24. Graduation Gift

181 31 10
                                        

     Lulus juga akhirnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Lulus juga akhirnya. Banyak Pelajar bernapas lega sebab hari yang dinanti-nanti telah tiba. Satu babak baru dalam hidup dan siap membuka lembaran baru sudah di depan mata. Khanza adalah salah satu dari Pelajar yang lulus dengan hasil yang cukup memuaskan.

Gadis yang kini menyandang seorang istri itu masih berada di area Sekolah, ia amat enggan meninggalkan tempat yang banyak mengukir kenangan bersama teman-teman sebayanya. Besok atau bahkan lusa, ia tidak dapat kembali ke tempat tersebut.

Area sekolah cukup ramai oleh murid lain—adik kelas Khanza, hanya seangkatan dengan dirinya yang tidak banyak berada di sana, tentu karena kelulusan memang sudah lewat minggu lalu. Namun Khanza masih merasa berat, terlebih lagi harus berpisah dengan teman sekelasnya.

Ia membuka ponsel, menilik notifikasi baru yang ia terima. Napasnya berhembus berat, air matanya tergenang seketika.

Dari arah lain Robi menghampiri, ia datang bersama dokter Agustaf yang tampak mengenakan pakaian casual. Terlihat ya, lebih muda dari usia aslinya—meski pada kenyataannya, memang masih muda. Hanya karena belum memiliki pasangan, di saat Juna dan teman lainnya sudah menikah dan bahkan ada yang sudah memiliki anak.

"Za." Panggil Robil.

"Kenapa kamu jahat  padaku, Bi." Khanza memalingkan wajahnya, enggan menatap Robi yang datang dengan napas setengah terengah.

"Soal itu, aku minta maaf. Ini permintaan Nathan sendiri." Ucapnya terdengar lemah.

"Huh. Katanya aku teman kalian. Nathan juga berkata, aku harus baik-baik saja, tetapi justru aku sendiri tidak diberitahu jadwal penerbangan dia." Wajahnya kini mendongak sepenuhnya kepada Robi, hingga jelas terlihat kedua sisi kelopak matanya yang berembun siap melelehkan deraian hebat yang membanjiri pipinya.

Ya, tidak salah lagi. Khanza merasa kecewa lantaran tidak diberitahu soal rencana keberangkatan Jeonathan ke London. Pemuda itu berkata pada Khanza akan menundanya sampai cidera pada tangannya pulih. Tetapi berita yang ia dapatkan pagi tadi, membuyarkan semua isi pikirannya terhadap ucapan-ucapan Nathan kala itu.

Entah apa yang penyebabnya hingga keberangkatan pemuda itu dipercepat setelah satu minggu kelulusan, Khanza terus bertanya pada Robi dan mengirim pesan pada Jeonathan, tetapi tidak satupun jawaban yang puas diterima rungunya.

Hanya ada alasan-alasan yang menurut Khanza tidak tepat. Saudara Nathan ada yang melahirkan, alasan macam apa itu?

Robi mendekat mengikis jarak, lantas mendaratkan bokongnya di samping Khanza. Disusul oleh Agustaf yang datang, namun pandangannya menelisik ke sekililing area Sekolah. Langkahnya bahkan melewati keduanya, dan membiarkan sang adik berbicara dengan Khanza.

𝐁𝐑𝐎𝐓𝐇𝐄𝐑 𝐒𝐇𝐈𝐓 [𝐌]✓ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang