Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu langit masih mendung, tapi tidak hujan. Khanza duduk di dalam mobil, mengenakan dress biru gelap yang sederhana. Juna menyetir dengan tenang di sebelahnya, sesekali melirik istrinya lewat sudut mata. Tidak ada obrolan selama perjalanan. Hanya lagu pelan dari radio yang menjadi latar.
Khanza sibuk dengan pikirannya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gugup biasa, tapi karena luka lama yang perlahan mulai terbuka kembali.
Rumah tahanan itu tampak seperti bangunan biasa dari luar. Tapi bagi Khanza, tempat itu seperti menara yang menyimpan masa lalu yang selama ini ia coba kubur.
Mereka menunggu sebentar di ruang tamu. Lalu seorang petugas memanggil nama Khanza, dan mempersilakan mereka masuk ke ruang kunjungan.
Vyandra duduk di balik meja besi, dengan baju tahanan warna abu-abu. Rambutnya lebih pendek dari terakhir kali Khanza lihat. Matanya... masih mata yang sama. Tapi kali ini ada lelah yang tak bisa disembunyikan.
Mereka saling menatap. Beberapa detik.
Lalu beberapa menit selanjutnya hanya ada hening yang menyelimuti.
Tak satu pun bicara. Sementara Juna pamit sebentar ke toilet khusus tamu besukan. Hingga tak lama, pria itu muncul namun tak mendekat. Juna berdiri agak jauh, memberi ruang—terutama bagi Vyandra yang tengah menikmati manisnya hidup diversi yang lain.
Minggu lalu, Juna sudah datang menemui Vyandra sendirian. Selayaknya saudara yang lama terpisah, rasanya asing dan tak bersahabat. Namun, mengingat sekarang Vyandra sudah menjalani masa hukumannya, Juna meredam ego dan meminta maaf dan memaafkan Vyandra.
Kali ini, ia membawa Khanza. Sebab ia tahu Vyandra ingin menyampaikan sesuatu secara langsung kepada istrinya.
Khanza duduk perlahan di hadapan kakaknya. Suara detak jam di dinding terdengar sangat jelas dalam hening itu.
Akhirnya, dengan suara pelan dan sedikit bergetar, Khanza membuka mulut.
"Aku datang... bukan untuk menghakimi." Matanya basah, tapi tidak menangis. "Aku cuma ingin hatiku berhenti berat setiap kali mengingat kamu."
Vyandra menunduk. Tangannya mengepal di atas meja. Suaranya nyaris tak terdengar saat menjawab, "Aku tidak pantas kamu temui."
Khanza menarik napas dalam. "Mungkin. Tapi tetap saja... kamu kakakku. Dan aku... aku tidak mau hidup dengan terus membencimu. Lelah, aku ingin hidupku damai, kak."
Vyandra akhirnya menangis. Bukan tangis keras, tapi tangis diam-diam yang jatuh begitu saja. Seperti menunggu momen ini terlalu lama. Seperti menyimpan penyesalan dalam dada yang tak pernah diberi ruang untuk keluar.
"Maaf," katanya. "Untuk semua. Untuk sakitmu. Untuk semua yang aku hancurkan."
Vyandra masih menunduk—merasa malu pada dirinya dan Juna Khanza. Statusnya kini hanya laki-laki penghuni kamar tahanan baru, bukan lagi CEO yang selalu diagungkan namanya. Terlebih, Lena sudah mencoret nama Vyandra dari ahli waris keturunan Kusuma. Dimiskinkan dan di asingkan.