Part 07
Arya mengedipkan matanya beberapa kali, merasa tak yakin dengan apa yang baru didengarnya tadi. Dayana, wanita yang tengah duduk di depannya itu menginginkan ia menjadi pendonor sperma untuk rahimnya.
"Apa saya salah dengar? Anda ingin saya menjadi pendonor sperma untuk Anda?" tanya Arya tak yakin, namun Dayana langsung menganggukinya.
"Iya. Mudah kan?" jawab Dayana yang justru membuat Arya berpikir keras, karena hal itu tidak semudah yang wanita itu katakan.
"Itu artinya Anda akan mengandung Anak saya?" tanya Arya meyakinkan kembali, yang kali ini diangguki ragu oleh Dayana.
"Iya, bisa dibilang seperti itu. Tapi prosesnya melalui bayi tabung, bukan dengan berhubungan badan." Dayana menegaskan hal itu, ia tidak ingin Arya salah paham dengan maksudnya.
"Maksud Anda, apakah kita akan menjalani proses bayi tabung itu tanpa ikatan pernikahan?" tanya Arya lagi.
"Iya, tentu saja. Anda pikir, kenapa saya ingin punya anak dari pendonor sperma, karena saya tidak ingin ada ikatan dengan lelaki manapun apalagi sampai menikah." Dayana menjawab tak habis pikir, yang kian membuat Arya merasa dilema kali ini.
"Saya tidak mungkin menjadi pendonor Anda, Bu. Saya tidak bisa melakukan itu, saya ...." Arya menjawab ragu, ia takut Dayana tidak mau mengerti dengan alasannya tersebut.
"Kenapa? Anda tidak bisa berejakulasi? Anda tidak normal? Atau Anda memiliki penyakit HIV? AIDS? Atau apa?" tanya Dayana penasaran, yang tentu saja membuat Arya merasa malu dan canggung dengan pembicaraan seperti itu.
"Te-tentu saja saya sehat, saya normal, Bu. Saya tidak memiliki penyakit apapun, saya juga bisa berejakulasi dengan baik. Tapi .... " Arya ragu untuk mengatakannya, karena ia takut Dayana akan berpikir buruk tentangnya.
"Tapi kenapa? Anda hanya perlu menjadi pendonor saya. Sebagai imbalannya, sekolah itu akan tetap saya pertahankan. Mudah kan? Apa itu sulit untuk Anda?" tanya Dayana tak mengerti dan merasa heran kenapa lelaki itu begitu berbelit-belit.
"Saya tidak mengerti alasan apa yang membuat Anda berpikir seperti ini. Tapi, menjadi pendonor sperma yang artinya memberikan benih untuk dikandung tanpa adanya ikatan pernikahan itu termasuk zina dan hukumnya haram, kita bisa berdosa besar bila melakukannya." Arya menjawab yakin, namun juga ada rasa takut terlihat dari sorot matanya.
"Apa Anda serius mengatakan itu di saat seperti ini? Kenapa harus membawa-bawa agama? Padahal kita sama-sama diuntungkan kan? Saya bisa hamil dan sekolah itu akan tetap saya pertahankan, itu artinya ada ratusan murid Anda yang bisa melanjutkan pendidikannya di sana. Itu kan yang Anda inginkan?" Dayana menggerakkan tangannya seolah itu mudah untuk dilakukan, namun tidak untuk Arya yang taat agama.
"Iya, tapi apa tidak ada jalan lain, Bu? Kalau saya setuju dengan tawaran Anda, itu artinya saya menzolimi Anda. Tidak hanya dosa besar yang saya dapat, tapi juga rasa bersalah."
"Kenapa juga Anda harus merasa bersalah? Saya yang menginginkannya kan? Saya yang mau hamil dan punya anak, saya juga yang ingin merawat anak, yang bisa dibilang anak Anda juga. Jadi, Anda tidak perlu merasa bersalah ataupun khawatir, karena saya yang menginginkannya sejak awal."
"Kalau nanti Anda berhasil hamil dan punya anak, bagaimana pandangan orang lain pada diri Anda? Seorang wanita yang belum menikah tapi sudah hamil. Memang, kita tidak bisa mengatur pikiran orang lain untuk selalu menyukai kita, tapi membayangkan Anda akan dinilai buruk orang lain karena saya, tentu saja saya akan merasa sangat bersalah." Arya menundukkan wajahnya, ia benar-benar memikirkan semua kedepannya, meskipun ia sendiri tidak mengerti alasan apa yang mendasari Dayana ingin memiliki anak darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Contract Husband (Completed)
RomansaDemi keinginannya memiliki seorang anak, Dayana harus menjalani pernikahan kontrak dengan Arya, seorang guru SD yang tentu tidak bisa dikatakan mapan. Namun karena wajahnya yang tampan dan juga prestasinya yang lumayan, Dayana memilih lelaki itu un...
