Happy Reading
**
Sudah terhitung tiga hari hubungan Calvin dan Ayla sedikit merenggang. Calvin yang kembali bersikap dingin seperti awal ketika baru menikah. Permasalahanya? Entah kenapa, Calvin merasa tidak suka jika Ayla tertawa dengan orang lain. Terlihat kekanak-kanakan, tapi itulah Calvin.
Satu lagi sikap Calvin yang harus kalian tahu, pria itu memiliki gengsi yang sangat tinggi. Untuk mengakui jika dirinya cemburu saja pria itu tidak mau.
Hari ini tepat perlombaan motor cross dilaksanakan. Calvin sudah siap dengan motor cross kesayangannya, membelah ibu kota menuju area pertandingan.
Aaron melambaikan tangan ke arah Calvin yang langsung dihampiri pria itu. Lihat, dengan Aaron, sang dalang masalah saja Calvin sudah berdamai. Namun, dengan Ayla, Calvin belum bisa. Gengsinya terlalu besar. Jika biasanya cewek selalu benar, tapi di sini kebalikannya, Calvin Aldeguer yang akan selalu benar.
“Udah ready semua, lo langsung masuk ke arena.”
Calvin mengangguk. Sebenarnya, masih ada rasa kesal pada Aaron, tapi mau bagaimana lagi, pria itu yang mengurus segala urusan perlombaannya. Calvin langsung memasuki arena balapan, persis sesuai instruksi Aaron. Tatapan tajam, dingin, tak tersentuh kembali ia hadirkan. Padahal, sifatnya itu dulu mulai sirna ketika bersama Ayla, tapi sekarang kumat lagi.
Calvin menoleh ketika seseorang menepuk bahunya. Matanya sedikit melebar ketika tahu siapa sang pelaku.
“Long time no see, Calvin Aldeguer,” ucap pria tadi dengan senyum sinis.
Shit, Bara Satria.
Orang sama yang menyebabkan Calvin harus rehat dari sirkuit selama satu bulan. Bagaimana orang ini bisa kembali lagi?
“Well, gue pastiin gue yang bakal menang kali ini,” lanjutnya.
“In your dream!” balas Calvin sengit.
Keduanya saling menatap penuh permusuhan. Pertandingan segera dimulai, semua peserta siap dengan motor masing-masing. Bendera dikibarkan, motor melesat membelah tanah kering itu, debu beterbangan membuat suasana semakin meriah.
Aaron yang melihat performa Calvin awalnya santai, temannya itu selalu memimpin di setiap pertandingan. Namun, Aaron seketika menyipitkan mata ketika motor cross dengan nomor 1 mendekati Calvin. Aaron terperangah karena rider itu berhasil menyalip Calvin.
“Sial.”
Calvin segera menambah kecepatan motor cross-nya. Namun, harus Calvin akui bahwa tidak begitu mahir dengan motor cross karena biasanya Calvin selalu menunggangi motor sport.
Gemuruh suara tepuk tangan terdengar ketika dua rider sudah mendekati garis finish. Motor bernomor 54 milik Calvin dan No 1 milik Bara. Para penonton dibuat berdebar karena jarak keduanya yang begitu dekat, siapa yang akan memenangkan perlombaan kali ini?
Para penonton semakin berteriak heboh, ketika motor nomor 1 lebih dulu memasuki finish. Hanya per sekian detik berikutnya, Calvin menyusul Bara menuju garis finish.
“Sialan!” umpat Calvin kesal memukul stang motornya.
“See, gue pemenangnya,” ucap Bara sombong.
Calvin menatap Bara tajam, kembali menghidupkan motornya keluar dari arena menghampiri Aaron yang sudah menunggunya.
“Not bad untuk pemula,” ucap Aaron mencoba menghibur temannya.
Calvin menatap Aaron sinis. Pemula katanya.
“Urus semuanya,” ucap Calvin dingin, lalu melesat pergi.
Meninggalkan Aaron yang bingung. Maksud Aaron tadi, itu cukup bagus untuk Calvin yang mempelajari motor cross selama satu minggu. Dia berhasil mendapat juara dua, apa itu tidak cukup? Begitu maksud Aaron tadi, tapi sepertinya Calvin salah mengartikan Aaron barusan.
Calvin membawa motornya tidak tentu arah, intinya laki-laki itu sedang kesal. Beralih pergi ke tempat latihan motor cross, Calvin meluapkan emosinya di sana. Mengendarai motor cross-nya dengan kecepatan penuh, Calvin lebih memilih melakukanya di tempatnya latihan. Karena jika terjadi kecelakaan atau hal yang tak diinginkan ia sendiri yang akan merasakan.
Calvin tidak mau merugikan orang lain karena emosinya. Giginya terus bergemelutuk di balik helm full face-nya, matanya semakin menajam seiring bertambah kecepatan motornya. Dalam hatinya terus mengeluarkan umpatan untuk dirinya sendiri.
Payah!
Tolol!
Goblok lo, gitu aja kalah!
Begitulah umpatan yang Calvin keluarkan untuk dirinya sendiri. Aneh memang. Namun, Calvin tidak mau dan tidak pernah mau menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Setelah dirasa emosinya stabil, Calvin memutar motornya untuk kembali ke apartemen.
***
Setibanya di apartemen, Calvin membanting dirinya di sofa, mengacak rambutnya frustrasi.
“Argh!” teriaknya.
Calvin paling benci dengan kekalahan. Pria itu bangkit menuju dapur, membuka kulkas dan menemukan alkohol yang belum ia cicip sama sekali setelah pulang dari Spanyol. Tidak tanggung-tanggung, tiga botol minuman alkohol Calvin bawa ke sofa untuk ditenggaknya. Gelas demi gelas Calvin habiskan, botol demi botol kini sudah mulai habis. Kini hanya tersisa setengah dari botol terakhir.
Pria itu sudah tidak tahan dengan kepalanya yang semakin berat. Calvin kehilangan kesadaran. Sebelum pingsan, terdengar umpatan kecil dari mulut Calvin.
“Bara sialan.”
***
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Teen FictionNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)