Happy Reading🌈
Malam itu, rumah keluarga Arunika sedang ramai dengan suara tawa dari sang ayah yang sibuk melawak dari tadi.
"Abang kamu belum pulang Runi?" tanya Manda padanya.
Arunika yang sedang duduk mengedikkan bahu tak tahu. "Gak tahu Bun. Bodo amat juga."
Manda memukul pelan bahu sang anak. "Kamu tuh yah,"
Arunika menghela napas. "Lagian. Malas banget sama Bang Altair. Siapa suruh lama banget pulangnya kemarin. Dicariin malah nongkrong sama teman-temannya. Bunda juga, ngapain coba suruh Runi pulang sama Bang Altair." Arunika mengungkit kejadian saat malam pertunjukan musik di sekolah.
Celotehan panjang Arunika membuat Manda menyengir. "Iya. Bunda salah. Harusnya Bunda suruh kamu pulang sama Reano aja, iya kan."
Mendengar nama itu, Arunika langsung menegang. "E-enggak. Harusnya, Bunda suruh Runi pulang sendiri aja. Gak perlu sama siapa-siapa."
"Ih, gak boleh gitu dong. Nanti ada begal gimana. Kan bahaya." Manda sangat takut. Apalagi Arunika adalah anak perempuan. Ia tidak mau hal buruk terjadi padanya.
Arunika hanya menggeleng-geleng mendengarnya. Bunda nya ini sangat perhatian dan khawatiran orangnya.
"Runi, gimana sayang sekolah nya?" tanya Oma Anis yang juga ada disana.
Arunika langsung beranjak dan pindah tempat duduk disamping Omanya itu. "Baik Oma," katanya memeluk perempuan berumur itu.
"Jangan peluk kenceng Omanya. Nanti sesak," Rama menegur.
Arunika melepas pelukannya. Ia pun tersengir. "Habisnya, gemas Runi."
"Oh iya, olimpiade kamu di sekolah kapan Runi?"
Pertanyaan Rama membuat Arunika menoleh. "Oh, bulan depan Yah."
Rama mengangguk. "Belajar yang rajin. Ayah yakin kamu bisa."
"Siap ketua." Arunika tertawa. Ia beruntung mempunyai keluarga yang support seperti ini kepadanya. Walaupun ayahnya sibuk, terkadang ia masih menyempatkan untuk memberi semangat kepada anak-anaknya.
Kebersamaan dalam keluarganya ini, bisa sejenak membuat Arunika lupa dengan laki-laki yang sudah membuatnya sedih sekaligus senang. Sedih karena pada akhirnya dia mundur tanpa pernah maju mengutarakan perasaannya pada laki-laki itu. Dan senang karena akhirnya dia bisa melihat sahabatnya bahagia lagi.
"Runi, ponselnya bunyi," ujar Manda melihat ponsel Arunika bergetar.
Arunika yang sedang melamun segera beranjak. Keningnya mengerut kala melihat pesan dari Nayra. "Oh, Nayra?" gumamnya.
"Runi ke atas dulu yah," Arunika segera beranjak naik ke kamarnya. Menjawab panggilan Nayra dengan nada bertanya-tanya.
"Kenapa Nay?"
"Run, gue mau cerita."
"Mau cerita apa, cerita aja." Tumben, Nayra mau ngobrol malam-malam begini.
"Kayaknya, Kak Reano emang benar-benar gak suka lagi deh, sama gue."
"Kenapa kamu ngomong gitu terus sih Nay?" Arunika duduk diatas ranjang.
"Gue ketemu sama dia sore tadi. Dan gue ngomong sama dia."
"Terus?" Arunika penasaran, hal apa yang telah mereka bicarakan.
"Yah gitu. Dia udah gak suka sama gue. Dan dia udah suka sama orang lain."
"Secepat itu? Kak Reano kayaknya keliru sama perasaan dia sendiri." Arunika juga bingung kalau sudah seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Fiksi Penggemar[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
