Matahari siang itu bersinar dengan teduh, menyusup lembut melalui celah dedaunan pohon rambutan yang rindang di halaman depan rumah. Di tengah taman kecil yang dirawat dengan cinta, Zayna berdiri menyiram bunga-bunga dengan selang air di tangannya. Gamis biru muda yang ia kenakan tergerai lembut, khimar putihnya berkibar pelan tertiup angin. Cahaya matahari menyentuh pipinya yang bersih, menambah cahaya alami di wajah yang selalu mengundang ketenangan.
Di kejauhan, Gavriel berdiri terpaku di depan pagar rumah. Matanya tak lepas dari sosok yang tengah bersahaja di taman itu. Bibirnya terkatup, menahan rasa yang terlalu sulit didefinisikan-antara rindu, penyesalan, dan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
"Zayna!" panggil Gavriel akhirnya, suaranya sedikit berat tapi tulus.
Zayna menoleh, senyuman tipis muncul di wajahnya. "Kamu datang? Alvaro di dalam sedang menggambar, sana masuk aja."
Gavriel melangkah mendekat, melewati taman kecil itu. Matanya masih terpaku pada Zayna. Dalam hati, ia hanya bisa berkata, "Dia cantik banget. Masih seperti dulu, bahkan lebih."
"Aku ke sini nggak cuma mau ketemu Alvaro," ujar Gavriel pelan. "Tapi kamu juga."
Zayna menunduk sedikit, lalu tersenyum kecil. Jantungnya berdebar, tapi ia menahan diri agar tak terlalu tampak canggung. "Kan sekarang udah ketemu aku."
Gavriel tertawa pelan. Senyum itu, yang dulu selalu menenangkannya, kini kembali hadir, dan rasanya seperti pulang.
"Mau aku bantu?" tanyanya sambil menunjuk selang di tangan Zayna.
"Nggak perlu. Temenin Alvaro aja sana, sebentar lagi aku juga selesai."
Tanpa menolak lebih jauh, Gavriel mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Suasana rumah terasa hangat, aroma kayu dan vanila khas rumah-rumah lama menyambutnya. Ia menemukan Alvaro duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi krayon dan lembaran kertas gambar.
"Ayah!" seru Alvaro senang. "Lihat ini, Alvalo gambal kucing yang waktu itu!"
Gavriel duduk bersila di samping anaknya. "Bagus banget. Ini Zavriel, ya? Wah, kamu hebat banget gambar kayak gini."
"Iya! Ayah kan bilang kucing itu punya Ayah sama Bunda. Jadi Alvalo gambal buat Ayah, bial Ayah selalu ingat dan sayang kucingnya!"
Gavriel memeluk putranya erat. "Ayah akan selalu ingat dan sayang."
Tak lama kemudian, Zayna masuk sambil mengelap tangannya dengan handuk kecil. Ia ikut duduk, menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memandangi ayah dan anak itu bercanda.
"Alvaro, Bunda bisa lihat gambarnya?"
"Boleh! Tapi gambal ini buat Ayah ya, Bunda jangan ili," jawab Alvaro polos membuat keduanya tertawa.
Mereka bertiga larut dalam kebersamaan yang seakan menghapus semua luka masa lalu. Tawa Alvaro menjadi penyambung yang menjahit kembali ruang yang sempat robek di antara dua hati yang pernah patah.
Namun kebahagiaan itu perlahan meredup saat suara mobil terdengar berhenti di depan rumah. Tak lama, suara langkah kaki dan suara khas seseorang yang begitu akrab terdengar.
"Zayna."
Zayna menoleh dan segera berdiri. "Bunda?"
Arumi masuk dengan wajah sedikit letih. Matanya langsung menangkap Gavriel yang duduk di lantai bersama Alvaro. Seketika, sorot mata itu berubah-ada kemarahan, ada kecewa, ada luka yang belum sembuh.
"Bunda pulang lebih awal, Aktar suruh ganti jaga di rumah sakit. Katanya. kamu perlu ditemani."
Zayna mengangguk pelan. Ia tahu, bukan hanya karena itu. Pasti Aktar sengaja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
Novela JuvenilCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
