Chapter 26 - Rumah Yang Hangat

349 8 0
                                        

Assalamualaikum

Jangan lupa tinggalkan jejak seperti vote dan komen ya ❤️

Happy Reading!

••••

Lorong rumah sakit sore itu terasa begitu hening dan dingin, seolah menyerap semua kepanikan yang tadi membuncah di sepanjang perjalanan. Zayna, Gavriel, dan Alvaro kini berdiri di depan ruang ICU, menatap pintu kaca yang tertutup rapat dengan tulisan Intensive Care Unit berwarna merah menyala. Di balik jendela bening itu, tubuh Wijaya—Ayah Zayna terbaring lemah dengan berbagai kabel dan alat bantu medis yang melekat pada tubuhnya. Napas Zayna tercekat. Matanya memanas.

"Zayna!" Sebuah suara penuh kelegaan memecah keheningan. Aktar, sang abang, segera menghampiri dengan wajah yang mencampur aduk antara lelah, khawatir, dan bahagia. Ia langsung memeluk adik perempuannya erat-erat, seakan tak ingin melepaskan.

"Akhirnya kamu datang juga, Dek. Terima kasih," ucap Aktar pelan, namun terasa berat dan tulus.

Zayna membalas pelukan itu, menggigit bibirnya yang gemetar. "Maaf, Bang, Aku telat."

Belum sempat Aktar menjawab, langkah tertahan dan napas tercekat terdengar dari arah belakang Aktar. Arumi, ibu Zayna, berdiri terpaku. Matanya yang sembab membelalak saat melihat sosok anak gadisnya yang selama ini hanya bisa ia doakan dalam sujud malamnya.

"Zayna?" bisiknya lirih.

Zayna melepas pelukan Aktar begitu melihat wajah ibunya yang penuh kerinduan, ia langsung berlari dan memeluk wanita paruh baya itu. Air mata yang sejak tadi ditahan, kini tumpah tanpa bisa dikendalikan.

"Bunda!"

"Anakku, Ya Allah, Zayna!" Arumi menggenggam wajah putrinya, menatapnya dalam-dalam. Seakan ingin meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung tanpa riak. Saat Arumi mengangkat pandangannya dan melihat sosok Gavriel yang berdiri agak jauh, tubuhnya menegang. Wajahnya berubah kaku. Matanya menyipit, menyimpan luka lama yang belum benar-benar sembuh. Tatapan itu tajam, menusuk, menyiratkan berjuta tanya yang belum sempat terjawab.

Gavriel tidak bergerak. Ia tahu tatapan itu layak ia terima. Ia memilih menunduk, membiarkan penyesalan bicara lewat diamnya.

Zayna melihat tatapan itu langsung menoleh ke belakang, dan melihat anaknya yang kini berdiri tepat di samping Gavriel. Ia tahu waktunya telah tiba untuk memperkenalkan anaknya dan membuat Gavriel tak lagi di benci Arumi.

"Bun," ucap Zayna pelan, menggenggam tangan ibunya dengan lembut. "Ini Alvaro. Anak Zayna."

Arumi membelalak. Bibirnya bergetar. Tatapan keras yang semula tertuju pada Gavriel perlahan meredup, luntur oleh mata polos seorang anak yang tak bersalah.

Alvaro melangkah maju dan menunduk sopan, meski belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.
"Assalamu’alaikum, Nenek?" sapanya lembut.

Dada Arumi sesak. Tangan yang semula mengatup kini terbuka, dan dengan langkah gontai, ia meraih tubuh mungil itu dalam pelukan. Air matanya kembali tumpah.
"Wa’alaikumsalam, cucuku. Ya Allah, cucu Nenek udah besar."

Zayna hanya bisa tersenyum sendu melihat pertemuan yang begitu emosional itu. Di baliknya, Gavriel menghela napas perlahan. Untuk pertama kalinya, ia melihat secercah pintu pengampunan terbuka, meski masih samar dan penuh luka.

Sementara itu, dari balik kaca, suara mesin pernapasan ayahnya terus berdengung pelan. Wijaya, lelaki yang dulu membesarkan Zayna dengan tangan kokoh dan cinta yang tak pernah putus, kini hanya bisa dilihat dari balik batas kaca, terbaring diam dalam pertarungan hidupnya sendiri. Dan Zayna berdiri di sana, membawa seluruh kepingan masa lalu, luka, cinta, dan harapan dalam satu nafas panjang yang menggantung di udara rumah sakit yang sunyi.

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang