Chapter 20 - Kebahagiaan Sementara

297 8 0
                                        

Assalamualaikum

Sebelum membaca tinggalkan jejak kalian berupa vote dan komen ya sayangkuh, biar aku semakin semangat up 💗

Jangan jadi readers silent juga ya! ☺️

Happy Reading!

••••

Alvaro terbaring lelap di atas brankar dengan selimut hijau muda menutupi tubuh kecilnya. Suara hembusan AC berdesir pelan di tengah kesunyian. Wajah Alvaro terlihat lebih damai, meski warna pucat masih tampak di bibirnya. Di sisi brankar, Gavriel duduk tanpa bergeming, matanya tak lepas dari wajah anak lelaki itu. Tangan kirinya menggenggam jemari mungil Alvaro, sementara tangan kanannya mengusap lembut rambut anak itu, seolah ingin menyalurkan kekuatan lewat sentuhan.

Di sudut ruangan, Zayna duduk di atas sofa kecil. Tubuhnya tampak tegak, tapi kedua tangannya saling menggenggam erat, menunjukkan kegugupan yang tak mampu ia tutupi. Ia beberapa kali menoleh ke arah jam dinding, lalu kembali melirik ke arah Gavriel. Udara di antara mereka seperti ditarik sunyi, padahal banyak yang ingin diucapkan, namun hati masih terlalu ragu untuk membuka.

Perlahan, Zayna berdiri. Langkahnya ringan dan hati-hati mendekati tempat tidur Alvaro, tapi pandangannya tak bisa tidak melirik pria yang kini ada di samping anaknya itu. Gavriel tetap diam, hanya sesekali menunduk menatap Alvaro, lalu kembali menatap wajah Zayna ketika ia sudah berdiri tak jauh darinya.

"Riel, kamu nggak pulang?" Suara Zayna terdengar pelan dan hati-hati, seperti takut.

Gavriel menggeleng pelan. "Belum. Aku mau di sini, nemenin Alvaro."

"Tapi, kamu kan harus kerja." Zayna mencoba tersenyum, walau canggung tak mampu disembunyikan.

Lagi-lagi Gavriel menggeleng. "Hari ini aku izin. Aku cuma pengin di sini. Jaga Alvaro."

Zayna menatapnya dalam-dalam, seolah ingin mencari kebenaran dalam sorot mata pria itu. Tak ada niat buruk di sana. Hanya ketulusan yang nyaris menyakitkan. Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil, lalu duduk kembali di sofa, menunduk dan menghela napas pelan.

Beberapa saat berlalu dalam senyap. Lalu, suara Zayna pecah, lembut dan lirih. "Terima kasih ya, Riel, semalam kamu udah bantu bawa Alvaro ke rumah sakit," katanya tanpa menatap langsung.

Gavriel menoleh pelan, menatapnya dengan sorot penuh sesal. "Ini sudah jadi tugas aku, Na. Maaf juga, selama ini aku selalu nggak ada buat kamu dan Alvaro."

Zayna menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Kata-kata itu seperti angin yang menerbangkan tumpukan emosi yang selama ini ia pendam. Tapi ia memilih menahan semuanya. Ia tak ingin larut dalam perasaan yang tak pasti.

Gavriel melanjutkan, suaranya rendah tapi mantap. "Aku tahu, aku salah. Selama ini aku terlalu banyak lari. Tapi sekarang aku cuma pengin ada. Buat Alvaro, dan buat kamu. Kalau kamu izinkan."

Zayna menunduk, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak ingin Gavriel melihatnya rapuh.

"Kamu nggak ke toko, Na?" Gavriel bertanya, mencoba mengalihkan suasana.

"Nggak, aku kan harus jaga Alvaro." Jawaban Zayna singkat, tapi tegas.

"Kamu ke toko aja. Biar aku yang jagain Alvaro." Suara Gavriel terdengar lembut, menenangkan. "Tenang aja, jangan khawatir. Nanti kalau ada apa-apa, aku langsung telpon kamu."

Zayna terdiam. Ia ragu. Bukan karena tak percaya Gavriel, tapi karena hatinya masih sulit membiarkan dirinya kembali bersandar pada seseorang yang pernah mengecewakannya. Tapi saat ia menatap wajah Alvaro yang tertidur damai, dan melihat tangan Gavriel yang tak lepas menggenggam tangan anak mereka, ada bagian dari dirinya yang mulai melembut.

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang