Chapter 18 - Gavin

447 12 0
                                        

Assalamualaikum

Sebelum membaca ada baiknya tinggalkan jejak kalian dengan vote dan komen ya readers tercinta 💗

Jangan jadi readers silent juga ya 🫶🏻☺️

Happy Reading!

••••

Seusai mengantar Zayna dan Alvaro pulang, Gavriel segera memacu mobilnya menuju Jakarta. Tidak ada waktu untuk mengambil barang-barangnya di apartemen. Biasanya, ia akan menyuruh sekretaris pribadinya untuk mengurus hal-hal kecil seperti itu dan akan menyuruh sekretaris pribadinya membawa mobilnya, tapi ini mendadak.

Ketika sore menjelang, Gavriel sampai di rumah Andra. Gavriel mengetuk pintu rumah Andra berkali-kali. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.

"Sabar, ogeb!" pekik Andra dengan nada kesal, berlari ke arah pintu.

Setelah beberapa saat, pintu akhirnya terbuka, menampilkan sosok Andra dengan sarung, baju koko, dan peci. Andra menatap tajam pelaku yang mengetuk pintu tidak sabaran.

Gavriel mengernyitkan dahi. "Kemana aja lo?" tanyanya, tanpa melihat penampilan Andra sekarang.

"Sholat, gak lihat kah penampilan gue sekarang?" jawab Andra, malas menanggapi kekesalan Gavriel.

Gavriel akhirnya memperhatikan penampilan Andra dari atas ke bawah. "Masya Allah, bro!" ucapnya sambil menggelengkan kepala, setengah takjub.

Andra menoyor kepala Gavriel. "Lo kristen blok!"

"Ya, emang kenapa? Toleransi, bro. Toleransi," jawab Gavriel santai, sambil menggosok kepalanya yang sakit.

Andra mengajak Gavriel masuk. "Ayo masuk, gue mau ganti baju dulu," ujarnya.

Di ruang tamu, Gavriel duduk sambil memainkan ponselnya. Ia memandangi wallpaper ponselnya sebuah foto Zayna dan Alvaro yang ia ambil tadi. Dalam foto itu, Zayna memeluk Alvaro yang memegang medali kemenangan. Senyum kecil mengembang di wajah Gavriel.

"Lo ngapa senyum-senyum gitu?" tanya Andra, yang baru selesai mengganti bajunya.

Andra melirik ponsel Gavriel dan langsung bersorak heboh. "Gilak, itu anak lo?"

Gavriel mengangguk. Wajahnya memancarkan kebanggaan yang tidak biasa.

Andra duduk di samping Gavriel sambil menepuk pundaknya. "Zayna banyak berubah ya," ujarnya.

"Dia makin cantik dengan hijabnya," balas Gavriel. Ada nada kagum yang tidak bisa disembunyikan.

Andra tertawa kecil. "Btw, bro, anak lo mirip banget sama lo. Zayna mah cuma kebagian hikmahnya doang."

Gavriel tersenyum. "Makanya gue bisa ngenalin anak gue langsung. Saat gue ketemu dia, hati gue kek bilang itu anak gue. Padahal gue sendiri gak terlalu suka sama anak kecil," ujarnya sambil mengingat momen itu.

Andra mengangguk penuh pengertian. "Ya, itu namanya ikatan batin."

Mereka melanjutkan obrolan, hingga Andra memperhatikan pakaian Gavriel. "Btw, lo mau jenguk Gavin pake baju itu?" tanya Andra sambil menunjuk kaos Gavriel.

Gavriel menghela napas. "Gue gak sempat pulang ke apartemen setelah nganter Zayna dan anak gue. Gue pinjem baju deh."

Andra mencibir. "Kaya tapi pinjam baju."

"Mendesak, Ndra," jawab Gavriel dengan santai.

"Kemeja ya, Ndra!" teriak Gavriel saat Andra beranjak dari duduknya untuk mengambil baju untuk Gavriel.

Love Different Religions (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang