8. Pahatan Mutiara

3.1K 341 0
                                        

-:*:- e d e l w e i s -:*:-

-:*:- e d e l w e i s -:*:-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-:*:-


Punggungnya bersandar rapat pada dinding dingin di sudut kamar. Menyandarkan kepala ke samping tepat pada tembok, seolah berharap jika tempatnya bersandar adalah bahu tegap seorang Ayah yang selalu ternanti--bukan tembok tak bernyawa seperti kenyataan.

Masih berada di kurungan yang sama. Dengan wajah lesu bagai tak berminat hidup juga tak berminat mati. Pikiran untuk melarikan diri dari tempat ini terenyah sebab percuma, jalan pulang pun ia tak tahu. Di luar sana, ia tidak tahu juga akan macam apa nanti keadaannya.

Kulitnya semakin bersih terawat bak pucatnya para kaum Eropa sana. Tidak ada lagi warna kunyit yang menyembunyikan sebongkah mutiara. Ah ... barangkali tidak ada satupun laki-laki yang mengatakan bahwa dia buruk rupa.

Kirana mendekatkan jemarinya yang memeluk kapur ntah milik siapa; ia hanya menemukannya asal di bawah kolong ranjang. Mengoreskan taburan putih pada dinding, menambah garis demi garis yang memang sudah ada. Empat garis tegak tercoret miring satu garis. Di bagian baru, empat garis tegak, ia tambahkan satu coretan miring. Mengubah jumlah mereka menjadi sepuluh garis.

Itu maknanya, napasnya sudah berhembus di sini selama sepuluh mentari terbit dan terbenam. Sekali lagi, Kirana beruntung sebab masih dalam keadaan perawan walau tempat tinggalnya yang terdengar ranjau. Mereka belum menyuruhnya bekerja karena kakinya masih cacat, membuat napasnya masih bisa lepas dari jeratan belenggu--meski sementara, barangkali.

Decitan pintu terbuka membuat Kirana spontan mengalihkan pandang. Wanita dengan kebaya merah tersenyum tipis padanya yang sama sekali tak berekspresi. Sembari membawa satu paket baju kain cantik masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali pintu yang di bukanya.

Dia mendekat dan duduk di bibir ranjang. "Neng, ganti baju, yah? Hari ini Nyai mau Eneng cantik."

"Kenapa bertanya? Kalau aku nolak juga percuma," lirih Kirana, batinnya bergumam tak tentu arah. Ada apa gerangan?

Helaan napas kecil keluar dari bibir wanita itu. "Ini, Eneng ganti dulu bajunya. Teteh tunggu di luar. Kalau sudah, bilang." Setelah meletakkan pakaian yang di bawanya, dia lantas berlalu pergi seperti omongannya tadi.

Kirana mendecih pahit sembari memusatkan netranya pada lipatan rapi pakaian. Ya, dirinya sadar jika sikapnya tadi tidak ada etika--gadis itu ... sedikit merasa berdosa.

Selesai mengenakan kebaya putih dan kain jarik batik yang baru, Kirana memutar gagang pintu hingga terbuka. Dia yang di luar tersenyum tipis dan masuk kembali. Gadis dengan rambut tergerai hingga hampir ke punggung menutup pintu sebelum ikut duduk di bibir ranjang.

Wanita yang Kirana ketahui namanya Lilis nampak mengeluarkan alat rias dari kotak. Dia mulai memposisikan wajahnya, dan membaluri permukaan itu dengan sapuan rias.

EdelweisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang