14. Hospital

236K 22K 197
                                        

Happy Reading
***

Calvin mengenggam tangan Ayla yang terasa dingin. Mata indah gadis itu masih terpejam. Waktu menunjukkan pukul 2.00 pagi, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Ayla akan bangun.

“Kenapa bisa gini?” gumam Calvin.

Tangan pria itu mengusap pipi Ayla lembut.

“Jangan buat gue khawatir, Ay.”

Calvin mengecup kening Ayla singkat.
“Cepet sembuh.”

***

Bulu mata lentik itu bergerak, menandakan pemiliknya akan membuka mata. Ayla mengerjapkan mata pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Mengedarkan pandangan, Ayla mengernyit bingung. Ini bukan kamarnya, Ayla merasa seseorang menggenggam tangannya. Sedikit menunduk, pandangan Ayla langsung jatuh pada wajah damai Calvin yang kini terlelap.

Pria itu menggenggam tangan Ayla dengan posisi tidur, duduk di kursi samping brankar. Dengkuran halus keluar dari mulut Calvin, membuat Ayla mengulas senyum tipis. Ayla mencoba duduk, tapi perutnya tiba-tiba terasa sakit. Ayla mendesis pelan memegangi perut. Calvin yang mendengar suara pun terbangun. Pria itu dibuat terkejut ketika melihat Ayla sudah bangun dan memegangi perut kesakitan.

“Ay, are you oke?”

Ayla menggeleng dengan terus memegangi perut. Rasanya sakit sekali. Calvin menekan bel di samping brankar tak sabaran. Pria itu bergerak cepat membenamkan kepala Ayla di dada bidang miliknya.

It’s oke, gue ada di sini,” ucap Calvin mencoba menenangkan.

Seorang dokter wanita dengan name tag Ratih memasuki ruangan diikuti salah seorang suster di belakangnya.

Dokter Ratih segera memeriksa keadaan Ayla dan memberikan suntikan untuk meredakan rasa sakit.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya sakit magnya kambuh. Saya sarankan untuk minum air putih yang banyak dan menjaga pola makan.”

“Saya boleh pulang, kan, Dok?” tanya Ayla hati-hati.

“Untuk pemulihan, sebaiknya dirawat selama satu hari. Tapi, jika pasien ingin pulang, kita tunggu sampai nanti sore apakah keadaannya memungkinkan.”

Ayla mengangguk mengerti.

“Kalau begitu saya pamit keluar. Kalau ada apa-apa, silakan tekan belnya.”

Keduanya mengangguk. “Makasih, Dok,” ucap Ayla lagi.

Dokter Ratih tersenyum ramah, lalu keluar dari ruangan.

Calvin mengembuskan napas lega, mengambil segelas air yang sudah tersedia di atas nakas. “Minum.”

Ayla menerima air tadi, lalu meminumnya setengah.

“Kenapa bisa kambuh?” tanya Calvin yang kini duduk di pinggir brankar.

“Nggak tahu,” jawab Ayla pelan.

“Sakit mag kambuh biasanya orang yang sakit telat makan. Kenapa bisa telat makan?” tanya Calvin dengan tatapan tanpa ekspresi.

My Sweet Calvin [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang