15. Sepiring berdua

235K 20.9K 209
                                        

"Udah, diem di sini."

"Tapi, aku mau masak."

Calvin mengembuskan napas berat, istrinya ini ternyata juga keras kepala sama seperti dirinya. Seperti kata dokter tadi, jika kondisinya memungkinkan Ayla sudah boleh pulang. Namun, lihatlah sekarang, Ayla setelah sampai rumah bukannya istirahat melainkan bersikeras untuk memasak. Calvin kembali menaikkan kaki Ayla yang tadi diturunkan dari ranjang oleh Ayla.

"Diem di sini," perintah Calvin tegas.

"Tapi-"

"Nggak ada tapi-tapian. Gue bisa pesen makanan."

Pria itu mengeluarkan ponsel dari sling bag yang digendongnya. Mereka itu baru saja pulang, Calvin membawa Ayla ke kamar agar istirahat. Namun, istrinya itu ngotot ingin masak di dapur.

"Pesan gituan, kan, mahal," ucap Ayla memanyunkan bibir.

"Gue orang kaya," jawab Calvin enteng tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Sombong amat," gerutu Ayla.

"Gue denger, ya."

Ayla tersentak. Padahal, tadi ia berbicara sangat pelan, tapi kenapa Calvin bisa mendengarnya?

"Lo mau makan apa?"

Calvin menoleh sekilas pada Ayla yang menekuk wajah, sepertinya istrinya itu sedang kesal.

"Tahu nggak, kalau pesan gituan, biasanya nggak sehat. Kita juga nggak tahu penjual itu masaknya gimana," sahut Ayla mencoba berkompromi agar dirinya dibolehkan masak.

Calvin menghentikan aktivitas mengulir layar ponselnya. Benar juga kata Ayla, lagi pula Ayla masih sakit. Bagaimana jika makanan yang dimakan justru membuat istrinya makin sakit? Calvin mematikan ponsel, lalu meletakkan di nakas, melepas sling bag-nya dan meletakkan di ranjang.

"Kan, biar aku yang masak, ya," ucap Ayla semringah. Kakinya hendak turun, tapi kembali ditahan Calvin.

"Diem nggak!"

Calvin melepas kemeja kotak-kotaknya, menyisakan kaus berwarna putih. Melempar asal kemeja tadi dan berhasil masuk ke keranjang pakaian kotor.

"Biar gue yang masak, lo diem di sini."

"Tapi-"

"Nurut bisa?" ucap Calvin penuh penekanan.

Ayla berdecak, gagal sudah rencananya masak hari ini. Ayla sudah sehat kok, karena Calvin merawatnya dengan baik tadi. Hanya saja perut Ayla akan mual jika makan makanan berat.

"Emang bisa masak?"

"Bisalah," jawab Calvin tak santai.

Pria itu pergi meninggalkan Ayla yang menggerutu di atas ranjang.

"Ikut ke dapur yaa," ucap Ayla membuat Calvin menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Nggak lo disitu aja istirahat."

Calvin hendak menutup pintu kamar, sebelum benar-benar menutup pintu, pria itu kembali berucap.

"Diem disitu atau gue marah?!"

Ayla yang baru memutar badan untuk turun dari ranjang menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh ke belakang dimana suaminya itu menatap dirinya tanpa ekspresi. Ayla tersenyum lebar, menampilkan gigi gingsulnya.

"Iya," jawabnya malas. Ayla memilih menarik selimut, bersiap tidur.

***

Calvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung sekarang, apa yang harus ia masak? Sebenarnya, pria itu bohong tadi. Mana mungkin, seorang Calvin yang notabene masuk dapur hanya untuk mengambil minum bisa masak.

My Sweet Calvin [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang