Part 16

2K 123 4
                                        

Part 16

Dayana menghembuskan nafas kesalnya, ia berusaha tak peduli dengan apa yang Arya katakan. Namun itu semua hanya kebohongannya, karena kenyataannya Dayana sangat bisa memahami perasaan lelaki itu sekarang.

"Iya, kita berangkat sekarang. Cepat pasangkan helm saya," jawab Dayana dengan nada angkuhnya yang langsung diangguki oleh Arya dan melakukan perintahnya.

"Sudah, Bu. Ayo naik!"

"Hem," jawab Dayana singkat dan bahkan terdengar masih kesal, namun saat Arya melajukan motornya, lelaki itu tidak akan paham bagaimana Dayana menghela nafas dengan pelan dan menatapnya dari arah belakang.

"Oh ya, Bu. Rumah Nenek Anda apa jauh?" tanya Arya sembari fokus menyetir, yang menyadarkan Dayana dari pikiran kosongnya.

"Tidak terlalu jauh."

"Kalau tidak jauh, kenapa Anda tidak menemani beliau saja, Bu? Maksud saya, tinggal bersama di rumah yang sama." Mendengar pertanyaan Arya, Dayana tampak ragu untuk mengatakannya meskipun pada akhirnya ia memilih untuk tidak menjawab alasan yang sebenarnya.

"Ada sedikit masalah yang tidak bisa saya jelaskan," jawab Dayana yang diangguki mengerti oleh Arya.

"Oh begitu? Saya mengerti."

"Memangnya apa yang Anda mengerti? Anda bahkan baru mengenal saya, itu artinya Anda tidak tahu apa-apa." Dayana membalas dengan nada lelah, sorot matanya juga tampak tak biasanya.

"Saya memang tidak tahu apa-apa, tapi saya mengerti satu hal. Apapun keinginan orang lain dan apapun yang ingin mereka tutupi itu harus selalu dihargai, entah itu buruk ataupun baik, ya kita tidak bisa memaksa mereka untuk mengatakannya ke kita." Arya menjawab bijak, yang diam-diam Dayana senyumi karena pemikirannya kali ini.

"Baguslah kalau Anda memilih untuk tidak ikut campur dengan masalah pribadi saya, karena saya paling tidak suka bila ada yang ia ingin tahu dengan kehidupan saya meskipun itu orang terdekat saya sekalipun. Karena saya tidak biasa dituntut pertanyaan, kecuali saya yang mengatakannya sendiri dan benar-benar percaya dengan orang itu." Dayana menjawab serius yang diangguki oleh Arya yang masih menyetir motornya dengan tenang.

"Iya, Bu. Saya paham. Oh ya jalannya ini mau ke mana lagi? Masih terus atau belok?"

"Masih terus, nanti kalau ada gapura perumahan sebelah kiri, Anda masuk saja ke dalam."

"Oh oke."

Setelah cukup melewati perjalanan yang tenang dan bahkan pelan, akhirnya Arya dan Dayana kini sampai di depan rumah berlantai dua yang ditinggali neneknya. Arya yang melihat bangunan itu untuk pertama kalinya, sempat dibuat tak percaya diri dan berpikir bila ia mungkin tidak akan diterima oleh keluarga dari Dayana. Namun ia lupa, bila hubungan mereka hanya pura-pura, itu artinya ia tidak boleh memikirkan semuanya secara berlebihan bukan?

"Ayo masuk!" pinta Dayana setelah Arya membantunya membuka helm milik di kepalanya, sedangkan lelaki itu masih termenung dengan pemikirannya sembari melepas helm miliknya sendiri.

"Eh i-iya, Bu." Arya mengangguk patuh lalu segera meletakkan helm miliknya di spion motornya dan mengikuti langkah Dayana dari belakang. Saat Arya menaiki tangga depan rumah, ia dibuat kaku saat ada seorang wanita membuka pintu dan menyambut Dayana dengan senyum tulus.

"Kamu sudah sampai, Na?"

"Iya, Nek. Maaf, sudah buat Nenek menunggu lama."

"Enggak apa-apa. Dan siapa dia? Apa dia calon suami kamu?" tanyanya setelah memerhatikan Arya yang berada di samping Dayana. Dengan tersenyum tulus, Arya mengulurkan tangan untuk menyalaminya dan memberi salam.

My Contract Husband (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang