26. Win

171K 16.4K 163
                                        

Hari yang ditunggu tiba, Calvin sudah berada di atas motor hijau kesayangannya. Bersiap untuk memenangkan perlombaan kali ini. Di sebelahnya, Aaron memayungi Calvin, bukan sebagai babu, tapi sebagai tim pria itu. Kali ini mode serius, Aaron tidak ingin bercanda dulu saat ini.

"Santai aja seperti biasa," ucap Aaron menenangkan.

Calvin mengembuskan napas perlahan, berusaha menghilangkan rasa grogi pada dirinya.

"Jangan pikirin menang atau kalah. Yang penting focus." Kembali Aaron memberikan pepatah dua patahnya.

Calvin mengangguk singkat, pengumuman pertandingan akan segera dimulai. Aaron lalu meninggalkan area menuju camp, tempat tim lainya berkumpul.
Calvin menatap lurus jalanan aspal di depanya. Tak mau menoleh ke kanan kiri hanya untuk melihat lawannya kali ini. Karena bagi Calvin, lawannya adalah diri sendiri, ia harus bisa menguasai dirinya agar tidak terjadi crash nanti. Meskipun dalam benaknya terpikir satu nama, Rizan Fernandez. Musuh beratnya kali ini.

Pertandingan dimulai, semua rider langsung memelesatkan kuda besinya masing-masing. Kira-kira mereka harus menyelesaikan 20 putaran untuk memenangkan perlombaan kali ini. Suasana riuh di tribun penonton, ditambah suara komentator yang menggebu membuat pertandingan makin menarik.

Calvin terus melajukan motor hijaunya tak mau menoleh ke mana pun, tatapannya fokus ke depan. Kali ini pria dengan motor hijau bernomer 45 itu memimpin pertandingan. Tak mau lengah, Calvin terus menambah kecepatan motornya. Calvin melirik motor di sampingnya yang mencoba melakukan manuver untuk merebut posisinya, motor warna orange bertulis 30 dia, Rizan Fernandez.

Pertarungan sengit tersaji antara Calvin dan Rizan. Kedua pembalab itu saling 'menyerang' untuk memperebutkan posisi pertama. Calvin kembali berhasil memimpin posisi utama, pria itu makin menggila setelah berhasil melewati Rizan.

Empat lap tersisa, Calvin sepertinya akan memenangkan balapan kali ini. Pria itu unggul 2,4 detik dari rival terdekatnya, siapa lagi kalau bukan Rizan. Hingga balapan usai, posisi Calvin di tempat pertama tak terkalahkan. Sementara itu, posisi tiga besar diisi oleh Rizan dan satu pembalap lain asal Argentina, Johan Alexis.

Calvin mengepalkan tangan di udara setelah berhasil melewati finis. Selebrasi emosional Calvin tunjukkan membuat penonton yang menyaksikan pertandingan berteriak heboh. Calvin turun dari motor, memeluk semua team yang sudah menyambut kemenangannya.

"Sialan, gue menang, Ron," ujar Calvin memeluk tubuh Aaron.

"Alhamdulillah, woi. Kenapa jadi sialan?" sahut Aaron heran.

Calvin mengurai pelukannya, menatap Aaron sebentar. "Iya, itu maksud gue," celetuk Calvin membuat Aaron memutar bola mata malas.

Ketiga pemenang naik ke podium untuk menerima tropi. Tepukan di bahunya membuat Calvin menoleh.

"Congratulation, Mr.Aldeguer," ucap Rizan lalu mengajak Calvin ber-high five.

Calvin merangkul bahu Rizan, menepuk pelan punggung pria itu.

"Nice race, right?"

"Of course."

Keduanya menerima tropi yang diberikan, berfoto sebagai dokumentasi, kemudian kembali merayakan kemenangan dengan tim masing-masing.

***

Harusnya mereka kembali menginap di apartemen selama satu atau dua hari untuk membereskan barang-barang atau hanya sekadar istirahat untuk memulihkan tenaga. Namun, Calvin ngotot untuk pulang ke Indonesia langsung. Aaron tidak bisa menolak, pria itu sudah cukup lelah jika harus kembali berdebat dengan Calvin.

Keduanya kini menaiki mobil khusus yang telah dikirim Marc untuk mereka. Pergi menuju ke bandara, tenang kali ini mereka tidak akan naik pesawat karena Marc sudah mengembalikan jet milik putranya itu.

**

My Sweet Calvin [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang