Chapter 23 - Getaran Yang Kembali Muncul

212 7 0
                                        

Assalamualaikum

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan vote dan komen ya 💗

Jangan jadi readers silent ya! ☺️

Happy Reading!

••••

Pagi itu, langit tampak begitu bersahabat. Cahaya mentari menyusup lembut melalui celah-celah tirai jendela apartemen Gavriel, memeluk seluruh ruang dengan hangatnya yang lembut. Udara pagi masih segar, dan keheningan pagi hanya ditemani oleh suara burung-burung kecil yang sesekali berkicau di kejauhan.

Gavriel berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemejanya dengan semangat yang tak bisa ia sembunyikan. Tangannya menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangannya, menyisakan aroma maskulin yang samar namun menenangkan. Hari itu, ia tak sekadar akan mengantar anaknya ke sekolah. Lebih dari itu, hatinya berdebar menanti pertemuan dengan sosok yang hingga kini masih mengisi ruang hatinya, Zayna.

Sebelum benar-benar melangkah keluar dari kamar, ia berhenti sejenak. Matanya menangkap paper bag sederhana yang ia letakkan di atas nakas. Di dalamnya ada dua buah syal-lembut, hangat, dan berwarna teduh. Satu untuk Alvaro, dan satu lagi untuk Zayna.

Ia mengambil paper bag itu dengan perlahan, dan senyum merekah tanpa ia sadari di wajahnya. Entah mengapa, hanya dengan melihatnya saja, hatinya terasa hangat. Dengan hati-hati, ia menggenggam erat paper bag itu, lalu melangkah keluar dari apartemennya menuju parkiran.

Perjalanan ke rumah Zayna terasa begitu cepat. Gavriel menyetir dengan perasaan ringan, seperti ada kupu-kupu yang menari di dalam dadanya. Sesampainya di depan rumah, ia melihat pintu depan rumah Zayna sedikit terbuka. Ia mengetuk pelan, namun sebelum sempat disambut, pintu terbuka lebih lebar dan muncullah Adiba yang tampak hendak pergi.

"Zayna ada di dalam, dia lagi masak," ujar Adiba cepat, bahkan sebelum Gavriel sempat membuka suara. Seolah sudah hafal betul kebiasaan pria itu.

"Oke, terima kasih ya!" jawab Gavriel dengan senyum hangat. Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara, membiarkan Adiba melanjutkan perjalanannya.

Di dalam, Alvaro sudah duduk manis di meja makan, menanti sarapan yang sedang dimasak bundanya. Begitu melihat ayahnya, wajah Alvaro langsung bersinar cerah.

"Aya-"

"Sstt," bisik Gavriel, meletakkan jari telunjuk ke bibirnya sambil tersenyum penuh rahasia. Alvaro mengangguk cepat, ikut menjaga kejutan kecil pagi itu.

Dari dapur, terdengar suara Zayna yang sibuk. "Adiba, tolong ambil piring di laci dan susun di meja!"

Tanpa menunggu, Gavriel membuka laci dan mulai mengambil piring seperti yang diperintahkan Zayna, diam-diam menikmati perannya dalam pagi yang hangat itu.

"Adiba?" panggil Zayna lagi, heran karena tidak ada jawaban. Ia memutar tubuhnya, dan seketika matanya membelalak melihat siapa yang sedang berdiri di sana.

"Kapan kamu datang? Dan Adiba ke mana?" tanyanya dengan nada terkejut.

"Sudah tiga menit yang lalu. Oh, dan ya temanmu itu sudah berangkat ke toko kue," jawab Gavriel dengan santai.

Zayna mendengus pelan. "Pergi tanpa pamit ke aku? Huh, awas aja Adiba!"

Gavriel hanya tersenyum kecil melihat kekesalan Zayna yang terlihat lucu di matanya.

"Ngapain kamu pagi-pagi datang ke sini?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tajam, menutupi kegugupan yang mulai menjalari hatinya.

"Tentu saja untuk mengantar Alvaro ke sekolah," jawab Gavriel, melirik anaknya yang masih memperhatikan mereka dengan mata berbinar.

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang