Di sebuah rumah bergaya minimalis dua lantai, suara tangis anak laki-laki menggema dari ruang tengah. Tangis yang bukan sekadar manja melainkan rindu yang tak bisa dijelaskan oleh bocah berusia lima tahun.
"Aku mau Ayah! Aku mau Ayah sekalang!"
Alvaro, dengan wajah merah dan mata basah, berguling di atas sofa, menendang bantal yang sedari tadi mencoba ia banting. Arumi, neneknya, berusaha menenangkan, tapi sia-sia.
"Alvaro, sayang, Ayahmu lagi kerja. Nanti juga pulang, ya?"
"Nggak mau! Nggak mau nunggu! Alvalo mau Ayah sekalang! Sekalang!" jeritnya, tangan kecilnya memukul-mukul sofa.
Arumi mulai panik. Biasanya, Alvaro bukan anak yang seperti ini. Ia memang cenderung pendiam, tapi tidak pernah segelisah ini. Ia mengambil ponsel di meja, menekan nomor Zayna.
Di dalam kamar yang penuh dengan suara alat bantu pernapasan dan monitor jantung yang terdengar pelan dan teratur, Zayna, yang duduk di tepi ranjang, perlahan menyeka tubuh sang ayah dengan kain basah, memastikan kulit tuanya tetap bersih dan nyaman. Gerakannya lembut, penuh kehati-hatian seolah sentuhan itu bisa menyampaikan kasih yang selama ini jarang terucap.
Tiba-tiba, suara membuatnya menoleh ke arah meja nakas. Ia melihat nama Bunda Arumi terpampang di layar. Dengan sedikit bingung, ia menyeka tangan lalu mengangkat.
"Assalamu’alaikum, Bun. Ada apa ya?"
"Wa’alaikumussalam, Zay Maaf, Bunda ganggu. Ini soal Alvaro."
Jantung Zayna mencelos. Tangannya langsung terhenti dari aktivitasnya.
"Kenapa Alvaro, Bun? Dia sakit?"
"Nggak, nggak sakit, tapi dia tantrum dari tadi. Nangis, marah-marah. Katanya mau ketemu Ayahnya. Kangen, katanya. Nggak bisa ditenangkan."
Zayna terdiam sejenak. "Dia bilang kangen Ayahnya?"
"Iya, terus katanya mau dijemput sama Ayahnya sekarang juga. Nggak mau nunggu. Zay, biasanya dia seperti ini, nggak?"
"Nggak Bun, biasanya Alvaro itu anak yang tenang. Tapi mungkin dia belum nyaman di rumah Bunda, belum nyaman juga dengan suasana Jakarta. Mungkin itu yang bikin dia pengin dekat-dekat sama Zayna dan Ayahnya."
"Yaudah Bun, Zayna telepon Gavriel sekarang."
Arumi mengangguk, meski Zayna tak melihatnya. "Baiklah Bunda bilang aja ke dia kalau kamu mau telepon Ayahnya. Biar dia tenang."
"Iya, Bun."
Setelah sambungan terputus, Arumi mendekat ke Alvaro yang masih meringkuk dengan tangis tersendat-sendat.
"Nak, Bunda kamu lagi telepon Ayah sekarang. Sabar, ya?"
Alvaro langsung duduk. Mata beningnya masih basah, tapi ada harapan yang muncul di balik sembabnya. "Benelan? Ayah jemput?"
"Iya. Duduk manis, ya. Nanti Ayah datang."
Anak itu mengangguk, lalu memeluk boneka dinosaurusnya, diam, menunggu.
••••
Sementara itu, di sebuah ruang rapat elegan di lantai 21 gedung pencakar langit, Gavriel tengah membahas kerja sama bersama beberapa investor. Di sisi kanan, duduk Andra yang menjadi penghubung proyek ini, karena perusahaannya ikut serta bekerja sama.
"Kalau ini bisa dieksekusi sesuai rencana, kita tinggal dorong jalur logistiknya. Saya udah siapkan presentasi untuk pekan depan juga," jelas Andra sambil membuka file di laptop.
Gavriel mengangguk, fokus. Tapi ketika suara notifikasi dari ponselnya berbunyi, fokusnya mulai goyah. Ia tahu suara ringtone itu. Beda dari yang lain. Khusus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
Fiksi RemajaCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
