"Dia siapa Nil?" tanya orang itu tak henti-hentinya menatap wajah Clara.
"Adiknya kak Danil," kata seseorang tiba-tiba. Mereka serentak langsung melirik ke arah sumber suara dan mendapati seorang wanita dengan tubuh yang ideal sedang menatap wajah Clara. Clara membalas tatapan itu dengan sinis. Wanita itu adalah adiknya Farel, orang yang semalam bersama Danil di kamarnya.
"Adik? Perasaan adik kamu bukan ini," kata Farel sambil melirik Danil lalu memperhatikan wajah Clara.
"Ah, itu, dia adik sepupu aku," balas Danil berbohong sambil memegang hidungnya, memeriksa apakah saat berbohong hidungnya akan memanjang seperti Pinokio.
"Maaf, sebenarnya semalam kak Danil mabuk berat, jadi aku bawa dia ke kamar aku karna aku gak tahu di mana kamarnya," kata seorang wanita yang bernama Fira itu.
"Apa? Semalam saya ada di kamar kamu?" Danil mengerutkan keningnya karna terkejut.
"Iya, maaf kak. Dan ini kaos kak Danil yang tertinggal di kamar aku." Gadis itu menyerahkan sebuah tas kepada Danil.
"Apa yang terjadi semalam?"
"Gaada, kak Danil melepas kaos kakak karna gerah. Mungkin efek dari alkoholnya. Sumpah aku gak ngapa-ngapain kakak."
Pria itu lalu melirik Clara dan menampilkan wajah seolah meminta maaf dan menyesal.
"Ternyata Lont* ini adiknya Farel, beda banget sama kakaknya, jangan-jangan anak adopsi, ups," kata Clara dalam hati sambil tersenyum sinis. Ya ampun, ia berdosa sekali, jangan di tiru ya adick-adick.
"Ngomong-ngomong kalian sedang apa di sini?" tanya Farel berusaha mengubah topik pembicaraan karna situasi sekarang cukup canggung bagi Danil, Clara dan Fira.
"Liburan," jawab Clara dan Danil spontan secara bersamaan. Untung saja pikiran mereka sama.
"Berdua?"
"Bersamamu, mengajarkanku, apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cintaaa," celetuk Clara sambil bernyanyi. Tapi kemudian ia menghentikan nyanyiannya setelah kena senggol Danil.
Danil tak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak untuk mencari alasan. "Iya, sebenernya kami berencana liburan bersama keluarga, tapi seluruh anggota keluarga mendadak gak bisa ikut, kami juga gak bisa membatalkan tiketnya, jadi daripada terbuang sia-sia, akhirnya hanya kami yang pergi."
"Aneh, apa itu benar? Padahal yang lebih sia-sia itu adalah waktu yang kamu habiskan dengan percuma di sini. Harga tiket gak seberapa buat kamu." Farel menyunggingkan senyumannya. Ia tahu Danil adalah tipe orang yang tidak akan menyia-nyiakan waktunya sedikit pun. Tetapi ada dua pengecualian yang tidak orang-orang tahu, pengecualian itu adalah waktu untuk Clara dan keluarganya.
Danil hanya tersenyum, ia malas membalasnya. Pria itu juga sudah lelah, baiklah, Danil memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Yasudah kami pergi dulu." Saat hendak pergi, Farel kembali menghentikan mereka.
"Tunggu, karna kita sudah berkumpul, kenapa kita gak makan malam bersama?"
"Kami sudah makan tadi," jawab Danil.
"Kalo gitu aku boleh gak ngajak adik sepupu kamu jalan-jalan?" tanya Farel lagi sambil tersenyum membujuk.
"Aku gak punya adik sepupu," kata Danil dengan santainya yang langsung mendapat cubitan dari Clara.
"Maksudku kami udah jalan-jalan seharian, dia pasti lelah, jadi--," ucapan Danil terpotong.
"Tidak Kak Anil, Clara tidak terlalu lelah, Clara akan pergi. Kak Anil istirahat saja," potong Clara sambil tersenyum so anggun dan so imut. Padahal kenyataannya tidak begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih dari Teman (On Going)
Подростковая литература[Yuk bisa yuk minimal di follow dulu] Takdir memang penuh kejutan yang tak terduga. Danil dan Clara, yang dulu hanya sepasang sahabat biasa, kini telah berubah menjadi sepasang suami istri yang saling melengkapi. "Ra, apa aku serakah jika aku mengin...
