Part 27
Setelah pulang ke rumah Dayana, Arya langsung mandi lalu berganti pakaian dan shalat dhuhur sebentar. Setelah selesai, Arya keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar Dayana, ia berniat melihat kondisi istrinya tersebut. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintunya tak lama terdengar balasan dari dalam.
"Masuk," jawabnya.
"Bu," panggil Arya sembari mengintip sedikit dan mendapati Dayana masih terbaring di ranjangnya. Melihat itu, Arya langsung menegakkan punggungnya lalu berjalan ke arah istrinya dan duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana keadaan Anda? Apa masih sama seperti tadi pagi?"
"Saya sudah merasa lebih baik kok."
"Anda sudah makan kan?"
"Saya tidak bisa makan nasi, jadi saya makan buah dari tadi."
"Kenapa tidak bisa makan nasi?"
"Mual." Dayana menjawab singkat yang diangguki mengerti oleh Arya.
"Kalau Anda mau sesuatu bilang saja, nanti saya usahakan cari sampai ketemu." Arya berujar tulus yang kali ini disenyumi oleh Dayana.
"Iya, terima kasih. Oh ya Anda sudah makan siang?" tanya Dayana berbasa-basi, ia sendiri bingung harus membahas apa di saat seperti ini.
"Sudah. Tadi setelah pulang dari sekolah, saya dan guru-guru lainnya mampir ke warung bakso. Itu tempat langganan kami karena baksonya sangat enak, makanya saya juga membelikannya untuk Anda dan para pekerja di rumah ini," ujar Arya sembari tersenyum hangat seperti biasa.
"Oh ya? Lalu di mana bakso saya sekarang?"
"Di kulkas. Saya menyuruh Bi Mina untuk menyimpannya, karena saya pikir Anda pasti sudah makan siang. Tapi kalau Anda mau memakannya sekarang, saya panaskan baksonya ya?"
"Nanti malam saja, Pak. Saya lagi kurang enak makan sekarang. Oh ya, tadi Anda bilang itu warung langganan Anda kan? Apa itu artinya setiap hari Anda makan bakso? Apa Anda tidak bosan?" tanya Dayana keheranan yang disenyumi oleh Arya.
"Tentu saja tidak. Tapi di tempat saya bekerja memang biasanya kalau ada kabar bahagia akan ditraktir makan bakso."
"Oh berarti Anda ditraktir tadi?" Dayana mengangguk mengerti, namun Arya justru menggeleng pelan.
"Bukan, tapi saya yang mentraktir mereka."
"Kenapa? Memangnya ada kabar bahagia dari Anda?" Dayana bertanya dengan nada tak habis pikir, pikirannya bahkan sampai bertanya-tanya kabar bahagia apa sampai Arya mentraktir teman-temannya.
"Ada."
"Memangnya Anda sedang bahagia karena apa?"
"Karena Anda sedang hamil." Arya menatap perut Dayana, yang tentu saja mendapatkan picingan mata oleh empunya.
"Anda bahagia karena saya hamil? Atau Anda bahagia karena sebentar lagi perjanjian kita akan berakhir?" tanya Dayana yang tentu saja tidak disetujui oleh Arya.
"Kenapa Anda berpikir seperti itu?"
"Sudahlah, Pak. Anda tidak perlu menjelaskannya, saya bisa mengerti. Saya juga tidak mempermasalahkannya karena ini memang niat kita sejak awal, sebenarnya saya juga berharap perjanjian kita segera selesai dan berakhir secepatnya." Mendengar ucapan Dayana, Arya seketika terdiam seolah ada belati yang menusuknya dalam, entah kenapa kata-kata Dayana begitu menyakitkan.
"Tapi ...." Arya ingin meluruskan kesalahpahaman itu, namun harus terhenti saat ponsel Dayana yang berada di atas meja bersuara.
"Tolong ambilkan ponsel saya, Pak." Dayana membangunkan tubuhnya sedangkan Arya langsung mengangguk dan menuruti keinginannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Contract Husband (Completed)
RomantikDemi keinginannya memiliki seorang anak, Dayana harus menjalani pernikahan kontrak dengan Arya, seorang guru SD yang tentu tidak bisa dikatakan mapan. Namun karena wajahnya yang tampan dan juga prestasinya yang lumayan, Dayana memilih lelaki itu un...
