-:*:- e d e l w e i s -:*:-

-:*:-
Sartika pernah mendongengkan kisah tokoh pejuang wanita yang hebat, Raden Ajeng Kartini. Sosok pelopor kebangkitan perempuan Nusantara yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita.
Kirana tak pernah berhenti takjub dengan segala perjuangan beliau yang mengadvokasi hak-hak dan pendidikan perempuan di tengah macam-macam radang belenggu. Yang memang nyatanya, masyarakat masih memandang harkat dan martabat perempuan tidak setara dengan laki-laki, terutama dalam pendidikan.
Pandangan itu tak hanya terjadi dalam kalangan masyarakat pribumi di sekitar pendopo keluarga ningrat, tapi juga di dalam lingkaran para kompeni. Mereka menyetarakan perempuan pribumi bahkan lebih-lebih rendah, dilihat dari banyaknya perempuan pribumi yang dijadikan anjing piaraan (Nyai) oleh para londo.
Saban kali Kirana mengingat akan fakta itu, air matanya merintik tak permisi. Nuraninya seakan ditusuk oleh ribuan bambu runcing yang menajam. Tak sampai hati dirinya memutar terus teriakan penderitaan dari mulut mereka. Namun kini, dirinya sendirilah yang menjadi salah satu akar dari suara jeritan itu.
Tangannya mendingin mendapati wajah Edwin berada tepat di samping ranjang tempatnya tertidur tanpa busana, hanya mengandalkan selimut tebal untuk menutupi auratnya. Batinnya meluruh diruntuhkan kenyataan sesaat, wajahnya pias berharap ini hanya mimpi yang datang sekelibat.
Sesak dadanya, berusaha bangkit bergetar perlahan tanpa suara. Memakai asal kembali pakaiannya yang berserak dengan mata memanas pedih. Sekuat tenaga Kirana menahan air mata dan sakit. Ia pergi dari sana meninggalkan insan bajingan yang masih Tuhan kasihani napas.
Kirana berlari ke kamarnya, masuk dan mengunci rapat-rapat lalu terduduk di lantai. Raut dan penampilan perempuan itu berantakan, kekecewaan menghunus tajam. Air mata yang ditahannya tidak lagi berguna, mereka jatuh juga, membuat anak sungai panjang menjabarkan derita.
Pun Kirana meringkuk terisak juga meski dari awal ia berjanji jika sampai kamar nanti tak menjatuhkan isak tangis lemah. Ini tentang harga dirinya, yang ia pikir semua ini tidak akan pernah terjadi sebab sang Tuan tak melabuhkan lirik.
Laki-laki tetaplah laki-laki, mau sekuat apapun dia memegang teguh tak akan punya hasrat. Dan kompeni, memanglah akan menjadi kompeni. Yang pada hakikatnya tak punya nurani.
Kenapa dirinya menangis? Bukankah ia pernah mewanti-wanti diri jika kapan saja sang Tuan bisa membuatnya tak lagi memiliki kehormatan sebagai perempuan? Karena ia gundik, yang dibeli untuk menguntungkan. Kirana tertawa getir, menyadari betapa rendahnya harga dirinya. Ia, bukan seorang yang layak di panggil gadis lagi.
Perempuan itu semakin meringkuk, mengharapkan harapan semu jikalau Sartika dapat mendekapnya sebentar saja. Melindunginya seperti kemarin saat pasar ricuh oleh sekelompok kompeni berbisa mematikan yang merenggut satu nyawa pribumi tak berdosa. Banyak granat yang meledak dan menghadirkan luka. Batuan kasar membuatnya jatuh membiru dan berdarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Edelweis
Ficción históricaFlowers are the music of the land. From the lips of the earth spoken without a sound. Then I know that happiness is simple. - Persephone; goddess of spring, queen of the underworld. I am your home. Don't go too far, or you'll get lost. - Hades; god...
