Chapter 3 - Pergi

988 79 456
                                        

Assalamualaikum

Sebelum membaca ada baiknya tinggalkan jejak kalian dengan vote dan komen!!

Jangan jadi readers Silent ya!!

500 komen bisa kali ya, aku bakal update setelah mencapai target itu. Ayo ramaikan!

Baca perlahan dan resapi, happy reading!

••••

Di tengah derasnya hujan dan angin dingin yang menusuk tulang, Zayna mencoba menguatkan dirinya dengan kenyataan pahit yang terjadi kepada dirinya.

Zayna masih berada di sekitar kotanya, ia akan pergi ke pemakaman. Dengan air mata yang terus mengalir dan langkah yang berat ia memasuki area pemakaman.

Gadis itu ralat wanita itu berdiri di depan gundukan tanah yang basah karena di guyuri air hujan. Membaca nama yang tertera pada batu nisan, yaitu Cakra Drana Wijaya.

"Abang, maaf kan Zayna bang!" Zayna menangis memeluk batu nisan itu.

"Tanpa Abang hidup Zayna kurang. Sudah lama Abang ninggalin Zayna, apa Abang gak kangen Zayna ha? Semenjak kejadian itu Zayna tak lagi di sayang ayah dan bang Aktar. Zayna selalu di bentak-bentak, disalah-salahkan karena kematian Abang." Zayna memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.

"Karena kesalahan Zayna, Ayah murka kepada Zayna Bang, Zayna di usir dari rumah. Bunda sudah berusaha belain Zayna tapi tidak bisa karena kesalahan yang dilakukan Zayna sudah sangat fatal di mata Ayah." Lirihnya, ia mengusap air matanya yang terus mengalir.

"Zayna bakalan pergi dari kota ini, Zayna bakal memulai kehidupan baru lagi dan lagi-lagi tanpa Abang."

"Abang istirahat yang tenang ya, Zayna pamit. Zayna sayang Abang, Assalamualaikum." Zayna memeluk batu nisan yang bertulis nama Abangnya, lalu melepaskannya.

Zayna berdiri dan menyeka air matanya, ia mulai berjalan meninggalkan tempat peristirahatan Abang kesayangannya. Baju dan rok yang di pakai sudah sangat kotor karena duduk di tanah yang basah.

Zayna merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, Cakra anak pertama, sedangkan Aktar anak kedua, Zayna paling sayang terhadap Cakra karena paling peka dengan Zayna. Sedangkan Aktar juga termasuk Abang kesayangan Zayna, namun sifatnya sangat jahil dan suka banget bikin Zayna kesal. Ketiga bersaudara itu selalu saja menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Semenjak kejadian yang menimpa Cakra, Zayna menjadi sebab atas kematian Cakra. Semenjak itu Aktar berubah dengan Zayna dan Wijaya yang selalu kasar dengan Zayna, hanya Arumi saja yang masih peduli dengan Zayna.

Terminal bus, kini Zayna sudah berada disana dan duduk di bangku bis. Ia menatap hujan yang tak kunjung mereda lewat kaca bus.

Disepanjang perjalanan Zayna hanya melamun menatap arah luar, tujuannya sekarang mencoba memulai kehidupan baru di luar kota. Karena kebanyakan menangis, Zayna tertidur dengan kepalanya di sandarkan ke kaca bus.

Sesampainya di terminal bus Yogyakarta, Zayna tak kunjung bangun hingga seorang wanita di sampingnya pun membangunkannya.

"Nak bangun nak, busnya sudah sampai!" Ucap wanita itu sembari menepuk pelan pipi Zayna.

Zayna membuka matanya perlahan, di lihatnya wanita itu tersenyum kepada Zayna. "Ada apa ya, Bu?" Tanya Zayna dengan suara serak bangun tidur.

"Udah sampai nak, kamu gak turun?" Ucap wanita itu.

"Oh, iya, Bu. Makasih sudah bangunkan saya!" Ucap Zayna dengan sopan.

Zayna turun dari bus, ia menghirup udara segar kota Yogyakarta. Karena habis hujan udara jadi terasa dingin, Zayna memeluk tubuhnya dengan tangannya.

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang