Gavriel berdiri di tengah taman luas. Langit berwarna keemasan, seperti waktu antara subuh dan matahari terbit. Udara hangat dan sejuk bersamaan. Di hadapannya, terbentang dua jalan. Bukan dua arah yang berlawanan, tetapi dua jalan yang berdampingan.
Di sisi kiri, jalan berkerikil putih mengarah ke sebuah bangunan batu berarsitektur megah, dengan kaca-kaca patri berwarna-warni yang memantulkan cahaya lembut. Suara lonceng gereja berdentang, bukan mengagetkan, justru menenangkan. Di jalan itu, ia merasakan nostalgia seolah langkahnya pernah melewati jalur itu dalam hidupnya. Tapi kini, hatinya terasa netral bukan takut, bukan benci, hanya kosong.
Di sisi kanan, jalan setapak tanah liat yang dihiasi rerumputan mengarah ke sebuah pohon besar. Di bawahnya, ada seorang lelaki tua berjubah putih, duduk tenang sambil membaca sebuah buku yang bersinar samar. Di sekelilingnya, ada anak-anak bermain, burung beterbangan, dan suara air mengalir dari arah yang tidak terlihat.
Gavriel menatap kedua jalan itu. Tak ada yang gelap. Tak ada yang menyeramkan. Semuanya indah, tapi entah kenapa dadanya tertarik ke arah lelaki berjubah putih itu.
Saat ia melangkah pelan ke arah pohon, lelaki itu menatapnya dan tersenyum.
"Biarkan hatimu mengenal ketenangan. Apa yang membuatmu damai, di situlah rumahmu."
Gavriel terdiam. Ia ingin bertanya, tapi bibirnya kelu. Ia hanya bisa menatap langit yang perlahan memudar menjadi biru pucat. Saat menoleh ke belakang, jalan menuju gereja tetap berdiri indah, tidak memudar. Tapi entah kenapa, langkahnya tidak ingin kembali.
Ketika ia menatap ke bawah, di tangannya kini ada sebuah kunci kecil, dengan tulisan halus yang tak bisa ia baca, tapi terasa hangat di genggaman.
Ia menatap lelaki itu sekali lagi, yang kini perlahan menghilang bersama sinar pagi. Suara lembut kembali terdengar,
"Ketika kau menemukan cahaya, jangan ragu menyambutnya. Karena Tuhan tak pernah memaksa, Ia hanya mengundang."
Gavriel terbangun saat cahaya siang merambat pelan masuk lewat jendela kamarnya. Keringat masih membasahi pelipis dan tengkuknya. Nafasnya sedikit memburu, seolah jantungnya baru saja selesai dari lari panjang tanpa ia sadari.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang. Matanya menatap lurus ke arah lantai, namun pikirannya terbang jauh. Tangannya menggenggam kosong, seolah masih ada kunci kecil yang tadi ia genggam dalam mimpi.
Tiga kali.
Tiga malam di waktu berbeda. Dengan jeda berminggu-minggu. Namun mimpinya selalu sama. Tempat yang sama. Cahaya yang sama. Sosok lelaki berjubah putih dengan wajah teduh, penuh kasih. Bahkan kalimatnya, selalu sama.
"Ketika kau menemukan cahaya, jangan ragu menyambutnya. Karena Tuhan tak pernah memaksa, Ia hanya mengundang."
Hanya itu. Satu kalimat, tapi menampar segala dinding keyakinan yang selama ini ia pasangi kunci gembok logika. Kalimat itu seperti gema yang terus-menerus berdengung di kepalanya. Tak meninggalkan rasa takut. Justru, membuatnya tenang.
Setelah mimpi pertama, Gavriel hanya mengernyit. Mungkin otaknya sedang bermain-main. Setelah mimpi kedua, ia mulai gelisah. Tapi setelah mimpi ketiga, ia mulai bingung kenapa mimpi ini terus muncul.
Ia berdiri perlahan, berjalan ke rak buku tua miliknya yang penuh debu. Tangannya menyentuh sebuah kitab suci berlapis kulit yang dulu sempat ia baca Injil. Tapi kali ini, jari-jarinya melewati buku itu, lalu berhenti pada sebuah mushaf kecil. Tangannya menyentuh mushaf kecil. Yang dulu diberi Andra. Bukan karena promosi agama. Tapi karena Gavriel pernah bertanya, "Kenapa lo bisa senyaman itu dengan Tuhan lo?" dan Andra menjawab, "Karena gue tahu Tuhan gue nggak pernah ninggalin gue. Bahkan waktu gue ninggalin Dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
أدب المراهقينCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
