Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juna mendesah pasrah sesaat kakinya menapak masuk pada ubin apartemen, air mukanya tampak lelah, bagaimana tidak? Perilaku Khanza berubah dari biasanya, sikapnya dingin—kembali seperti saat mereka belum menjalin ikatan pernikahan. Presensi Juna seolah tak dianggap, acuh tak acuh dan bahkan terkesan asing. Di meja makan, biasanya mereka akan bercengkrama seperti biasa, bertukar cerita tentang apa yang dilalui seharian kala di tempat yang berbeda. Tetapi malam ini, tak ada cerita, tak ada canda dan tawa, hanya menyisakan dentingan sendok garpu pada piring masing-masing.
Padahal, di dalam perjalanan, Juna sudah membujuknya baik-baik. Ia bahkan mengulangi dan menegaskan, bahwa liburan yang akan mereka ambil benar-benar sebatas mengambil rehat sejenak dari rutinitas yang memadati isi kepala. Namun, Khanza agaknya sulit, entah karena trauma yang amat mendalam sehingga menyebabkan Khanza tidak percaya akan ucapan Juna, atau barangkali Khanza memang tidak nyaman pergi jauh dengan dirinya.
Juna meminta alasan pasti, agar ia bisa memaklumi jika rencananya batal dengan sia-sia. Namun tetap saja, tidak ada jawaban yang memuaskan untuk dirinya.
Juna tidak marah, ia hanya menyayangkan rencananya gagal, dan tempat indah yang Agustaf rekomendasikan tidak jadi ia datangi.
"Taruh saja." Suara Juna menginterupsi begitu Khanza hendak mencuci piring bekas makan malamnya. Intonasinya rendah, namun terdengar dingin. Itu yang ditafsirkan Khanza, ia seketika menjauh dari wastafel.
Untuk sesaat, Khanza menoleh ke arah meja makan sebelum dirinya benar-benar berlalu meninggalkan Juna seorang diri tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada suaminya.
Posisi duduk Juna menghadap pintu kamar Khanza, sehingga saat gadis itu membuka pintu kamar, Juna dengan jelas melihat air muka Khanza yang tidak menyenangkan untuk dipandang. Tarikan napasnya amat berat, sesaat pintu kamar di depan sana menutup cukup keras. Hingga Juna berpikir ulang dengan apa yang telah ia sampaikan, jika gagal pun tak masalah, dari pada harus berada dalam keadaan kurang baik seperti sekarang, Juna agak menyesal dengan hari ini.
Juna menjauhkan piringnya sedikit terdorong ke depan, ia lantas meraih gelas air minumnya. Hendak meneguk, namun getaran ponsel di atas meja mengalihkan perhatiannya.
Sebuah notifikasi pesan dari Agustaf. Di intip dari layar, Juna bisa membaca keseluruhan isi chatt tersebut. Sang dokter memastikan lagi keputusan bulan madu yang terancam batal itu—atau mungkin sudah dikatakan gagal? Memejamkan mata, Juna menyenderkan punggung pada sandaran kursi kemudian meletakan ponsel tanpa berniat membuka apa lagi membalas, ia mencoba berpikir sekali lagi tanpa melibatkan sang kawan.
Tak sampai satu menit, kelopak itu terbuka. Dengan cekatan ia berdiri dan membawa piring kotor menuju wastafel lalu mencucinya. Juna sangat telaten mengerjakan pekerjaan rumah, maka dari itu ia pun tak pernah menuntut Khanza melakukan sesuatu yang ia rasa masih sanggup diselesaikan sendiri.
Diam tanpa kata, tangannya bergerak dengan luwes, meski ada saja hal ceroboh yang tak sengaja ia lakukan. Salah satunya mematahkan sumpit kayu dan membuang kain lap pada tong sampah. Rasa-rasanya, dua benda tersebut harus berteman lebih akrab dengannya. Perihal sumpit kayu, mudah saja, ia hanya perlu mengganti baru dengan berbahan dasar logam. Dan untuk kain lap, sepertinya memang harus menyediakan stok banyak.