Assalamualaikum
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan vote dan komen ya 💗
••••
Langit siang menggantung dengan warna biru pucat yang hangat, sementara aroma mentega panggang dan vanila masih melayang-layang di udara toko kue kecil itu. Di balik etalase kaca yang berisi tart manis dan roti warna-warni, tiga perempuan duduk mengelilingi meja bundar yang biasanya dipakai pelanggan.
Zayna duduk bersandar, meletakkan kotak makan siangnya yang baru dibuka. Adiba di sampingnya sedang mengupas telur rebus dengan malas, dan Chika–gadis yang paling muda di antara mereka terlihat tersipu-sipu saat topik obrolan mulai beralih ke sesuatu yang lebih personal.
"Jadi," Zayna memulai dengan nada penuh selidik, matanya menyipit menggoda. "Kapan undangannya nyampe ke tanganku, Nona Chika yang katanya mau tunangan?"
Chika spontan menunduk, menyembunyikan senyum di balik tangan yang menutupi wajahnya.
"Ya ampun, Mbak belum pasti juga, masih nunggu kepastian dari keluarga dia," katanya malu-malu, suaranya hampir tenggelam oleh tawa kecil Zayna dan Adiba.
"Wah, udah tahap keluarga ya," seru Adiba sambil tertawa. "Aku baru sebatas nyimpen nama di doa malam. Belum ada yang datang-datang."
Zayna ikut tertawa, hatinya terasa ringan melihat dua perempuan yang ia anggap seperti sahabat sendiri itu tumbuh dan bersinar dengan jalannya masing-masing.
"Kalau kamu bahagia, aku juga ikut bahagia, Chika," ucap Zayna, kali ini dengan nada lembut yang membuat candaan tadi sejenak mereda. "Yang penting kamu yakin dia orang yang mau bertahan saat kamu repot, lelah, dan bahkan saat kamu nggak bisa tertawa."
Chika menatap Zayna sejenak, lalu mengangguk pelan. "Insya Allah, Mbak. Dia bukan orang sempurna, tapi dia sabar dan mau belajar bareng."
Adiba tersenyum. "Sabar itu kunci, sih. Karena yang namanya hubungan nggak selamanya manis kayak cupcake di etalase, tapi juga kadang pahit, asin, dan tak terduga."
Zayna mengangguk, menatap dua gadis itu sejenak, lalu memandang keluar jendela toko di mana cahaya matahari menyusup lewat kaca, membentuk bayangan hangat di lantai.
Tiba-tiba ponsel Zayna berbunyi. Zayna mengambil ponsel tersebut dan dalam layar ponsel itu tampak sebuah pesan dari Aktar: 'Zayna, Abang pulang dulu ya. Ini mendadak, karena Abang diberitahu Bunda pagi ini bahwa Ayah tengah kritis. Abang tidak akan memaksamu untuk pulang ke Jakarta sekarang, tapi Abang tengah menunggu keputusan dan kesiapanmu. Maaf.' Zayna terdiam sesaat, kemudian matanya mulai tampak berkaca-kaca. Perlahan air mata itu meluncur di pipinya, tak terbendung, sekuat apa pun Zayna menahannya. Walau hubungannya tidak baik dengan Ayahnya tetap saja ia sedih jika keadaan ayahnya seperti ini.
"Kenapa Zay?"
"Mbak, kenapa?"
Pertanyaan spontan bersama dari Adiba dan Chika membuyarkan lamunannya. Zayna menyeka air matanya perlahan sambil menarik nafas, lalu menatap satu per satu dari mereka. "Apa ini sudah waktunya aku kembali ke Jakarta?" katanya pelan, tapi cukup untuk didengar.
"Ayahku kritis. Aku harus gimana?" Zayna melontarkan kalimat itu sambil air matanya tak mampu lagi dibendung, sekuat apa pun hatinya menahan, air mata itu meluruh satu per satu, lalu jatuh di pangkuannya.
"Mbak, aku nggak tau konflik apa yang membuat Mbak pergi. Tapi itu Ayah Mbak, coba temui walau sebentar. Aku tau Mbak pasti berat untuk pulang kembali, tapi kalau tidak aku takut Mbak akan menyesal nanti." ucap Chika.
"Bener, Zayna. Dia masih orang tuamu, bagaimana pun dia memperlakukan, masalah kamu akan memaafkan atau tidak. Coba temui sebentar untuk melihat sesaat sebelum kamu menyesal nantinya." Adiba turut memberikan dukungan sambil meremas tangan Zayna lembut, memberikan kehangatan dan sebuah dukungan moral yang tak ternilai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
Teen FictionCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
