Part 18
Hari ini adalah hari di mana Dayana dan Arya akan menikah. Dan tentu saja kedua belah pihak keluarga tengah mempersiapkan diri untuk datang ke hotel di mana mereka akan melangsungkan akad dan resepsi pernikahan, yang akan dilaksanakan di tempat yang sama. Tak terkecuali Dayana, wanita itu tengah dirias saat ini ditemani neneknya yang setia menunggunya sejak tadi.
Sebentar lagi, wanita tua itu juga akan dirias tipis, namun sebelum gilirannya datang, ia memilih untuk melihat-lihat barang-barang yang akan cucunya kenakan, termasuk gaun yang baru dibawa masuk oleh salah satu penata rias.
"Sebentar, Mbak. Apa ini gaun yang akan cucu saya kenakan?" tanyanya setelah melihat secara keseluruhan dari desain dan bentuknya.
"Iya, Bu. Cantik kan?" jawabnya diakhiri dengan pertanyaan, namun bukannya menjawab, neneknya Dayana justru mengambil alih gaun itu lalu menunjukkannya pada pemiliknya.
"Kamu serius mau pakai gaun ini, Na?" tanyanya terdengar tak percaya, namun cucunya yang tengah dirias wajahnya itu hanya melirik sekilas lalu kembali menatap ke arah kaca.
"Iya," jawabnya singkat.
"Kok gaunnya terbuka?"
"Terbuka bagaimana sih, Nek? Jelas-jelas itu gaun lengan panjang."
"Nenek tahu. Tapi lihat, lengannya saja bolong-bolong, masa mau kamu pakai?" Mendengar ucapan neneknya, Dayana seketika menghembuskan nafas panjangnya.
"Lengannya itu transparan bukan bolong-bolong, ada juga bagian detail bergambar bunga supaya enggak kosong. Dan memang seperti itu modelnya, Nek. Jangan katrok dong, astaga." Dayana menatap jengah ke arah neneknya yang tampak tak percaya dengan jawaban cucunya.
"Nenek tahu memang seperti ini modelnya, tapi ini enggak cocok untuk pengantin berhijab, Na." Neneknya masih bersikeras dengan argumennya, yang kali ini ditatap bingung oleh Dayana.
"Apa Nenek berpikir kalau aku akan menikah dengan hijab?"
"Iya lah," jawabnya yakin.
"Oke. Kenapa Nenek bisa berpikir seperti itu, sedangkan Nenek yang paling tahu aku ini seperti apa?" Dayana menatap serius ke arah neneknya yang terlihat lelah dengan sikapnya.
"Dayana. Kamu akan menikah dengan Nak Arya, dia lelaki soleh, taat agama, dan sepertinya dia juga dikenal baik oleh semua orang. Lalu bagaimana mungkin kamu tega menjelekkan nama baiknya? Orang-orang pasti akan berpikir kalau Nak Arya itu salah pilih istri, hanya dengan melihat gaun pengantin kamu yang seperti ini." Wanita itu begitu yakin dengan ucapannya, berbeda dengan Dayana yang tampak lelah sekarang.
"Nenek tahu aku kan? Aku enggak pernah peduli dengan omongan orang lain, jadi jangan memaksaku untuk sesuatu yang enggak aku mau." Dayana menjawab serius, namun neneknya tampak kecewa dengan hal itu.
"Ini kan hari bahagia kamu, apa salahnya menyenangkan hati calon suami kamu sendiri? Dia pasti bahagia kalau melihat kamu berhijab di hari pernikahan kalian."
"Aku juga enggak peduli semua itu, Nek. Aku enggak peduli Pak Arya akan bahagia atau enggak dengan apa yang aku kenakan di hari pernikahan kami, aku juga enggak memikirkan dia akan dinilai buruk atau baik karena memilih aku menjadi istrinya." Dayana menekankan kalimatnya yang kian membuat neneknya kecewa.
"Kalau Nenek yang meminta, bagaimana?"
"Maksud Nenek apa?" Dayana menoleh bingung terlebih lagi saat melihat ada kesedihan di mata neneknya.
"Nenek ingin melihat kamu berhijab di pernikahan kamu dengan Nak Arya, apa boleh?" ujar neneknya yang tentu saja berhasil menggerus hati Dayana yang tidak pernah tega melihat kesedihan neneknya, ataupun mengabaikan permintaan tulusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Contract Husband (Completed)
RomanceDemi keinginannya memiliki seorang anak, Dayana harus menjalani pernikahan kontrak dengan Arya, seorang guru SD yang tentu tidak bisa dikatakan mapan. Namun karena wajahnya yang tampan dan juga prestasinya yang lumayan, Dayana memilih lelaki itu un...
