4. Apartemen

276K 27K 704
                                        

Setelah acara selesai, mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Calvin lebih memilih membawa Ayla ke apartemen lamanya. Apartemen pemberian Marc yang sudah lama tidak Calvin tempati karena dirinya yang sibuk mengikuti perlombaan di Spanyol. Kalau ditanya kenapa Calvin tidak memilih tinggal di mansion orang tuanya yang jauh lebih besar?

Jawabanya malas.

Pasti akan ribet jika ia ingin keluar, selalu ditanya ini itu oleh Vei. Calvin menyeret kopernya ke salah satu pintu yang tertutup, kamar Calvin waktu itu. Di depan ruangan tadi terdapat sebuah pintu untuk kamar tamu. Ayla mengekori Calvin dari belakang, kemudian berhenti di hadapan pria yang sekarang menyandang status suaminya.

"Itu kamar lo," ucap Calvin singkat sambil menunjuk pintu di sebelahnya.

Pria dengan jaket yang tersampir di bahu itu, kemudian masuk ke kamar miliknya. Meninggalkan Ayla yang masih mematung ditempat. Tersenyum singkat di balik balutan cadar, Ayla mencoba membuka pintu, tapi dikunci, Ayla jadi bingung sekarang.

Mencoba memberanikan diri, Ayla mengetuk pintu kamar Calvin, Calvin yang baru saja merebahkan dirinya berdecak malas.

"Apa?" tanya Calvin ketus.

"Pintunya dikunci."

"Terus?"

"Aku tidur di mana?"

Calvin berjalan menuju pintu di hadapannya, benarkah dikunci? Selama ini, Calvin tidak pernah mengunci pintu itu. Oh, sekarang Calvin tahu ini pasti rencana mommy-nya. Calvin mengacak rambutnya pelan.

"Terserah lo, lah, mau tidur di mana! Yang penting, jangan ganggu gue!" sentak Calvin, lalu kembali ke kamar, menutup pintu itu rapat.

Ayla tersenyum masam ia harus terbiasa dengan sikap Calvin, mau bagaimanapun Calvin adalah suaminya. Perlahan Ayla menyeret koper menuju sofa, duduk di sana memandangi apartemen yang cukup luas itu.

Sangat mewah untuk dikatakan sebuah apartemen. Ayla mengembuskan napas pelan, sekarang apa yang harus ia lakukan? Ingin bersih-bersih, tapi apartemen ini sudah bersih. Sebuah ide muncul, Ayla akan masak saja untuk makan siang nanti.

Menuju dapur, Ayla dibuat kagum ketika membuka kulkas, di sana sudah terdapat bahan makanan yang sangat lengkap. Mulai dari sayur, sosis, ikan, ayam, semuanya ada di sana. Tak sampai di situ, keterkejutan Ayla bertambah ketika di deretan minuman terdapat alkohol yang masih disegel, apakah Calvin pemabuk?

Mencoba mengusir pikirannya, Ayla memilih mengambil beberapa sayur dan mulai memasak.

Setelah sekian lama berkutat dengan bahan-bahan, akhirnya masakan Ayla selesai. Wanita itu tersenyum senang melihat masakannya di meja. Ayla hendak memanggil Calvin untuk makan, tapi ternyata pria itu sudah datang dan menarik kursi di sebelahnya. Dengan muka khas orang bangun tidur Calvin duduk di sana.

Ayla yang peka langsung menuangkan air putih untuk Calvin. Karena masih mengantuk, Calvin mengucek matanya berkali kali. Namun, tangan halus seseorang menghalanginya.

"Jangan dikucek, nanti matanya merah."

Lagi dan lagi, Calvin dibuat terbuai dengan suara lembut Ayla. Pria itu hanya berdeham menanggapi ucapan Ayla barusan.

Setelah tadi sempat berpikir dan membuat otaknya kelelahan, Calvin mencoba untuk mulai menerima Ayla. Mau bagaimanapun Ayla kini sudah menjadi istrinya, dan bagi Calvin pernikahan bukanlah mainan dan ucapan belaka. Namun, itu adalah sebuah perjanjian seseorang dengan pencipta.

Walaupun Calvin sendiri tidak yakin apakah ia bisa membuka hati untuk Ayla. Karena, biar kukatakan sekali lagi bahwa Ayla sangat jauh dari tipe Calvin. Tapi, apa salahnya mencoba?

Ayla mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Calvin, hendak pergi dari sana, tapi suara Calvin mengintruksinya.

"Mau ke mana?"

"Aku mau beresin yang lain."

"Makan, gue tau lo laper."

Mengangguk, Ayla tak berani membantah ucapan suaminya. Ayla mengambil nasi dan lauk untuk dirinya, kemudian duduk saling berhadapan dengan Calvin. Gadis itu bersiap melepas cadar karena bagi Ayla makan dengan cadar agak repot. Sekarang, Calvin adalah suaminya jadi tak masalahkan melepas cadar di depan sang suami?

Gerak-gerik Ayla tak luput dari ekor mata Calvin, pria itu tiba-tiba tersedak makanan yang belum sempat ia telan ketika Ayla membuka cadar di hadapannya. Sontak Ayla langsung bangun dan memberikan segelas air pada Calvin.

"Pelan-pelan makannya."

"Ay-la?"

Untuk pertama kalinya Calvin memanggil nama Ayla dengan terbata.

"Ya?"

Calvin menggeleng, kemudian berdiri dari duduknya. "Gue udah selesai," ujarnya, lalu berlalu dari dapur.

Ayla dibuat bingung dengan tingkah Calvin barusan, apa ada yang salah dengan dirinya? Atau mungkin ada yang salah dengan wajahnya? Ayla jadi bingung sendiri.

***

"Gue mau keluar sebentar."

Ayla yang sedang mencuci piring menoleh ke arah Calvin yang sedang memakai sepatu. Buru-buru membersihkan tangan dari busa sabun dan menghampiri Calvin. "Mau kemana?"

Calvin mendongak dan ....Astaga, kenapa nggak pakai cadar, sih? batin Calvin.

Biar aku beri tahu, Calvin sangat terpesona dengan wajah Ayla. Wajah putih bersih tanpa olesan make up apa pun, sangat natural, tapi Calvin suka dan itu pula yang membuat jantung Calvin kembali berdisko persis ketika ia melihat wajah Ayla untuk pertama kalinya di dapur tadi.

"Ke rumah Aaron," jawab Calvin sambil menunduk untuk mengikat tali sepatu.

Ayla mengangguk. Calvin mengambil jaket yang tadi ia sampirkan di sofa, memakainya menutupi kaos hitam polosnya. Jaket denim, celana Levis dan sneakers. Perfect. Calvin siap pergi sekarang.

Ayla mendekat, mengambil tangan Calvin, mencium punggung tangan pria itu. "Hati hati, ya."

Entah, refleks atau apa Calvin mengusap kepala Ayla yang terbalut jilbab.

"Gue berangkat," ucap Calvin kaku setelah menyadari kebodohannya barusan.

Ayla tersenyum manis membuat Calvin meleleh. Ah, ayo, cepat pergi dari sini Calvin, tak baik untuk kesehatan jantungmu, batin Calvin, lalu segera pergi menuju rumah Aaron.



**

My Sweet Calvin [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang