Sudah aku info di IGStory, kalau cerita ini hanya tinggal 3 chapter saja. Yupsh, kita udah kelamaan ngga sih. Berapa tahun ngga selesai karena ditinggal huhuhu. Dari yang pembacanya benar-benar antusi sampe sekarang tinggal sepuluh orang ang ang ang. Tapi ngga papa, aku tetap berterima kasih sama kalian yang sudah mampir dan memberikan dukungannya <3
Sebentar lagi kita akan berpisah dengan keluarga Kusuma. Jadi, ngga harus kesel-kesel lagi sama kak Vyan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Flashback)
Tepat 32 tahun silam, Almira berdiri terpaku di ambang pintu kamar kos teman kuliahnya, tatapannya kosong menatap hasil tes kehamilan di tangan Rendra. Seketika harapan yang ia pupuk sekian lama—tentang keajaiban yang akan membuatnya bahagia menjadi seorang ibu—hancur berantakan.
Ia mendengar bisikan Rendra, nada suaranya penuh penyesalan, tentang garis dua di alat tes itu yang bukan diciptanya. Hati Almira teriris; sahabat yang dulu sering tertawa bersama, yang selalu ia percayai, kini menjadi saksi retaknya rumah tangganya. Dunia seakan memutar mundur, menyorot segalanya dalam warna kelabu.
Namun, semesta seperti punya jalannya sendiri. Wanita itu tutup usia setelah melahirkan, Almira merasakan beban yang jauh lebih berat daripada sekadar pengkhianatan. Ia melihat bayi mungil itu—potongan hidup sahabatnya yang tak sempat menghirup udara baru—dan di sanubarinya tumbuh tekad samar. Meski setiap desah napasnya masih membawa getir duka, Almira mengulurkan tangan untuk memeluk bayi itu.
Dalam kesunyian, ia berjanji pada diri sendiri dan pada mendiang temannya: "Aku akan membesarkan dia, bersama Rendra, akan ku anggap anak ini seperti darah dagingku sendiri."
Dan di balik luka hati yang belum sembuh, Almira menemukan kekuatan baru: menerima kenyataan, merawat masa depan yang pernah direnggut, dan merajut kembali arti keluarga dari sisa-sisa kasih yang masih tersisa.
Sampai bayi itu tumbuh berusia delapan tahun, Almira menangis di dalam kamarnya ditemani kakak ipar—Lena.
"Apa kau yakin?"
"Iya, kak. Vyan menyukai bayi. Sepertinya dia ingin memiliki teman, Mas Rendra juga sempat berkata ingin mengadopsi bayi lain."
"Mengadopsi?"
"Emm, hanya ini yang bisa aku berikan untuk membahagiakan mereka. Aku tidak sanggup memberi sendiri."
"Baiklah.. lalu apa kau sudah ada pilihan untuk jenis kelamin bayi yang ingin kalian adopsi?"
Dari arah pintu, bocah laki-laki melongok setengah badan. Ia tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Vyan bertemu adik cewek yang lucu, bu."
Lena dan Almira mengernyitkan kening sembari saling menatap, tak paham. Kemudian tak lama dari belakang Vyandra sudah berdiri Rendra dengan kain yang membungkus sesuatu di dalamnya.