Part 15

2.3K 129 1
                                        

Part 15

Beberapa hari kemudian.

Arya menghubungi Dayana di waktu malam untuk menanyakan tanggal pernikahan yang ingin ia tetapkan. Sebenarnya Arya sudah ingin menghubungi Dayana sejak tadi, ia berpikir bila wanita itu mungkin sedang sibuk atau mungkin belum pulang bekerja, itu lah kenapa ia menghubunginya sekarang, tepatnya di jam delapan malam.

"Assalamualaikum, Bu." Arya memberi salam seperti biasa.

"Wa'alaikum salam. Ada apa, Pak?"

"Begini, Bu. Saya sudah menetapkan tanggal pernikahan kita, itupun saya meminta saran dari Pak kyai. Meskipun kita hanya menikah kontrak, tapi saya ingin melakukan semua yang terbaik termasuk mencari hari dan tanggal baik untuk pernikahan kita nanti."

"Jadi, tanggal berapa kita akan menikah?" tanya Dayana terdengar tenang, sampai saat terdengar suara orang lain dari seberang sana, namun Arya tidak memedulikannya dan tetap melanjutkan ucapannya.

"Tanggal dua puluh lima di bulan ini, Bu."

"Berarti dua Minggu lagi kan?"

"Iya, Bu."

"Baiklah. Saya akan menyiapkan semuanya, gedung, catering, tempat akad, dan juga undangan yang akan kita sebarkan." Dayana menjawab dengan nada yang sama, santai dan tenang, namun tidak dengan Arya yang merasa tak nyaman.

"Saya harus mengurusi apalagi, Bu?"

"Tidak ada. Anda hanya perlu menunggu undangannya datang lalu Anda bagikan ke kerabat dan saudara-saudara Anda."

"Begitu ya? Lalu berapa uang yang harus saya berikan ke Anda untuk biaya pernikahan kita?"

"Tidak ada. Semuanya saya yang bayar, Anda tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun."

"Apa Anda yakin? Seharusnya saya juga ikut menyumbang kan, Bu?"

"Ini keinginan saya, itu artinya saya yang harus mengeluarkan semua biayanya, sedangkan Anda hanya perlu mengikuti semua yang saya katakan. Mengerti?" tanya Dayana yang tanpa sadar Arya angguki.

"Iya, Bu. Saya mengerti."

"Ya sudah kalau begitu saya matikan dulu sambungan teleponnya."

"Iya, Bu. Assalamualaikum." Arya memberi salam dan sempat terdengar helaan nafas dari ponselnya, yang ia yakini itu berasal dari Dayana.

"Wa'alaikum salam." Setelah menjawab salamnya, sambungan telepon terputus dan yang Arya lakukan hanya menghela nafas lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini Arya sangat lelah setelah mengajar, ia langsung menemui kiyai yang dulu menjadi guru mengajinya dan tempatnya itu cukup jauh. Ia meminta tolong ke beliau untuk mencari tanggal yang baik untuk pernikahannya dengan Dayana nanti.

"Ingat ya, Nak Arya. Jodoh itu bisa datang dari mana saja dan dengan cara apa saja, itu juga termasuk cara Allah menyayangi para hambanya. Jadi, lakukan yang terbaik yang Nak Arya bisa ke siapapun wanita yang akan menyandang nama sebagai istri Nak Arya."

Itu lah kalimat yang Arya dengar dari kiyainya yang ia mintai tolong, tepatnya setelah Arya akan berpamitan. Entah apa maksudnya, namun yang pasti Arya langsung menganggukinya dan memberinya salam lalu segera pulang ke rumahnya.

Entah itu firasat baik atau buruk tentang Dayana, namun yang pasti Arya bertekad akan melakukan yang terbaik untuk wanita itu.

***

Di sisi lainnya, Dayana mematikan ponselnya lalu meletakkannya di meja. Sedangkan saat ini, tatapannya tampak ragu sembari sesekali menghembuskan nafas panjangnya. Di ruang tamu, neneknya menunggu untuk diberi penjelasan setelah mendengar obrolannya dengan Arya. Ya, neneknya itu memang sempat mendengarnya sedikit, namun Dayana langsung pergi keluar rumah agar beliau tak mendengar sepenuhnya.

My Contract Husband (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang