Chapter 10 - Flashback

423 20 47
                                        

"Terkadang Allah mengetuk pintu hatimu dengan kesedihan, kehilangan, kesakitan dan kegagalan agar engkau kembali kepada-NYA."

🥀

Assalamualaikum

Ada yang kangen aku?

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa up setelah sekian lama gak up ini cerita, maaf ya aku selalu nunda up karena aku banyak tugas dan sering lupa kalau mu up 🙏🏻🙂

Oke, happy reading kalian! 🎉

••••

Dibawah sinar rembulan serta taburan bintang menghiasi langit malam yang cerah. Zayna duduk di rerumputan menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Zayna menatap bintang yang bersinar sangat terang seraya mengelus perut buncitnya.

"Abang, Zayna rindu Abang." Gumamnya.

"Zayna!" Pekik Adiba seraya duduk di samping Zayna.

"Kamu ngapain kesini? Udara malam gak baik, ayo masuk!" Ajak Adiba.

"Adiba, kamu pernah ngerasain nggak sih kehilangan seseorang tersayang?" Ucap Zayna tiba-tiba.

Adiba terdiam sejenak, lidahnya terasa keluh untuk berbicara. Wajahnya berubah menjadi sedih dan matanya berkaca-kaca.

"Pernah, kehilangan kedua orang tua ku waktu aku lagi butuh-butuhnya kasih sayang seorang ibu dan ayah. Di waktu umur ku ke-5 tahun, aku harus terpaksa menerima kenyataan kalau ibu dan ayah sudah tidak ada lagi di dunia. Semenjak kecelakaan itu, aku tidak pernah lagi merasakan yang namanya pelukan hangat orang tua." Ucap Adiba seraya menghapus air matanya yang mengalir di pipinya.

"Kamu sendiri?" Tanya balik Adiba. Gadis itu mencoba menguatkan dirinya sendiri agar tak terlalu terlarut dalam kesedihan.

"Aku kehilangan orang yang paling aku sayang di dunia ini." Ucap Zayna sambil memandang arah bintang yang bersinar terang.

"Abang mu ya, Na?"

"Iya, Abang. Setelah kepergiannya, hidupku selalu di tekan dengan kesalahan yang mendalam dan menjadi penyebab kematian Abangku."

"Boleh nggak aku ceritakan masalah ini ke kamu Dib?"

"Boleh kok Na!"

Flashback

"Adek Abang, mau nggak ikut Abang?" Ucap seorang laki-laki sembari duduk di sebelah seorang gadis.

"Mau kemana bang?"

"Ke suatu tempat."

"Yaudah deh, Zayna ikut Abang."

"Eh, tapi bang. Masa bang Aktar kagak di ajak? Kasian tau dia gak di ajak."

"Aktar ada tugas kuliah jadi dia gak bisa ikut."

"Oh, yaudah deh. Ayo bang, berangkat sekarang!" Ajak Zayna kepada Cakra.

Sebelum mereka berangkat, Cakra dan Zayna meminta izin terlebih dahulu kepada Ayah dan Bundanya. Setelah itu Zayna pun melenggang pergi meninggalkan Cakra yang masih berdiri di ruang tamu.

Cakra memasuki mobil kemudi dan di sebelahnya terdapat Zayna yang sibuk dengan ponselnya. Cakra pun menginjak pedal gas, menuju ke suatu tempat.

Sesampainya disana, sebuah taman indah nan luas kini berada di hadapan mereka. Zayna terpukau dengan keindahan taman tersebut, lantas ia menarik Cakra memasuki taman.

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang