Assalamualaikum
Sebelum membaca tinggalkan jejak kalian berupa vote dan komen ya sayangkuh, biar aku semakin semangat up-nya 💗
Jangan jadi readers silent ya! ☺️
Happy Reading!
••••
Angin sore berembus perlahan menari-nari di sela jendela rumah mungil Zayna. Kehangatan senja membalut suasana tenang di dalam rumah itu, dihiasi aroma manis teh melati yang baru saja diseduh. Suara langkah kaki terdengar dari halaman depan, pelan dan penuh hati-hati. Lalu di iringi ketokan pintu yang terbuka.
"Assalamu’alaikum," suara lembut Aida mengalun, disusul langkah berat tapi mantap dari David di belakangnya.
Zayna yang sedang duduk di sofa bersama Alvaro segera beranjak. Wajahnya yang semula lelah seketika berseri, menatap dua sosok yang begitu berarti dalam hidupnya selama lima tahun ini.
"Wa’alaikumussalam, Mama, Papa! Silahkan masuk!"
Aida segera memeluk Zayna, lalu David menyusul dengan senyum hangatnya. Tak lama, mata mereka tertuju pada Alvaro yang sangat aktif bermain dengan mainan nya di sofa.
"Alvaro sayang, cucu kesayangannya nenek gimana kabarnya?" tanya Aida sambil mendekat, mencium kening cucu kesayangannya.
"Alvalo baik nenek, Alvalo udah nggak sakit lagi," jawab Alvaro dengan suara cadelnya, lalu tertawa kecil.
David terkekeh pelan. Ia mengeluarkan beberapa paper bag dari tas besar yang mereka bawa. Aida membuka satu per satu, memperlihatkan mainan baru, mobil-mobilan, buku mewarnai, dan puzzle.
"Mama, Papa kenapa repot-repot bawa banyak mainan untuk Alvaro?" ucap Zayna pelan, menatap mereka dengan pandangan lembut namun heran.
"Tidak apa-apa, Nak. Sekali-kali. Alvaro harus bahagia, kan?" balas Aida dengan suara selembut kapas.
Alvaro sudah sibuk membuka satu per satu mainannya, lalu menoleh pada David dengan mata berbinar.
"Kakek, sekalang Alvalo udah punya ayah, loh. Ayah Alvalo udah pulang."
Suasana seketika berubah hening. David dan Aida saling memandang, lalu menoleh perlahan pada Zayna. Gadis itu hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
"Aku nggak apa-apa," bisiknya tanpa suara, hanya dibaca oleh mata yang sudah hafal luka hatinya.
Aida mendekat, menggenggam tangan Zayna dengan penuh kasih. Lalu, ia mengajaknya berjalan ke sudut ruangan, menjauh dari Alvaro dan David yang sedang bermain.
"Kamu yakin tidak apa-apa, Nak?" bisik Aida penuh kekhawatiran.
Zayna menghela napas panjang, menatap lantai sejenak sebelum menjawab.
"Tidak, Ma. Zayna belum sepenuhnya pulih. Tapi Zayna sudah berdamai, kok. Walau masih sulit memaafkan dia. Zayna nggak berharap apa-apa lagi dari dia, walau perasaan ini masih sulit untuk dihilangkan."
Aida mengelus tangan Zayna lembut.
"Perasaan itu wajar, Nak. Kamu pernah mencintainya. Luka yang dalam tak bisa hilang dalam sehari. Tapi kamu hebat karena memilih berdamai, bukan membenci. Dan kamu tetap kuat berdiri untuk Alvaro. Tapi Mama hanya ingin tahu satu hal apa dia selalu ke sini?"
Zayna mengangguk.
"Iya, Ma. Dia selalu ke sini. Bahkan waktu Alvaro kejang-kejang malam itu, dia yang ada di samping Zayna. Dia yang membawa Alvaro ke rumah sakit."
Aida menarik napas panjang, menahan gejolak emosi di dadanya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu, lalu suara familiar menyusul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
Teen FictionCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
