Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juna sudah kembali ke hotel bersama dua orang bawahannya; Meidy dan Alden. Meidy sang Sekertaris, berjalan di belakang Juna dan Alden, ketiganya berhenti di lobby hotel kemudian duduk sebentar di sana.
Meidy pergi ke meja resepsionis, meminta agar di siapkan makan malam untuk atasannya nanti. Lalu setelahnya wanita itu kembali ke tempat semula untuk meminta izin ke atasannya.
"Pak, saya izin ke kamar lebih dulu, apa anda tidak masalah?"
"O, tentu tidak. Kau dan Alden bisa kembali ke kamar kalian masing-masing. Saya di sini dulu untuk beberapa menit lagi." Ungkapnya. Tangannya sudah gatal ingin mengotak-atik benda pintar miliknya.
"Terima kasih pak. Emm, kebetulan makan malam anda sudah saya pesan untuk di antar ke kamar nanti." Katanya lagi.
"Baik, terima kasih."
Selang beberapa menit setelah Alden dan Meidy hilang dibalik elevator, pria itu baru bebas dengan ponselnya. Sebenarnya tidak masalah membuka ponsel selagi ada bawahannya, hanya saja Juna merasa sedikit terganggu jika berbicara dengan Khanza dan didengar orang lain. Ya, katakan saja—malu—takut ada kalimat agak intim keluar dari mulutnya.
Jam pada ponselnya menunjukan pukul lima lewat empat puluh lima menit, berarti di sana sudah malam—istrinya kemungkinan sudah tertidur pulas. Namun biasanya Khanza masih mengirimkan pesan setiap jamnya, dan pesan terakhir dari Juna sama sekali belum terbaca lebih tepatnya tidak dibuka.
Ia memaklumi, barangkali Khanza memang tidak memegang ponsel. Ditambah kabar bahwa istrinya kurang sehat. Khanza mengeluh pusing, meski tak sehebat pusing yang dialami Khanza pada tahun kemarin namun tetap saja membuat Juna khawatir. Pria itu beberapa kali menyarankan kepada Khanza untuk pergi ke rumah sakit, bahkan meminta pada sang ibu agar menghubungi dokter jikalau Khanza tidak kunjung membaik.
Sekali lagi, pria itu mencoba mengirimkan pesan.
"Aku sudah kembali ke hotel, ingin bersiap mandi lalu makan malam. Bisa aku telefon? Bagaimana pusingnya sekarang, Za?"
Pesan itu jelas terkirim.
Sampai sekitar tiga menit tak ada balasan dari istrinya. Juna akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kursi. Ia menenteng tas kerja sekaligus ponselnya menuju pintu elevator.
Menunggu beberapa saat, mesin bergerak itu membawanya sampai kamar hotel yang ia tempati. Mengeluarkan kartu hotel, ia pun berhasil masuk ke dalam.
Tepat saat Juna menanggalkan jas nya, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk dengan kontak 'My wife ᡣ𐭩'
"Tidak perlu telefon. Rasa pusingku akan semakin membaik saat bangun esok pagi. Kak Juna juga pasti lelah. Jadi, mari istirahat malam ini."
Khanza menolak untuk ditelefon, tidak masalah—pikirnya. Toh, ia masih bisa menghubunginya besok. Lagi pula isi pesan tersebut tidak ada yang salah, Khanza sakit dan ia sendiri perlu istirahat malam ini.