Kali ini, Ayla sedang berada di pondok pesantren. Hari ini, ia tidak ada jadwal kuliah jadi Ayla memutuskan untuk pergi ke pondok. Wanita bertubuh semampai dengan balutan gamis dan cadar berwarna biru itu kini sedang mengajar murid-murid pondoknya.
Mereka berada di pendopo pondok pesantren. Ayla mengajar murid kecil dengan kisaran umur 7—12 tahun. Karena Ayla sudah lama tidak datang ke sini dan muridnya juga sudah sangat rindu dengan gurunya yang lembut dan terkenal penyabar itu, maka kali ini santriwan dan santriwati dijadikan satu.
Tenang, masih ada batasan, kok. Murid perempuan di sebelah kanan dan murid laki-laki di sebelah kiri dengan sebuah papan sebagai pembatas.
Seorang laki-laki dengan balutan hoodie hitam, topi senada dan masker yang menutupi wajahnya duduk bersama barisan santri laki-laki. Sesekali menyunggingkan senyum ketika melihat wanita di depan sana yang kini sibuk dengan papan tulis dan spidol.
"Kak Ayla, kenapa kita nggak boleh pacaran?"
Ayla yang tadi fokus dengan papan tulis dan spidol pun menoleh. Ayla tersenyum lembut dalam balutan cadarnya.
"Siapa bilang? Boleh, kok. Asal pacar halal," lanjutnya.
Ayla mendekati gadis tadi, menoel hidung gadis itu yang menampilkan kini tersenyum maniss.
"Pacar halal itu apa, Kak?" tanya salah seorang santri laki-laki mengangkat tangan.
"Pacar halal itu. pacaran setelah menikah. Jadi kalau belum menikah bukan pacar halal namanya, tapi pacar haram," jelas Ayla.
"Paham, kan?"
Semua santri mengangguk.
"Jadi, kalau belum menikah, nggak boleh pacaran, ya, Kak?"
Ayla mengangguk, membenarkan ucapan santrinya.
"Kak Ayla, Kak Ayla udah punya pacar halal belum?" celetuk salah satu santri laki-laki.
"Memangnya, kenapa?"
"Mau memantaskan diri," jawabnya.
Seluruh santri laki-laki dan perempuan menyorakinya, sementara Ayla sudah tertawa dibalik cadarnya. Apa-apaan muridnya ini, bahkan santrinya itu baru berumur 12 tahun kenapa bisa berkata seperti itu?
Ayla menggeleng pelan. "Oke, kita lanjut ke materi, ya."
Perempuan itu kembali mengajar, temanya kali ini, yaitu tentang ilmu tajwid.
"Nah, kalau ada nun mati ketemu jim namanya ikhfa," Ayla mencoba menjelaskan dan menulis di papan tulis.
"Kak Ayla."
Ayla kembali menoleh ketika santri yang tadi menggombalinya memanggilnya.
"Ya?" tanya Ayla lembut.
"Kalau nun mati ketemu jim, kan, disebut Ikhfa."
Ayla mengangguk menunggu ucapan selanjutnya yang akan keluar dari mulut santrinya itu.
"Kalau aku ketemu Kak Ayla disebutnya cinta."
"Huuu ...." Semua santri dan santriwati kembali menyorakinya.
Pria dengan topi dan masker hitam tadi hanya diam, menyaksikan wanita di depannya. Tepukan di pahanya membuat pria tadi menoleh.
"Kakak siapa?" tanya bocah laki laki yang sepertinya baru berumur 7 tahun.
Pria tadi menempelkan jari telunjuknya di depan hidung yang tertutupi masker, mengisyaratkan agar bocah tadi diam.
"Maling, ya?" tanyanya.
Pria tadi menggeleng cepat, sementara bocah tadi langsung berdiri dan melepas paksa masker dan topi pria di sampingnya. Matanya mengerjap tak percaya ketika melihat pria yang kini berada di hadapannya.
"KAK CALVIN!" teriaknya heboh, dan langsung menubruk tubuh jangkung di hadapannya.
Calvin yang belum siap pun dibuat terjungkal ke belakang dengan bocah laki-laki tadi berada di atasnya, memeluk tubuh Calvin erat membuat Calvin sedikit meringis karena mengenai perutnya yang terluka.
Semua orang yang berada di pendopo menoleh ketika ada orang yang berteriak. Mereka mulai mengerubungi Calvin dan bocah tadi.
"Ya Allah, Kak Calvin, ini beneran, kan? Aku nggak mimpi, kan? Aku nge-fans banget sama Kakak," ucapnya masih memeluk Calvin.
Ayla yang melihat suaminya, membelalakkan mata. Ayla tidak tahu jika Calvin akan pulang hari ini.
"Calvin?" panggil Ayla.
Calvin mendongak ke arah Ayla. "Tolongin, Ay."
Seakan tersadar dari lamunanya Ayla langsung berjongkok, mencoba memisah salah seorang santrinya yang daritadi memeluk Calvin.
"Arham, lepas, ya. Kakaknya kesakitan tuh," ucap Ayla pada santri tadi. Yang ternyata, bernama Arham.
Arham mendongak ke arah Calvin. "Kakak, sakit?" tanyanya polos.
"Sakitlah goblok, pake nanya," tidak Calvin mengatakan itu dalam hati, kok.
Calvin mengangguk pelan, membuat Arham langsung turun dari badan Calvin. Calvin mengembuskan napas lega. Pria itu mengulurkan tangan kepada Ayla agar membantunya berdiri. Ayla langsung menyambut uluran Calvin. Namun, memang dasarnya badan Calvin yang berat Ayla tak sanggup menarik suaminya itu. Dirinya justru tertarik ke bawah dan jatuh di atas tubuh Calvin. Ayla membelalakkan mata terkejut, sementara Calvin hanya menampilkan wajah biasanya.
"Cie!" teriak seluruh santri.
Ayla langsung bangkit, gadis itu menunduk malu. Ayla menatap Calvin mengisyaratkan agar suaminya itu segera berdiri. Calvin bangkit, memungut topi dan maskernya yang tergeletak begitu saja.
"Sekarang, kembali ke tempat duduk masing-masing, ya," perintah Ayla yang langsung dituruti para santri.
Calvin berdiri di samping Ayla, merangkul pinggang istrinya itu lembut, membisikkan sesuatu pada Ayla, "Miss you, Khumaira."
**
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Teen FictionNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)