Assalamualaikum
Sebelum membaca tinggalkan jejak kalian berupa vote dan komen ya readers tercinta, biar aku semakin semangat up 💗
Jangan jadi readers silent juga ya 🫶🏻☺️
Happy Reading!
••••
Pukul sembilan malam, Gavriel akhirnya tiba di Jogja setelah menempuh perjalanan panjang tanpa henti. Saat ini, ia berada di jalan menuju rumah Zayna. Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan lampu teras yang menyala terang. Pintu rumah terlihat masih terbuka lebar, seolah pemiliknya sedang terburu-buru.
Gavriel turun dari mobil, berjalan cepat menuju pintu, dan mengetuknya meskipun pintu sudah terbuka.
Beberapa detik kemudian, Zayna muncul dari dalam rumah. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan napasnya terdengar tersengal. Penampilannya yang kacau membuat Gavriel langsung khawatir.
"Ada apa, Na?" tanyanya cepat.
"Riel… Alvaro… Alvaro kejang-kejang!" Zayna tergagap, menunjuk ke arah kamar dengan tangisan yang pecah di tengah kalimatnya.
Tanpa pikir panjang, Gavriel berlari ke kamar yang ditunjuk Zayna. Di dalam, Alvaro terbaring lemah, tubuhnya berkeringat dan menggigil. Gavriel tidak menunggu lebih lama. Ia langsung mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan penuh perlindungan.
"Ayo ke mobil! Sekarang!" seru Gavriel tegas.
Zayna dan Adiba mengikuti Gavriel yang berjalan cepat menuju mobil. Gavriel meletakkan Alvaro di pangkuan Zayna yang duduk di kursi belakang. Zayna terus memeluk anaknya, dan Adiba berada di sampingnya setia menemani.
Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Zayna memeluk Alvaro erat sambil menangis pelan. Adiba yang duduk di sampingnya, mencoba menenangkan sahabatnya dengan mengelus punggung Zayna.
"Tenang, Zay. Kita sudah hampir sampai," bisik Adiba lembut.
Gavriel memacu mobil dengan kecepatan stabil, fokusnya hanya satu memastikan Alvaro mendapat pertolongan secepat mungkin.
Setibanya di rumah sakit, Alvaro segera dibawa masuk ke ruang UGD. Zayna tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada Alvaro, tapi seorang perawat meminta dengan sopan agar ia menunggu di luar. Dengan berat hati, Zayna mundur dan duduk di bangku ruang tunggu bersama Adiba. Gavriel berdiri di dekat mereka, mondar-mandir dengan wajah cemas.
Setelah hampir satu jam menunggu, seorang dokter keluar dari ruang UGD. Zayna dan Gavriel langsung berdiri, mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Gavriel cepat.
"Pasien mengalami demam tinggi hingga memicu kejang. Tapi jangan khawatir, kondisinya sudah stabil. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat untuk observasi lebih lanjut," jelas dokter itu dengan tenang.
Zayna menghela napas panjang, merasa lega. Gavriel pun mengangguk kecil, mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut.
Setelah dipindahkan ke kamar rawat, Zayna dan Adiba menemani Alvaro yang kini sudah sadar, meskipun masih terlihat lemah. Gavriel pergi sebentar untuk mengurus biaya administrasi di bagian kasir.
Ketika Gavriel kembali dan membuka pintu kamar, Alvaro yang sudah terjaga langsung berseru, "Ayah!"
Gavriel tersenyum, hatinya mencair mendengar panggilan itu. Ia segera duduk di samping ranjang Alvaro, mengelus tangan kecil anaknya yang terpasang infus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Different Religions (On Going)
Ficção AdolescenteCinta beda agama Kehilangan kesuciannya Hamil Di usir keluarga Itu semua di alami oleh gadis cantik bernama Zayna Marsell Hanara yang kehilangan kesuciannya karena jebakan yang di lakukan oleh teman dari pacar beda agamanya. Sialnya cowok yang bern...
