Chapter 33 - Ketahuan

69 7 0
                                        

Alvaro sudah seharian bersama Gavriel.

Tadinya Zayna ingin menjemput lebih cepat. Bahkan sempat bersiap selepas dzuhur, tapi ponselnya bergetar lebih dulu dan nama Gavriel muncul di layar.

"Na," suara di ujung sana terdengar santai nyaris terlalu santai untuk ukuran seorang lelaki yang sedang bekerja. "Nggak usah buru-buru. Alvaro lagi bantuin aku kerja."

Zayna mengerjap. "Membantu?"

"Iya," jawab Gavriel ringan. "Bantu nemenin."

Zayna tersenyum kecil. Ia tahu betul arti membantu versi Alvaro. Duduk di kursi dekat meja kerja, menggambar apa saja yang terlintas di kepalanya, lalu bertanya tentang hal-hal yang bahkan orang dewasa jarang memikirkannya.

"Dia nggak mau pulang," lanjut Gavriel, seolah membaca keraguan Zayna. "Katanya mau di sini dulu. Aku juga udah pulang dari kantor siang ini, jadi nggak apa-apa. Nanti sore aja kamu jemput."

Zayna menatap jam dinding, lalu menghela napas pelan.

"Maaf kalo Alvaro nyusahin kamu padahal kamu lagi kerja," katanya akhirnya.

"Kewajibanku, tidak nyusahin sama sekali," jawab Gavriel.

Kalimat itu menutup percakapan mereka. Dan entah kenapa, sejak saat itu, Zayna merasa hari berjalan lebih ringan.

Sore itu, langit Jakarta tampak seperti kain tipis yang perlahan ditarik ke arah gelap. Tidak mendung, tidak pula cerah hanya redup, dengan cahaya matahari yang seolah ragu untuk benar-benar pergi. Zayna memarkir mobilnya pelan di depan rumah Gavriel, sebuah rumah dua lantai yang jika dari depan tidak terlalu besar, tapi dalamnya begitu besar dan luas. Rumah yang anehnya selalu membuat dadanya terasa berdegup kencang setiap kali ia datang.

Ia mematikan mesin, duduk sebentar tanpa membuka pintu. Tangannya bertahan di setir, matanya menatap lurus ke depan.

"Tenang, Zayna. Ini cuma jemput Alvaro."

Ia menghela napas, lalu meraih tas kain berwarna krem di kursi sebelah. Di dalamnya ada beberapa wadah makanan yang masih hangat, sup ayam dengan irisan wortel dan kentang, tumis buncis sederhana, dan sepotong kue pisang yang ia buat bersama Arumi siang tadi. Tidak ada yang istimewa. Hanya masakan rumah.

Akhirnya, ia turun dari mobil dan melangkah ke teras. Degup di dadanya terasa aneh. Ia mengetuk pintu.

Belum sempat ketukan kedua, pintu terbuka lebar.

"BUNDA!"

Alvaro berdiri di sana, wajahnya belepotan cokelat. Ada noda di pipi, di dagu, bahkan sedikit di hidung. Rambutnya acak-acakan, matanya berbinar seperti baru saja menemukan dunia baru.

Zayna membeku sepersekian detik, lalu tertawa lepas.

"Ya ampun," katanya sambil berjongkok sedikit, "Kamu habis makan cokelat Nak?"

Alvaro terkekeh bangga. "Hehe, iya, Ayah yang kasih cokelat!"

Zayna mengelus kepala anaknya, lalu menggeleng kecil.

"Lucu kan?"

Suara itu datang dari dalam rumah. Gavriel muncul dari ruang tamu. Kemeja putihnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan kekarnya. Rambutnya sedikit berantakan. Dan entah kenapa, itu cukup membuat Zayna merasa salah tingkah.

Zayna berdiri, mencoba mengatur ekspresinya. "Kenapa Alvaro kamu kasih cokelat?"

Gavriel tersenyum kikuk. "Hanya sedikit."

Alvaro langsung menimpali, "BANYAK."

Mereka tertawa bersamaan. Tawa yang tidak direncanakan, tidak dibuat-buat, hanya mengalir.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 13 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang