Chapter 29 - Taruhan Konyol Itu?

178 9 2
                                        

Sore menjingga itu menyelimuti langit dengan warna keemasan yang hangat ketika Zayna mengetuk pintu rumah Gavriel. Sebuah rumah yang tak pernah berubah. Rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan, manis maupun getir. Ia datang bukan sebagai kekasih masa lalu, tapi sebagai ibu dari seorang anak yang kini tengah berada di rumah ayah kandungnya.

Pintu terbuka perlahan. Gavriel berdiri di sana, mengenakan kaus gelap dan celana santai. Tatapannya lembut, walau menyimpan ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Masuk, Na. Alvaro tidur di kamarku," ujarnya.

Zayna mengangguk pelan. "Makasih. Aku cuma mau jemput Alvaro. Maaf kalau ganggu."

"Enggak. Kamu nggak pernah ganggu."

"Makasih udah jagain dia." Gavriel mengangguk tulus sebagai jawaban dari perkataan Zayna.

Di ruang tengah, Andra duduk santai di sofa, tangan sibuk menggenggam stik game, matanya tak lepas dari layar TV.

"Oh, Zayna?" sapa Andra, sedikit terkejut namun tetap ramah.

Zayna hanya membalas dengan senyum canggung. Rasanya aneh melihat Andra lagi setelah lima tahun lamanya, padahal dulu mereka cukup akrab.

"Kamu boleh masuk kamarku kok kalau mau lihat Alvaro," ucap Gavriel agak canggung bilang kamarnya karena gimana pun kamar itu juga terdapat masa kelam Zayna dan dirinya.

Ada keraguan di wajah Zayna. Bukan karena takut pada Gavriel atau Andra, tapi pada dirinya sendiri. Pada kenangan di balik pintu itu. Namun ia mengangguk pelan dan melangkah pelan ke kamar Gavriel.

Pintu dibuka perlahan. Aroma khas kamar itu menyeruak, aroma yang dulu pernah ia hapal luar kepala. Tak banyak berubah. Posisi meja, tirai jendela, bahkan bingkai foto lama di rak masih sama. Kamar itu tidak pernah berubah namun tetap menjadi masa yang paling tak bisa di lupakannya setelah kejadian itu. Di tengah ranjang, Alvaro terlelap dengan wajah damai, napasnya teratur.

Zayna duduk perlahan di tepi ranjang, tangan halusnya menyibak rambut anak itu. Hatinya menghangat.

"Alvaro, maafin Bunda ya, kalau Bunda belum bisa kasih keluarga utuh. Tapi kamu tahu nggak, Nak? Ayahmu dulu bukan pilihan yang salah. Mungkin jalannya aja yang dulu salah."

Ia menunduk, memejamkan mata sejenak. "Kamu anak baik. Dan Ayahmu, dia berusaha sekarang. Aku lihat itu, Nak. Tapi luka Bunda belum sembuh sepenuhnya. Cuma Bunda udah nggak benci lagi dan memilih memaafkan."

Beberapa menit berlalu, Zayna berdiri, hendak mencari kamar mandi yang ada di dekat ruang tengah. Daripada menggunakan kamar mandi Gavriel di dalam karena bagaimanapun akan terasa tidak nyaman, ia merasa lebih baik memakai yang di luar. Saat hendak kembali, suara dari ruang tengah terdengar samar. Ia berhenti. Langkahnya terpaku tepat di belakang dinding yang memisahkan ruang mandi dan ruang tamu.

"Lo masih ingat taruhan dari Gavin?" suara Andra terdengar.

"Ya, gimana bisa lupa. Taruhan tolol itu." Gavriel menghela napas panjang. "Awalnya iya, gue cuma pengen menang. Tapi, semakin kenal dia, gue jatuh. Sumpah, jatuh beneran. Gue nggak peduli lagi sama taruhannya. Gue cuma pengen Zayna."

Dunia seakan berhenti. Dada Zayna sesak. Tangannya mencengkeram dinding.

"Jadi dulu dia dekati aku karena taruhan? Tapi dia jatuh cinta juga?" pikirnya. Sakit, iya. Tapi ada sisi dari hatinya yang bisa menerima. Karena Gavriel memilih mencintainya, bukan sekadar menang.

"Dulu gue brengsek. Gue tahu. Tapi dia bukan cuma cewek biasa buat gue. Gue nggak peduli taruhan karena gue takut kehilangan dia. Gue takut dia tahu semua dan pergi. Tapi akhirnya gue nyakitin dia juga," suara Gavriel lirih.

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang