsung menyerbu Calvin, pria itu segera berlari ke arah Vei.
"Mom," panggil Calvin lirih.
Vei menggeleng lalu beralih memeluk putranya. "Ayla ... dia---"
Calvin menghempas pelan tubuh Vei yang menangis, bergerak cepat membuka pintu yang ia yakini bahwa Ayla ada di dalam sana.
Mata Calvin langsung melebar ketika hanya ada sebuah brankar dan seseorang yang terbaring di sana dengan kain putih menutupi seluruh tubuhnya.
"Nggak," geleng Calvin cepat.
Pria itu berlari menuju brankar, dengan tangan bergetar, Calvin membuka penutup kain tadi. Seketika wajah pucat Ayla langsung terpampang, Calvin menggeleng cepat.
"Nggak, ini nggak mungkin."
Pria itu baru menyadari ada bercak merah di kain penutup itu.
Darah apa? Calvin menguncang bahu Ayla pelan.
"Ay ... Aylaa. Bangun, nggak usah bercanda! Bangun atau gue marah sama lo," ucap Calvin masih menguncang bahu Ayla.
"AYLA!" teriaknya.
Vei dan Marc yang mendengar teriakan putranya, langsung masuk ke ruangan. Vei mengusap pelan punggung tegap putranya, membawa Calvin ke dalam pelukannya meskipun Vei sendiri masih sesenggukan.
"Ikhlasin Ayla, ya, Sayang," ucap Vei menangkup pipi putranya.
Calvin menggeleng cepat, air mata sudah membasahi pipinya. Pria itu menangis tanpa suara. "Nggak ini nggak mungkin kan Mom? ini pasti mimpi, kan? Ayla baik-baik aja, kan?" tanya Calvin beruntun.
Calvin berharap Vei mengangguk dan mengatakan ini hanya mimpi. Namun, wanita paruh baya itu justru menggeleng, membuat pertahanan Calvin runtuh. Pria itu melepas dekapan Mommy-nya, beralih mendekap tubuh Ayla erat.
Kenapa disaat dirinya sudah bisa menerima Ayla, justru hal semacam ini terjadi. Dia tidak rela kehilangan Aylanya bahkan pria itu belum mengungkapkan perasaannya pada Ayla.
"Bangun ...."
"Jangan tinggalin gue."
"Gue banyak salah sama lo? Oke, gue ngaku. Gue minta maaf, sekarang bangun, Ay."
"Gue cinta sama lo, bangun please."
"Becandanya nggak lucu, Ay."
Calvin menegakkan dirinya, menghapus kasar air mata yang tanpa disuruh meluncur begitu saja.
"Gue hitung sampai tiga. Kalau lo nggak bangun, gue bakal marah."
"Satu—"
"Dua—"
"Dua setengah—"
Percuma, tidak ada tanda-tanda Ayla akan bangun.
"AYLA!" Pria itu kembali berteriak memeluk tubuh Ayla erat.
"Ikhlasin Ayla, ya," ucap Vei.
"Nggak! Ayla nggak boleh tinggalin Calvin!" bentak Calvin.
Marc dan Vei yang mendengar bentakan putranya terkejut, baru kali ini mereka melihat Calvin serapuh ini.
"Permisi, jenazah harus segera dipindahkan," ucap seorang suster yang baru masuk.
Calvin mengepalkan tangannya. "Nggak. Nggak boleh ada yang bawa Ayla!" bentaknya.
Suster tadi menunduk takut, apalagi mendapat tatapan membunuh dari Calvin.
"Calvin," panggil Marc.
"No, Dad," sahut Calvin cepat.
Pandangannya kembali beralih pada Ayla yang tak bergerak sedikit pun. Air mata itu kembali meluncur melewati hidung mancungnya. Dia masih tak percaya jika Ayla akan meninggalkannya secepat ini.
"Gue suruh lo tidur di kamar, Ay. Kamar kita, bukan di sini. Gue suruh lo tidur buat istirahat, bukan buat pergi. Lo mau apa dari gue? Lo mau makan nasi goreng buatan gue, kan? Gue bakal buatin, asal lo bangun, ya. Bangun, Ay."
Calvin menangis, mendekap tubuh Ayla erat yang tak menjawab ucapannya sama sekali.
Tangan pria itu bergerak mengelus pipi Ayla yang terasa dingin. Siapa pun, tolong katakan pada Calvin bahwa ini hanyalah mimpi. Calvin tidak sanggup jika harus kehilangan istrinya secepat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Roman pour AdolescentsNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)