Hari itu Gavriel duduk di teras rumah Ustadz Damar, masih dengan kemeja lengan panjang dan celana hitam kain. Di tangannya, secangkir teh hangat mengepul. Di hadapannya, seorang lelaki paruh baya dengan sorban putih lembut dan wajah yang teduh, menyimak tanpa mendesak.
"Ustadz," suara Gavriel pelan. "Saya masih bingung harus mulai dari mana."
Ustadz Damar tersenyum, tidak tergesa.
"Kalau kamu datang ke pantai pertama kali, apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
Gavriel mengernyit. "Berdiri di pinggir dulu, lihat-lihat. Nggak langsung nyebur."
"Begitu juga dengan agama. Tak semua harus langsung diselami. Berdiri di pinggir dan mengamati pun sudah bagian dari perjalanan."
Gavriel mengangguk pelan.
"Apa kamu masih merasa takut?" tanya sang ustadz lembut.
Gavriel menatap ke halaman yang dipenuhi tanaman hijau. "Takut tapi bukan karena agamanya. Takut kehilangan semua yang saya tahu. Takut dibilang penghianat. Apalagi saya tumbuh di keluarga Katolik yang taat. Lebih tepatnya nenek saya."
Ustadz Damar mengangguk penuh pengertian. "Dan itu tidak akan pernah hilang. Karena pengalaman spiritualmu tetaplah bagian dari perjalananmu. Kita tidak harus menghapus masa lalu untuk memulai lembar baru. Yang penting, jalani dengan niat yang tulus dan hati yang jujur."
Gavriel menatapnya, pelan-pelan mulai merasa nyaman.
"Jadi, saya boleh nanya dasar-dasar Islam dari awal?" tanyanya pelan. "Tapi dari sudut pandang yang saya paham. Bukan yang berat-berat dulu."
"Boleh. Sangat boleh," jawab Ustadz Damar.
Ia mengambil sebuah kertas dan pena dari meja kayu kecil di sampingnya.
"Kita mulai dari pertanyaan paling sederhana," kata sang ustadz sambil menulis. "Tuhan."
Gavriel mengangguk pelan. "Saya percaya Tuhan. Dalam iman saya, Dia adalah Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sosok penuh kasih yang menyelamatkan manusia lewat pengorbanan Yesus Kristus."
Ustadz Damar tidak menyanggah. Hanya tersenyum lembut.
"Dalam Islam, Tuhan juga penuh kasih. Kami juga menyebut-Nya Allah. Tapi dalam ajaran kami, Allah tidak menjelma dalam bentuk manusia. Dia tidak dilahirkan, dan tidak melahirkan."
Gavriel mengangguk. "Jadi nggak ada sosok penebus?"
"Dalam Islam, penebusan dosa bukan lewat sosok, tapi lewat taubat dan amal. Kami percaya manusia bisa salah, dan setiap kesalahan bisa diampuni langsung oleh Allah, tanpa perantara, selama dia tulus bertaubat."
Gavriel terdiam. Menyerap. Tak membantah, tak membandingkan.
"Terus, apa yang bikin Islam terasa damai?" tanyanya jujur.
Ustadz Damar menatapnya, lalu berkata pelan, "Karena dalam Islam, hidup ini bukan untuk mengejar dunia. Tapi untuk kembali pulang. Dan setiap ibadah yang kami lakukan, seperti shalat, puasa, zakat, semuanya punya tujuan yang sama, menjaga hati tetap terikat pada Allah, bukan dunia."
Ustadz Damar menyodorkan mushaf kecil ke hadapan Gavriel. "Kalau kamu bersedia, coba buka ini. Jangan dibaca dengan suara dulu. Cukup buka satu halaman dan lihat."
Gavriel mengambil mushaf itu dengan tangan pelan, sedikit gemetar. Ia membuka satu halaman secara acak. Matanya menatap barisan huruf Arab yang tak ia mengerti. Tapi ada ketenangan aneh yang menjalar di dadanya.
"Ini saya nggak ngerti, tapi setiap saya menyentuh hati saya kayak tersentuh," gumamnya.
"Karena hati kita bisa memahami sesuatu sebelum akal menyusul," kata Ustadz Damar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
Teen FictionCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
