Tumben sekali aku nulis 4rb kata lebih di story ini🙂↕️
Btw, aku perhatikan view sama vote nya emang agak susah ya sekarang, kurasa pembaca cerita ini emang udah lama hilang sejak cerita ini terakhir kali update, TIDAK APA! Aku tetap akan menyelesaikan cerita ini.
Warning mature content!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil hitam milik Agustaf telah terparkir di depan kediamannya, tepat lima belas menit lalu ketiga manusia yang berjalan agak tergesa masuk ke dalam rumah lewat pintu samping— yang biasa Khanza lalui setiap hari. Agustaf sengaja membuka pintu samping dari pada memilih pintu depan, hal itu dikarenakan Juna yang sedari Rumah sakit meminta agar Agustaf tetap waspada, terlebih lagi ia pun ikut pulang bersama keduanya.
Lima belas menit berlalu, memilih ruangan kerja Agustaf sebagai tempat mereka masuki. Di dalam ruangan tersebut terdapat meja kerja, dua sofa panjang dengan meja bulat di tengah, serta rak-rak buku dan barang penting lainnya di belakang sofa. Ruangan tersebut terasa nyaman dan cukup luas jika dikatakan, mengingat Agustaf memang banyak mengabiskan waktunya di ruangan tersebut.
Agustaf masuk membuka pintu, lalu meletakan kunci mobil pada meja kerjanya. Disusul Juna yang langsung memilih duduk pada sofa menghadap ke luar jendela kaca, tak lama dari itu Khanza muncul dari balik pintu, kepalanya sedikit menunduk, pun gerakan kakinya agak lamban—sengaja? Ia masih kebingungan, merasa heran dengan situasi yang secara tiba-tiba meliputi pikirannya.
Juna menyadari presensi Khanza, gadis itu tampak kaku, air mukanya datar terkesan dingin. Namun, pria itu tetap menerbitkan senyumnya seraya menatap Khanza. Tangannya menepuk-nepuk sofa kosong di sampingnya, secara tidak langsung meminta Khanza agar duduk disebelahnya.
Khanza tidak serta merta menanggapi, ia justru mendongakan kepalanya guna melirik ke arah Agustaf. Tidak bersuara, hanya melempar tatap seakan bertanya tanpa kata-kata. Hingga dari sana Agustaf mengulas senyumnya tipis seraya menganggukkan kepala—tidak apa-apa—begitu kira-kira.
Khanza menarik napas kemudian membuangnya perlahan, detik berikutnya Khanza menjatuhkan atensinya pada Juna. Sekali lagi tangan pria itu menepuk-nepuk tempat disebelahnya. "Kemari, duduklah." Titah Juna, senyumnya masih bertahan.
Cukup lama tidak berjumpa, Khanza melihatnya tak ada yang berbeda. Pria itu tetap sama memberikan perhatian juga bersikap manis terhadapnya. Sedikit berbeda dengan Vyandra—meski sering menuangkan perhatian namun caranya tidak semanis Juna—Vyandra ke pada Khanza lebih banyak memaksa hingga akhirnya dipaksa dan berujung terpaksa.
Pun, akhirnya Khanza mendudukan dirinya tepat disebelah Juna, meski agak renggang sebab Khanza tampak canggung dengan keberadaan Juna saat ini. Ia bahkan tak berani menatap mata Juna, padahal dulu ketika pertikaian pelik ini belum terjadi Khanza dan Juna begitu dekat.