41 [Alvarez pembunuh]

816 100 17
                                        

Happy reading^^

-Hidup itu perjuangan.- By Kzdh_14

"Maaf Tuan. Kami hanya menjalankan tugas. Tuan Alvarez mohon mengerti,"ujar seorang bodyguard.

"Tugas SIALAN. ORANG TUA MACAM APA YANG SELALU MENGEKANG ANAK NYA!"umpat Alvarez.

Dor. Satu tembakan pistol lolos menembus kepala salah satu bodyguard. Ya itu tembakan dari Alvarez, dengan smrik tajam ia memandangi jasad dengan kepala yang penuh darah.

"Ini peringatan buat kalian. Jangan pernah melawan pada saya, bawa jasad itu dan beri pada Lanzo!"titah Alvarez.

Dengan sedikit bergetar, para bodyguard itu membawa tubuh yang sudah tidak bernyawa itu kembali. Denis dan yang lain hanya termenung tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

"Lanjut,"ucap Alvarez sambil menggerakkan tangan mengkode untuk lanjut jalan.

"I-iya,"jawab Denis.

Mereka pun berjalan tanpa arah, bingung hendak kemana. Denis tak berani untuk membawa Alvarez ke markas tanpa persetujuan Pluto.

"Bentar, ada telepon!"ucap Victor.

"Siapa?"tanya Denis.

"Ee. Pacar gua, kalian duluan aja,"

"Oke kalau ada apa-apa telepon gua,"balas Denis.

Rombongan itu meninggal Victor sendirian di tengah jalan.

"Gimana keadaan di sana?"

"Bagus. Cuma ada beberapa masalah aja,"jawab Victor.

"Masalah apa?"

"Tadi si Alvarez bunuh salah satu bodyguard nya,"

"Yaudah lanjut ikuti mereka. Jangan sampe ketahuan,"

"Oke,"

Telepon berakhir dari salah satu pihak. Victor pun melajukan motor nya agar bisa menyusul Denis. Dilain tempat, rombongan Pluto sedang mengendarai motor dengan santai.

"WOI! LAGI NIRU SIPUT YA? LAMBAT BANGET,"tukas Mars yang baru saja datang dari belakang.

"LAGI DAFTAR KE NERAKA YA? KEBUT BANGET!"balas Pluto.

"Dasar adek geblek,"dumel Mars.

"KITA KEMANA?"tanya Alrik.

"Ke markas Dendrick,"jawab Mars.

Mereka pun menuju ke markas Dendrick sambil balapan. Itung-itung latihan kalau ada ajang resmi.

"GAK! ENGGA MUNGKIN ANAK LAKI-LAKI SAYA BUNUH ORANG,"ucap Luci.

"Tapi memang benar kenyataannya begitu B-bos,"jawabnya.

"Mungkin dia lagi ada masalah kali Jeng,"Venus berusaha menenangkan Luci.

Amarah Lanzlo sudah membeludak. Ia sudah tidak tahan dengan kelakuan anak laki-laki yang sudah melewati batas. Mungkin salah dirinya juga yang terlalu menekankan kemauan untuk menjadikan Alvarez sebagai Direktur di perusahaan.

"Maaf kami harus pulang. Mars dan Pluto juga belum ketemu,"ucap Merkurius.

Merkurius, Venus dan Bumi pulang kembali ke daerah Tata Surya. Dengan hati yang sangat bangga Merkurius dan Venus hanya saling bertatap mengingat kejadian memalukan dari keluarga Lanzlo.

"Hallo Dek kamu di mana?"

"Pluto lagi di markas Mars Bang. Ada apa ya?"

"Engga. Abang cuma khawatir aja sama kamu, kenapa kamu pergi?"

"Pluto bosen Bang. Jadi pergi aja,"

"Kenapa gak bilang sih? Kan Bang Bumi jadi khawatir, apalagi karena ada kejadian Alvarez bunuh salah satu bodyguard,"

"Apa? Alvarez bunuh bodyguard?"

"Iya nanti Abang jelasin. Kamu PULANG SEKARANG!"titah Bumi.

Telepon di matikan oleh Bumi. Pluto tidak bisa menolak perintah Abang satunya ini. Ia pun izin pulang ke rumah sendirian. Terlihat di depan rumah ada perempuan yang sudah tidak asing bagi Pluto.

"Mentari? Ngapain kamu di sini?"

"Aku kira kamu sakit. Soalnya kamu jarang sekolah,"

"Gue gak sakit kok. Cuma sering bolos aja,"senyuman terukir di wajah Pluto.

Pluto mempersilahkan Mentari untuk masuk ke dalam. Dan langsung Pluto bawa ke kamarnya, agar ada privasi.

"Pluto rumah kamu gede banget,"puji Mentari.

"Bisa aja. Eh itu apa? Kue ya? Sini, pasti buat aku,"paksa merebut.

"Jangan. Tadi nya sih buat kamu, tapi pas datang ke sini. Aku jadi malu buat kasih ke kamu,"

"Malu kenapa? Kan gua pake baju,"

"Ih bukan itu. Maksud aku, kue yang aku bawa gak enak terus jelek,"ucap Mentari.

"Lihat dulu. Kan gua yang mau makan,"

Pluto mengambil kotak yang berisi kue itu. Terlihat kue donat dengan topiing coklat dan bertuliskan nama 'Pluto'.

"So beautifull. Gini lo bilang jelek, apalagi kue buatan gue yang gosong gara-gara api nya kegedean,"

Tawa Mentari pun lepas. Ia tadinya malu sekarang sudah bisa lumayan tidak malu. Hanya Pluto yang mau jadi temannya, tanpa memandang derajat. Rasanya mati demi Pluto bukan masalah bagi Mentari.

"Lo makan juga dong. Masa gue aja,"pinta Pluto.

"Iya-iya,"jawab Mentari.

Saat sedang asik makan donat buatan Mentari. Terdengar suara kaki berjalan menuju kamarnya. Dan benar saja seorang laki-laki masuk tanpa mengetuk

"Ganteng banget,"puji Mentari.

TBC

Siapa ya yang masuk ke kamar Pluto?

QUEEN OF YVONE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang