Assalamualaikum
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan vote dan komen ya 💗
Jangan jadi readers silent ya! ☺️
Happy Reading!
••••
Langit malam sudah menjelma kelam, angin menyapu pelan dedaunan di halaman. Aroma tanah yang baru disiram hujan sore tadi masih menggantung di udara.
Zayna baru saja pulang. Wajahnya tampak lelah, tapi masih tetap sama, cantik, anggun, penuh semangat. Gavriel menyambutnya tanpa banyak kata, hanya sebuah kalimat pendek yang membuat waktu serasa berhenti.
"Aku ingin bicara berdua."
Zayna sempat ragu, namun akhirnya mengangguk. Di teras itu, tempat dulu ia biasa menanti kedatangan yang tak pernah pasti, kini justru menjadi saksi dari percakapan yang terlalu lama ditunda.
Gavriel menarik napas panjang. Jemarinya saling menggenggam erat, seperti menahan guncangan dari dalam dirinya sendiri.
"Alvaro cerita," ucapnya pelan. "Tentang kamu. Tentang malam-malam kamu menangis diam-diam. Tentang doa-doamu tentang kata-kata yang kamu kira tak ada yang dengar."
Zayna mematung. Bahunya sedikit naik, tapi wajahnya tetap menunduk.
Gavriel melanjutkan, suaranya pelan tapi tajam, menusuk.
"Kamu pernah bilang, 'Kalau cinta bisa mati, aku udah lama sembuh. Tapi sayangnya cintaku belum mati.'"
Ia berhenti sejenak. Lalu menatap Zayna, penuh luka dan harap yang bertabrakan.
"Apakah itu benar?"
Zayna tak langsung menjawab. Pandangannya kosong, tapi ada sesuatu di matanya yang mulai memendar, seperti embun yang terlalu lama tertahan.
"Jawab, Zayna," bisik Gavriel, matanya berkaca. "Tolong, jawab aku."
Dan pada akhirnya, Zayna mengangkat wajahnya dengan air mata yang jatuh perlahan tanpa suara, tanpa drama, hanya kesunyian yang terasa begitu bising di dalam dada.
"Ya," suaranya pecah. "Aku nggak pernah ada sekalipun niatan untuk melupakanmu, Riel."
Ia tersenyum miris, seakan menertawakan hatinya sendiri.
"Aku memang kecewa dengan kamu. Sangat. Tapi rasa cintaku justru membuat kecewa itu pelan-pelan luntur. Aku ingin membencimu, aku berusaha tapi hatiku nggak pernah bisa tega."
Gavriel terpaku. Kepalanya tertunduk, rahangnya mengencang menahan sesak.
Zayna melanjutkan, suaranya gemetar namun tetap tegas. "Yang paling membuatku hancur bukan karena kamu pergi, tapi karena kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan padaku. Aku tahu, kita beda. Aku tahu hubungan kita pasti akan sulit. Aku bahkan sudah mempersiapkan hatiku untuk patah saat kita harus berpisah. Tapi saat aku tahu aku mengandung anak kita, aku berharap setidaknya kamu mau bertanggung jawab.”
Ia mengusap pipinya cepat, tapi air matanya terus mengalir, seolah menumpahkan hujan dari musim yang selama ini ia pendam.
"Aku gak minta kamu menikahiku, Riel. Aku cuma ingin kamu ada. Meski hanya sebagai Ayah, bukan sebagai pasangan. Tapi harapan itu hancur waktu kamu bilang, kamu nggak ingin anak itu."
Nafas Gavriel tercekat. Dadanya sesak, jantungnya berdetak tak karuan.
"Aku sangat ingin kembali denganmu. Sampai hari ini. Tapi yang membuatku pergi, bukan rasa marahku padamu, tapi ketakutanku bahwa kamu akan menyakiti anakku. Anak kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
Teen FictionCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
