Part 28

2K 124 5
                                        

Part 28

Di sini lah Arya sekarang, di kamar Dayana yang saat ini tampak kesal dengan raut wajah yang sulit diartikan. Arya sendiri bingung harus bagaimana, yang ia lakukan hanya berdiri dan menunggu Dayana berbicara. Karena setelah neneknya menyuruh Dayana dan Arya istirahat, kini keduanya harus berada di tempat yang sama.

Sejak awal, Dayana memang tidak berniat mengatakan apapun tentang perjanjiannya dengan Arya ke neneknya, jadi sangat wajar bila neneknya menyuruhnya istirahat bersama dengan Arya di dalamnya. Namun tetap saja hal ini sangat aneh untuk Dayana, meskipun ini sudah yang kedua kalinya mereka sekamar setelah masalah kamar hotel di malam pertama.

"Bu, apa Anda marah?" Pada akhirnya Arya bertanya meskipun harus dengan nada hati-hati, karena sepertinya kehadirannya di kamar itu sangat ditolak oleh pemiliknya.

"Tidak, Pak." Dayana menjawab tanpa minat setelah menghembuskan nafas panjangnya.

"Lalu kenapa Anda terlihat kesal?" tanya Arya lagi yang kali ini mendapatkan tatapan tak percaya oleh Dayana.

"Anda pikir kenapa? Ya memang saya sedang kesal sekarang, pakai tanya lagi," jawab Dayana ketus, nada bicaranya kembali seperti dulu lagi, padahal belakangan ini suaranya sudah lebih lembut saat berbicara dengan Arya.

"Apa karena kita harus sekamar?"

"Iya lah, Pak. Sebelum ini saya tidak berpikir kalau Nenek saya akan menginap di rumah ini, karena sebelumnya beliau tidak pernah mau pindah ke sini. Tapi sekarang nenek saya malah akan menginap selama satu bulan. Anda jangan salah paham, saya senang nenek saya mau menemani saya tapi itu artinya saya juga harus berbagi kamar dengan Anda dan tentu saya tidak suka itu."

"Maaf, Bu. Kalau begitu saya akan kembali ke kamar saya setelah ini." Arya menundukkan kepalanya membuat Dayana merasa bersalah.

"Saya bukan ingin mengusir Anda dari sini, saya hanya tidak biasa berbagi dengan orang lain apalagi dengan laki-laki, Anda bisa mengerti kan?"

"Saya mengerti, Bu. Mungkin Nenek Anda sudah tidur sekarang, saya pergi ke kamar saya ya?" pamit Arya lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu dan pergi dari sana, meninggalkan Dayana sendiri di kamarnya. Arya sendiri tidak akan sadar, bagaimana Dayana menatap punggungnya penuh rasa bersalah.

"Nak Arya," panggil seseorang dari luar yang masih Dayana dengar karena Arya belum menutup rapat pintu kamarnya.

"Kamu mau ke mana? Ini sudah malam loh? Harusnya kan langsung istirahat, jangan kemana-mana, kasihan Dayana kalau kamu tinggal."

"Nenek, saya ... mau itu ... eh ...." Arya tampak kebingungan menjawab, yang langsung Dayana hampiri untuk membantunya.

"Ada apa ini, Nek?" tanya Dayana sembari sesekali melirik khawatir ke arah Arya.

"Ini loh suami kamu, bukannya tidur malah keluyuran." Wanita itu tampak tak suka dengan sikap Arya yang kurang menghargai Dayana, membuat cucunya merasa semakin bersalah.

"Jadi suami itu yang baik, jangan suka meninggalkan istrinya malam-malam seperti ini, apalagi kondisi dia sedang hamil muda, kalau terjadi sesuatu bagaimana?"

"Jangan memarahi Pak Arya seperti itu, Nek. Dia hanya ingin ke dapur untuk mengambil air minum, aku yang memintanya. Iya kan, Pak Arya?" tanya Dayana yang langsung Arya angguki.

"I-iya," jawabnya kaku karena jujur saja ia bingung harus bagaimana, ia takut membuat kesalahan dan membuat Dayana kian marah dengannya.

"Oallah begitu toh? Nenek pikir, kamu malam-malam begini mau meninggalkan Dayana, tapi ternyata kamu mau mengambil air minum?" tanya wanita tua itu yang kembali Arya angguki.

My Contract Husband (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang