Danil melirik ke luar jendela setelah mobilnya berhenti di rumah calon tunangannya. Tapi ia sempat terdiam selama beberapa detik karna terkejut. Rumah orang yang akan ia lamar adalah rumah sahabatnya --Clara.
Danil tersenyum kaku. "Gak mungkin, gak mungkin ini rumah orang yang Bunda jodohkan, Bunda pasti mau ajak Ara buat ngelamar, ayo berpikir positif!" kata Danil dalam hati, meyakinkan dirinya.
Tapi keyakinannya berguncang. Jantung Danil berdetak 2 kali lebih kencang ketika keluarga Clara menyambut mereka dengan hangat. Di rumah itu juga banyak orang yang berkumpul dan banyak aneka ragam makanan pula yang membuat Danil kembali Ber-overthinking.
"Silakan duduk." Desi menyambut hangat kedatangan keluarga Danil.
Setelah semua orang duduk, Danil malah celingak celinguk, matanya sibuk mencari seseorang. Siapa lagi kalo bukan Clara.
"Tante, Ara mana?" tanya Danil dengan polosnya yang kemudian di sambut oleh gelak tawa semua orang yang ada di sana.
"Sabar dong Nil," sahut ayahnya sambil menyenggol bahu Danil.
"Emangnya salah nanyain Ara?" tanya Danil dalam hati dengan wajah kebingungan.
"Baik langsung saja ke intinya, maksud dari kedatangan kami sekeluarga ke sini adalah ingin melamar anak Ibu yang bernama Clara untuk anak kami yang bernama Danil," kata Alex membuka bicara dan langsung membuat Danil membulatkan matanya karna terkejut. Ia tidak mengerti apa yang ayahnya bicarakan.
Danil mendekatkan mulutnya ke telinga bundanya untuk memastikan sesuatu.
"Bun, orang yang Bunda jodohin itu Ara?" bisik Danil yang di sambut oleh senyuman lebar bundanya.
Tak lama setelah itu, seorang gadis dengan kebaya merah muda dengan rambut di gulung dan make up tipis turun menuruni tangga rumahnya dengan anggun. Sebenarnya berusaha bersikap anggun. Gadis itu adalah Clara.
Danil yang melihatnya langsung terpaku. Ia tidak menyangka Clara yang ia pikir mirip mimi peri sekarang terlihat seperti Irene Red Velvet. Penglihatannya tidak berpaling sedikit pun sampai Clara mengalihkan pandangannya dari bawah menjadi ke depan dan langsung di sambut oleh tatapan Danil. Ia juga cukup terkejut begitu mendapati pria itu ada di sana dan langsung mengerutkan keningnya sambil menatap Danil yang lebih dulu menatapnya.
"Jadi bagaimana Nak Clara, kamu mau menerima pinangan dari Nak Danil?"
Clara langsung menatap ibunya setelah mendengar pertanyaan itu. Ia sama terkejutnya dengan Danil beberapa saat lalu.
"Mama kok gak bilang ak--." Ibunya langsung menutup mulut Clara dengan ke lima jari tangan kanannya sambil tersenyum.
"Kamu gak mau tahu waktu itu," bisik Desi.
"Sudah pasti Ara menerimanya, tapi dia masih malu-malu buat ngomong langsung, maklum lah yaa," kata Desi sambil tertawa kecil.
"Baiklah, karna keduanya sudah setuju, mereka juga sudah saling kenal, bahkan sangat kenal, jadi bagaimana jika pernikahannya di adakan minggu depan saja?"
Mata Danil dan Clara langsung kembali membulat. Untung saja tidak sampai keluar.
"Jangan!" ucap Danil dan Clara secara bersamaan yang membuat semua orang yang ada di sana langsung melirik mereka.
"Maaf, saya belum berkompromi dengan anak saya, tapi lebih cepat lebih baik, sebaiknya kita juga jangan menunda-nunda hal yang baik, benarkan, Nil?"
"Eng--." Ibunya langsung memasukkan kue ke dalam mulut Danil saat Danil akan menyuarakan pendapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih dari Teman (On Going)
Novela Juvenil[Yuk bisa yuk minimal di follow dulu] Takdir memang penuh kejutan yang tak terduga. Danil dan Clara, yang dulu hanya sepasang sahabat biasa, kini telah berubah menjadi sepasang suami istri yang saling melengkapi. "Ra, apa aku serakah jika aku mengin...
