"𝐏𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐮𝐧𝐜𝐮𝐥 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧"
Diharapkan untuk follow sebelum membaca.
"Ayah akan menjodohkan kamu."
Tak pernah Adinda berkepikiran akan dijodohkan oleh ayahnya dengan laki-laki yang sama sekali tidak ia kenali.
Namun d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
●●●
Pagi ini Gevan sudah bersiap dengan jas kantor dan juga dasi miliknya, kini ia berada di halaman rumah sembari berpamitan pada Dinda.
"Saya berangkat dulu, hati-hati di rumah jangan lupa kasih makan dan bersihkan tubuh Miky" ujar Gevan.
"Iya suamiku, bawel banget"
"Suamiku?" ucap Gevan mengulang kata-kata yang Dinda ucapkan.
"Bukan, udah sana berangkat" usir Dinda sembari mendorong tubuh Gevan.
Gevan tersenyum tipis lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area rumah besarnya itu.
Dinda pun kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui si kucing, Miky.
"Miky.. meng meng meng" panggil Dinda lembut.
Tak lama kucing bernama Miky itu pun datang menghampiri Dinda yang sedang berjongkok sembari merentangkan tangan.
"Kita mandi dulu ya, nanti selesai mandi kamu jangan kemana-mana oke? Aku bakal kasih kamu makan" ucap Dinda sembari mengelus lembut tubuh Miky.
"Miaw!"
Dinda pun kembali berdiri lalu pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh Miky juga dirinya.
●●●
Disisi lain, Gevan sibuk melihat rekaman cctv di ruangannya untuk memastikan bahwa kejadian hari itu benar-benar bukan ulahnya dalam keadaan sadar.
Beberapa menit kemudian, cctv menampakan kejadian itu. Wajah Gevan memerah menahan emosi yang sudah memuncak.
Gevan pun segera menyimpan rekaman cctv itu ke flashdisk miliknya, lalu segera keluar meninggalkan kantor.
Kini ia dalam perjalanan menuju rumah sekretaris pribadinya itu, lebih tepanya MANTAN sekretaris pribadi. Ia juga sembari menghubungi orang tua dan mertuanya untuk kembali datang karna sudah mendapatkan bukti yang lebih detail dan nyata.
Tok! Tok! Tok!
Bodyguard Gevan mengetuk keras pintu utama rumah Siska, hingga tak lama pintu yang diketuk pun terbuka dan menampakkan wanita berbaju pendek dengan rambut panjang yang di ikat.
Siska hanya menatap datar bodyguard Gevan sembari menaikan alisnya.
"Tuan Gevan menyuruh anda ikut dengan saya" ucap bodyguard Gevan.
"Ngapain? Gue bukan sekretarisnya lagi" ujar Siska.
"3 menit untuk bersiap, saya tetap menunggu disini"
"Cih, kenapa gak Gevannya aja yang datang?"
"Jangan banyak bicara, CEPAT!"
Siska memutarkan bola matanya malas lalu masuk ke dalam rumah untuk bersiap.
●●●
"Duh.. bentar ky! Capek nih haus banget, Dinda ambil minum dulu ya ke dalam, Miky diem disini jangan kemana-mana" ujar Dinda lalu pergi masuk ke dalam rumah untuk mengambil air minum.
Setelah selesai mengambil air minum, Dinda membawanya lalu kembali keluar menemui Miky.
Namun Dinda tidak mendengar sahutan dari kucing itu.
"Loh, Miky kemana? Tadi kan disini"
"Miky.." panggil Dinda lagi sembari berkeliling halaman mencari keberadaan Miky.
Tint! Tint!
Terdengar suara klakson yang sangat keras dan mendadak dari luar rumah, Dinda yang penasaran pun segera keluar dan melihat keadaan disana.
"MIKY!!!" teriak Dinda histeris saat melihat kucing kesayangan Gevan berada di pangkuan seorang pengemudi mobil.
Pengemudi mobil itu pun mendekat ke arahnya sembari menyerahkan Miky pada Dinda.
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja menabrak kucing ini.. ia berlari ke tengah jalan dan saya pun tidak fokus mengendarai mobil, saya minta maaf" ujarnya.
"Tidak apa-apa, saya juga salah karena meninggalkannya diluar"
"Baiklah, sekali lagi saya minta maaf, permisi"
Dinda tersenyum tipis sembari melihat kepergian mobil itu, lalu menatap Miky di pangkuannya dengan penuh rasa kasihan.
"Miky, maafin aku ya udah ninggalin kamu diluar.. sekarang aku kubur kamu di halaman belakang dibantu bibi ya, maaf Miky aku belum bisa jaga kamu baik-baik" ucap Dinda sembari meneteskan air matanya.
Tak lama setelah selesai mengubur Miky, terdengar suara mobil Gevan yang baru saja memasuki halaman rumah. Dinda pun segera keluar menghampiri Gevan sembari menundukan kepalanya.
"Hm? Kenapa kamu menunduk seperti itu? Tatap saya" ucap Gevan.
Dinda pun mengangkat kepalanya perlahan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Gevan membelalakkan matanya saat melihat Dinda dengan keadaan wajah yang seperti itu.
"Kamu kenapa Dinda?"
"M-maaf" ucap Dinda gugup.
"Untuk apa kamu meminta maaf?"
Dinda yang sudah tak bisa menahan tangisnya, dengan cepat ia memeluk tubuh Gevan.
Gevan mengerutkan keningnya sembari mengusap punggung Dinda lembut. Jujur saja hatinya terasa sangat berdegup lebih kencang saat melihat Dinda yang seperti ini.
"Udah tenang?"
Dinda menganggukan kepalanya pelan, lalu melepas pelukan itu.
"Udah bisa bicara dan menjelaskan semuanya?"
"Udah" ucap Dinda pelan, namun masih bisa di dengar oleh Gevan.
"Coba jelaskan"
"Miky.. aku gagal jaga Miky dengan baik, tadi dia lari ke tengah jalan dan tertabrak salah satu mobil yang lewat, aku udah kubur dia di halaman belakang.. aku minta maaf Gevan, kamu boleh marahin aku" ucap Dinda sembari menundukan kepalanya kembali.
Gevan diam tak berkata apapun, ingin ia menangis dan marah pada orang yang sudah membuat kucing kesayangannya mati. Namun ia harus menahan amarahnya itu, karna Dinda ialah seorang istri baginya.
"Wah wah wah, yakin jadi istri? Kucing aja gak bisa dijaga, apalagi anaknya nanti" ucap Siska yang memang sudah mendengar semuanya dan mendekat kearah Gevan.
"Sayang banget ya kamu, dapet istri modelan dia" ujar Siska sembari memeluk lengan Gevan.
"Diam! Tidak usah ikut campur urusan saya" ucap Gevan sembari melepas kasar tautan lengan Siska dengan lengannya, lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Dinda menatap Siska sinis, lalu mengikuti Gevan masuk ke dalam rumah.