Chapter 30 - Maaf Yang Selalu Terucap

246 11 0
                                        

Pagi itu, embun belum sepenuhnya lenyap dari dedaunan. Taman kecil di dekat rumah Zayna masih sepi, hanya beberapa suara burung pagi dan bisik daun yang berayun pelan. Di bangku kayu bercat putih yang sudah mulai terkelupas, Gavriel menunggu.

Tangannya gelisah. Napasnya tidak teratur. Setiap detik menunggu Zayna seperti memanjangkan waktu, membuat pikirannya terus berputar dengan kalimat-kalimat yang sudah dihafalnya semalaman.

Lalu langkah lembut itu datang.

Zayna berjalan pelan dari kejauhan. Gamis kremnya menyapu tanah berumput, khimar jatuh anggun menutup pundak. Ia tampak tenang dari luar, tapi di matanya bekas kelelahan belum benar-benar hilang.

Gavriel berdiri menyambut. "Na..."

Zayna mengangguk singkat. Lalu mereka berdiri saling berhadapan. Ada jarak dua langkah yang tidak berani mereka patahkan. Seperti ada dinding tak kasatmata terbuat dari luka, waktu, dan kata-kata yang belum sempat diucap.

Gavriel menarik napas panjang, seolah harus menyelam ke dalam dirinya sendiri untuk menemukan keberanian.

"Na, aku mau jujur," ucapnya pelan, nyaris berbisik.

Zayna mengangguk, tapi matanya tak bisa bohong. Ada kegelisahan yang ia coba tahan.

"Tentang taruhan lima tahun yang lalu?" tanyanya, senyum getir terbentuk di wajahnya.

Gavriel terdiam. Mata coklatnya membelalak sedikit.

"Ka-kamu udah tahu?" bisiknya, nyaris tak percaya.

Zayna menatapnya, tidak dengan kemarahan. Hanya dengan mata yang lelah. "Nggak sengaja dengar kemarin. Waktu kalian ngobrol di ruang tengah."

Sunyi. Hanya ada suara dedaunan dan jantung mereka yang berdetak tak beraturan.

Zayna menunduk, suaranya pelan, tapi tegas. "Kenapa kamu nggak pernah bilang, Riel? Tentang taruhan itu?"

Gavriel menelan ludah. Matanya memohon pengertian, tapi ia tahu, kali ini bukan tentang dimengerti. Ini tentang kejujuran yang terlambat.

"Karena aku takut kamu bakal pergi jauh. Takut kamu bakal anggap semua cinta aku cuma palsu." jawabnya jujur.

"Tapi kamu tetap kehilangan aku, kan?" suara Zayna bergetar. Bukan nada tinggi, bukan emosi yang meledak-ledak, tapi kelelahan yang mengendap terlalu lama.

"Aku nggak marah," lanjut Zayna. "Aku bahkan nggak bisa marah, Riel. Karena aku tahu kamu mencintaiku dengan sungguh-sungguh. Tapi aku capek."

Gavriel terpaku.

Zayna menatap matanya dalam-dalam, tak lagi menghindar. "Aku capek jadi orang yang harus selalu kuat. Harus selalu berlapang dada. Harus selalu memaafkan bahkan sebelum dimintai maaf."

Ia menghela napas, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku perempuan, Riel. Aku juga pernah ingin dimengerti. Ingin dihargai. Ingin dicintai tanpa diawali permainan. Aku juga manusia yang punya perasaan."

Gavriel menunduk. "Maaf, Na..."

"Maaf nggak bisa menghapus semuanya, Riel," sahut Zayna cepat, tapi masih dengan suara rendah.

"Aku tau aku tidak tau diri, tapi aku akan selalu bilang maaf." bisik Gavriel. "Aku bodoh. Bodoh banget. Aku kira aku bisa main-main. Tapi kamu terlalu tulus. Terlalu indah buat dijadikan permainan. Aku jatuh cinta, Na. Beneran jatuh cinta."

Zayna tersenyum kecil. Senyum yang getir dan dewasa.

"Aku tahu, Riel. Aku tahu kamu mencintaiku. Aku bisa ngerasain itu. Tapi aku juga tahu kamu terlambat buat jujur. Kamu terlambat buat bilang semua ini waktu hatiku masih utuh."

Love Different Religions (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang