Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kendaraan roda dua milik Robi terpaksa harus berhenti, ketika menyadari bahwa ban belakang motornya mengalami kendala. Ini adalah hal mustahil bagi Robi yang begitu aktif memeriksa kondisi motor besarnya. Masa iya ada yang menyebar paku di jalan? Robi tidak berpikir sampai kesana. Jangankan ban bocor, urusan mesin pun Robi dapat mengatasi sebelum kerusakan terjadi, namun kali ini melihat benda berbahan dasar karet itu mengalami kendala, Robi tidak lantas tinggal diam. Isi kepalanya memiliki asumsi sendiri. Ada seseorang yang sengaja mensabotase motornya.
Ia menoleh pada wajah Khanza yang nampak kebingungan. Perkara mengantar Khanza pulang saja, harus ada drama macam begitu.
"Maaf ya. Montir langgananku akan segera tiba. Kita naik taksi saja, tidak apa-apa kan? Atau kau coba hubungi lagi kak Juna. Siapa tau bisa secepatnya menjemputmu." Robi berkata hati-hati. Ia tidak ingin Khanza merasa bersalah karena berniat mengantarnya, sepeda motor milik Robi malah terkena masalah. Padahal Robi yakin, itu adalah ulah dari kakak Khanza.
Sebenarnya tidak baik menuduh orang, hanya saja Robi tau benar resiko apa yang akan terjadi jika berdekatan dengan Khanza. Sama hal nya ketika Nathan ingin mengantar Khanza pulang, Robi tidak keberatan dengan niat sang teman. Namun, Robi belajar dari pengalaman yang sudah terjadi, Ia tidak ingin Nathan celaka lagi karena terlihat bersama Khanza.
Seperti yang dikatakan oleh kakaknya—Agustaf. Robi masih ingat betul saat kakaknya berkata, Siapa pun yang berada didekat Khanza, yang terlihat tidak disukai oleh Vyandra maka ia tak segan akan mencelakainya... Orang yang sepadan dengan Vyandra hanyalah Juna, karena Juna yang tau sisi kelemahan Vyandra dan yakin mampu melindungi Khanza. Itu sebabnya Dokter Agustaf mendukung pernikahan mereka.
Terlihat Khanza mengotak-atik ponselnya, hingga tak lama panggilan tersambung dengan Juna. Pria itu meminta agar Khanza tetap bersama Robi, ia segera datang untuk membawanya pulang. Baru lah disitu Robi bisa bernapas lega, setidaknya ada kepastian dari suami Khanza sendiri.
Dan, terhitung lamanya empat puluh lima menit Robi masih setia menemani Khanza, padahal motornya sudah dibawa pergi oleh Montir menuju bengkel. Pemuda itu menghubungi seseorang, agar bersiap memberinya tumpangan pulang.
"Kenapa di sini tidak ada bus yang lewat ya?"
"Memang tidak ada. Kan sudah aku bilang susah kalau pulang naik bus. Kita harus menyeberang dulu, setelah lampu merah pertigaan baru ada halte bus." Jelasnya.
"Ck. Lagipula suamimu juga sih, alamat elit, jalur bus sulit. Seingatku, saat di mana aku mengantar buku untukmu, aku melihat kendaraan umum." Robi lantas mengamati Khanza yang tiba-tiba berdiri.
"Itu taksi, kau lupa." Robi mengingat-ngingat kembali, dan memang tidak salah. "Bi, mobil Kak Juna sudah datang." Serunya lagi.