26. Good feeling (?)

170 34 17
                                        

      Bimbang, apakah sepatutnya merasa bangga dan berbahagia atau justru sebaliknya, hubungan suami istri yang di dasari niat 'melindungi' itu kini terlihat semakin harmonis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bimbang, apakah sepatutnya merasa bangga dan berbahagia atau justru sebaliknya, hubungan suami istri yang di dasari niat 'melindungi' itu kini terlihat semakin harmonis. Selayaknya pasangan yang ditanamkan benih kasih, keduanya tidak lagi saling canggung menunjukan aksi romantis—kendati sampai saat ini, keintiman belum pernah dilakukan dan masih menempati kamar masing-masing.

Barangkali, Khanza butuh mempersiapkan diri? Dan dilain sisi, Juna tidak ingin meminta apa lagi memaksa. Pria itu tidak ingin melangkahi jalan yang sudah digariskan bagi keluarga kecil mereka. Biarlah semesta bekerja sebagaimana semestinya.

Pagi ini, Deo sudah berada di hunian Juna. Membawa sekantong snack ia mendudukan diri pada sofa empuk menghadap layar televisi.

Jarum jam menunjukan pukul 11 siang. Suara pintu terbuka berhasil menarik atensi Deo dari tontonannya. Tampak Juna keluar dari kamarnya seraya menggeret sebuah koper berwarna hitam, disusul Khanza yang mengekori di belakang membantu membawakan tas kerja milik sang suami.

"Apa sudah tidak ada yang tertinggal?" Pertanyaan Khanza menghentikan langkah Juna. Pria itu berbalik badan seraya meminta tas dari tangan Khanza.

"Ku rasa tidak ada." Maniknya lantas menatap wajah sayu Khanza. Perubahan raut imut tadi pagi telah berubah menjadi kemurungan. "Kamu. Yang tertinggal."

Khanza membuang napasnya, membalas pandangan Juna dengan kedua tangan menaut. "Jangan lama-lama. Kalau sampai satu bulan tidak kembali, aku akan menyusulmu, kak."

Mendengar itu Juna terkekeh singkat. Mengusap lembut puncak kepala sang istri, ia kemudian menganggukkan kepala tanpa ragu. "Iya, akan ku usahakan tidak sampai satu bulan pasti sudah kembali." Ucapannya terjeda. Meletakan tas pada sofa, sekilas ia melirik ke arah Deo yang fokus pada snack di pangkuannya. Terbesit dalam pikiran dengan apa yang dilihatnya saat ini, tak lama Juna kembali menatap Khanza. "Kalau ingin ikut juga tidak apa-apa, tapi bagaimana dengan kuliahmu?"

Khanza berdecih sesaat, menggaruk pelipisnya asal sembari memikirkan ucapan Juna. Masa iya, Khanza harus meninggalkan kuliahnya sebagai mahasiswi baru demi ikut bersama suaminya yang akan melakukan perjalanan bisnisnya di Turkey.

"Yakin ingin ikut?" Tanyanya sekali lagi.

"Emm, tidak." Khanza menoleh pada Deo sejemang. "Lagi pula aku tidak sendirian. Ada ibu dan Deo." Tangannya dengan hati-hati merapikan kerah kemeja Juna dan diakhiri usapan pada pundak atas. "Sekarang aku jauh lebih baik. Tidak masalah."

Senyum yang terpatri dibibir Khanza seolah menegaskan atas apa yang diucapkan. Pria itu membalasnya dengan senyuman tak kalah manis.

"Aku percaya padamu."

"Kalau begitu, ayo pergi. Rekan kerjamu pasti sudah menunggu." Khanza mengakhiri sesi perpisahan mereka. Ia mengambil kembali tas milik Juna dan menentengnya pada tangan kiri. Sementara tangan lainnya ia biarkan untuk digandeng sang suami.

𝐁𝐑𝐎𝐓𝐇𝐄𝐑 𝐒𝐇𝐈𝐓 [𝐌]✓ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang