Part 26
Beberapa Minggu kemudian.
Dayana yang baru bangun seketika memejamkan matanya kembali saat kepalanya terasa pusing dan pandangannya juga sedikit mengabur. Dengan perasaan tak nyaman, Dayana berusaha membangunkan tubuhnya namun rasanya begitu berat seolah ada magnet yang menariknya.
Hari ini adalah hari Senin, yang seharusnya ia bangun lebih cepat untuk bekerja seperti biasanya. Namun tubuhnya seolah tidak bisa bergerak, saking lemas dan pusingnya yang Dayana rasakan sekarang. Namun karena tak ingin berdiam saja, Dayana memutuskan untuk mencari ponselnya yang berada di atas meja ranjang, ia berniat menghubungi Arya suaminya.
Di sisi lainnya, Arya yang sudah rapi dengan kemeja putihnya dan juga celana hitamnya kini tengah menyisir rambutnya. Ia akan bersiap untuk berangkat ke sekolah, namun ponselnya tiba-tiba berdering menandakan seseorang tengah menghubunginya.
"Siapa pagi-pagi seperti ini menelepon?" gumam Arya lirih sembari berjalan ke arah ponselnya yang berada di atas ranjang.
"Bu Dayana?" Arya tampak tak mengerti kenapa istrinya itu meneleponnya padahal mereka tinggal di rumah yang sama. Tak ingin terus-terusan kebingungan, akhirnya Arya mengangkatnya dan segera menanyakan maksud Dayana.
"Ada apa, Bu? Apa Anda salah menghubungi orang?" tanya Arya ragu-ragu, karena memang cukup aneh bila istrinya itu menelepon padahal jarak kamar mereka juga tidak terlalu jauh.
"Pak ... Arya. Bisa tolong saya ...?" Arya merapatkan bibirnya setelah mendengar ucapan Dayana yang terdengar sangat lemah, wanita itu tampak sedang kesusahan sekarang.
"Sebentar, Bu." Arya mematikan sambungan teleponnya lalu berlari ke arah kamar istrinya dan langsung membuka pintunya tanpa mau berpamitan dulu sebelumnya. Untungnya kamar Dayana itu tidak terkunci, jadi ia bisa masuk ke dalam, namun sesampainya di sana ia justru mendapati istrinya itu tengah berbaring lemah di atas ranjangnya.
"Bu. Anda kenapa? Wajah Anda sangat pucat. Apa Anda sakit?" Arya duduk di tepi ranjang sembari merengkuh tangan Dayana yang hangat.
"Tangan Anda juga hangat, Anda pasti sakit. Saya antar Anda ke rumah sakit sekarang ya? Saya boleh gendong Anda?" pamit Arya saking khawatirnya, namun Dayana justru menggeleng pelan.
"Tidak perlu, Pak. Tolong hubungi saja dokter saya, dia bisa kesini."
"Iya, Bu. Kalau begitu, saya pinjam dulu ponsel Anda. Siapa nama dokternya? Saya akan menghubunginya."
"Dokter Rahman." Dayana menjawab lirih yang langsung Arya angguki dan mencari namanya di ponsel isterinya, setelah berhasil menemukannya ia segera menghubunginya.
"Pagi, Bu Dayana. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Dokter. Saya Arya, saya suaminya Bu Dayana. Apa Dokter bisa kesini? Istri saya sedang sakit, tubuhnya hangat dan lemas, Dok. Padahal tadi malam dia tidak apa-apa, masih bisa mengobrol dan tampak sehat."
"Begitu ya? Ya sudah setelah ini saya ke sana ya."
"Baik, Dok. Terima kasih." Setelah mengucapkan kalimat itu, Arya memutuskan sambungan teleponnya lalu meletakkan kembali ponsel istrinya di atas meja.
"Sebentar lagi Dokter Rahman akan datang. Tolong tahan sebentar ya?" ujar Arya yang hanya Dayana respon dengan mengedipkan mata perlahan.
"Saya ... harus ke kamar mandi ...." Dayana meringis saat menahan pipis, namun tubuhnya sangat lemas untuk bangun saat ini.
"Saya bantu ya? Saya gendong Anda ke sana. Tidak apa-apa kan, Bu?" ujar Arya memastikan yang sempat Dayana diami saking anehnya bila lelaki itu yang membantunya ke kamar mandi, namun ia juga tidak mungkin menolak bantuannya karena saat ini ia memang sedang membutuhkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Contract Husband (Completed)
RomanceDemi keinginannya memiliki seorang anak, Dayana harus menjalani pernikahan kontrak dengan Arya, seorang guru SD yang tentu tidak bisa dikatakan mapan. Namun karena wajahnya yang tampan dan juga prestasinya yang lumayan, Dayana memilih lelaki itu un...
