Part 24

2.1K 130 4
                                        

Part 24

Kini Dayana dan Arya sudah berada di rumah sakit, keduanya tengah menunggu hasil tes kesehatan mereka. Seperti biasa, Dayana selalu terlihat dingin dan tenang berbeda dengan Arya yang justru tampak ramah di setiap orang yang tak sengaja melihatnya. Sampai pada akhirnya ada anak laki-laki kecil tengah berlari ke arahnya, namun tiba-tiba jatuh tepat di depan kakinya. Arya yang melihatnya tentu saja terkejut dan langsung membantunya.

"Ya Allah, Nak. Kamu enggak apa-apa kan?" Arya begitu khawatir pada bocah itu, sedangkan Dayana hanya memerhatikannya tanpa mau ikut campur karena menurutnya itu memang bukan urusannya.

"Sakit, Om." Bocah itu merengek kesakitan saat merasakan tangannya yang perih, namun dengan lembut Arya meniupnya.

"Iya, Om tahu. Pasti sakit kan? Tapi enggak lama kok, sebentar lagi tangannya pasti sudah sembuh."

"Iya, Om. Ini semua gara-gara lantainya licin, makanya aku jatuh." Bocah itu cemberut kesal, namun Arya justru tersenyum mendengarnya.

"Kok nyalahin lantainya?" Arya bertanya dengan nada penasaran, begitupun dengan Dayana yang tampak ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

"Ya kan lantainya licin jadi dia yang salah, Om."

"Kalau memang lantainya yang salah, kenapa cuma kamu yang jatuh? Padahal sudah banyak orang yang berjalan di lantai yang sama? Kenapa?" tanya Arya hati-hati sembari tersenyum tipis, namun bocah itu justru terdiam, bingung harus menjawab apa.

"Enggak tahu, Om."

"Itu karena sebenarnya kamu yang salah, kamu berlarian ke sana ke mari dan enggak berhati-hati."

"Tapi kan aku cuma lari-larian, Om. Masa enggak boleh?"

"Lari-larian boleh kok, tapi di tempat yang lebih aman ya? Contohnya di tempat yang khusus untuk bermain."

"Emh ... iya, Om." Bocah itu menjawab seadanya, karena ia sadar akan kesalahannya.

"Oh ya kamu ke sini sama siapa?"

"Mama, Om. Tapi Mama lagi masuk ke ruang dokter."

"Ya sudah kalau begitu kamu duduk di kursi tunggu ya? Jangan kemana-mana, ini Om kasih kamu permen, dimakan ya?" Arya mengambil dua permen lollipop dari sakunya, lalu memberikannya pada bocah itu.

"Wah, terima kasih, Om." Bocah itu tampak sangat bahagia, membuat Arya tersenyum senang melihatnya.

"Iya, jangan lari-larian lagi ya?"

"Siap, Om." Setelahnya bocah itu pergi meninggalkan Arya yang tampak merasa lega lalu kembali duduk di samping Dayana.

"Anda sudah setua ini tapi masih suka menyimpan permen? Kekanak-kanakan." Dayana berujar dengan nada menyindir, merasa tak habis pikir saja dengan kelakuan suaminya itu.

"Saya memang sering membawa permen di saku celana saya, tapi itu bukan buat saya."

"Lalu untuk siapa kalau bukan buat Anda?"

"Sebagai guru, terkadang kita harus memiliki alat untuk antisipasi kalau-kalau ada murid yang menangis, bertengkar, atau mungkin sedang sedih. Karena kita kan belum tentu tahu bagaimana perasaan mereka, jadi saya lebih memilih permen untuk menjadi penghibur mereka." Arya menjawab jujur yang kali ini didiami oleh Dayana yang merasa bersalah karena sudah berpikir aneh tentang suaminya.

"Oh begitu? Lalu kenapa Anda menasehati anak sekecil itu tentang kesalahan? Bukannya wajar ya kalau anak kecil nakal?"

"Ya saya tahu itu wajar, tapi menyalahkan sesuatu karena kesalahan kita sendiri itu yang tidak bisa dibiarkan. Sebagai orang tua, kita sering kali membiarkan atau bahkan menyepelekan sikap anak yang menurut mereka wajar, padahal sangat berdampak besar pada pemikirannya di masa depan." Arya menatap ke arah Dayana yang merasa heran dan masih bingung dengan ucapan suaminya.

My Contract Husband (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang