Bang Ray melambaikan tangan, mengarahkan langkahku ke area kafe yang lebih privat. Ada beberapa sofa dan sebuah mini bar yang sepertinya dibooking Bang Ray. Damar tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya meski aku berjalan di depannya.
"Pantas saja kamu nggak mau ngajakin aku, ternyata janjiannya ke tempat kayak gini?" bisik bocah itu sebal. Aku terkekeh mendengarnya, "iya. Kamu kan masih di bawah umur. Nggak boleh datang ke tempat kayak gini."
"Aku sudah cukup dewasa untuk mencoba semua minuman yang ada di sini, Rell. Aku sudah punya KTP," dengus Damar membuatku menoleh menatapnya. "Ngaku kan kalau sebenarnya kamu juga suka minum?"
"Enggak. Aku belum pernah coba."
"Bohong."
"Nggak percayaan banget sih," ujar Damar seraya melepaskan genggamannya, kemudian meraih bahuku, bergelayut manja. Aku mendengus kesal. Aku tahu kelakuannya ini agar dilihat teman-teman kantor, cara Damar menandai miliknya. Dasar berondong posesif!
Beberapa orang terlihat kaget saat menyadari kehadiranku. Bisa dimaklumi sih, sudah hampir dua bulan aku resign dan tidak menampakkan diri sama sekali. Mana pakai acara drama saat aku mengajukan resign yang dilihat beberapa orang di kantor, sudah pasti hal itu menjadi gunjingan. Entah rumor apa lagi yang terdengar di kantor sejak saat itu hingga mereka tidak menyangka aku datang ke acara yang mereka adakan. Udah gitu datang pakai acara pamer kemesraan lagi. Damar baru melepaskan rangkulannya saat Maia melompat dari kursi untuk menyongsongku.
"Lo ke mana aja sih? Nomor lo nggak aktif lagi semenjak resign. Gue diblokir ini ceritanya?" Maia memelukku sekilas lalu memukul bahuku pelan.
"haha, sorry Mai, nomor gue yang itu memang sudah nggak aktif. Apa kabar lo?"
"Tentu saja baik," jawab Maia yang kemudian mengamit lenganku, menuju teman-teman kantor berada. Damar tetap saja mengekoriku.
"Gue sebenarnya pengen berbagi cerita sama lo, tapi nomor lo nggak aktif. Tebak, gue jadian sama siapa?" Maia berbisik seolah takut yang lain mendengar, padahal jarak kami dengan teman-teman yang lain masih beberapa Langkah.
"Bang Widi kan?" tebakku berbisik juga. Maia menoleh ke arahku pura-pura shock, "kok tahu sih?" aku hanya tertawa, siapa lagi yang jadi incaran Maia di kantor ini kalau bukan Bang Widi?
"Selamat ya. Gue doain semoga langgeng," ujarku sambil menepuk bahu Maia.
"Halo semua," sapaku basa-basi. Bagaimanapun juga aku merasa sedikit canggung kembali berada di tengah-tengah orang-orang kantor yang sempat menikmati drama gak mutu antara aku dan Bang Ray. Sempat bertatap mata dengan Bang Widi, tapi aku segera mengalihkan pandangan. Bukan tidak ingin menyapa, cuma mendengar kata jadian dari mulut Maia, aku merasa bakalan canggung ketika berbicara dengannya.
Bang Ray menyambutku dengan senyum lebarnya. Ia datang kemudian melingkarkan lengannya di bahuku yang otomatis ditepiskan oleh Damar. Bang Ray hanya menyeringai, "cowok lo terlalu posesif," sungutnya lalu kembali merangkul bahuku seraya menggiringku ke arah mini bar.
"Semuanya, hari ini saya sengaja mengundang Arella untuk bergabung dengan kita. Bagaimanapun juga sebelum dipegang oleh Widi, Arella yang memegang proyek ini. Selain itu saya juga akan meluruskan rumor yang beredar di kantor beberapa saat lalu, kalau saya dan Arella mempunyai hubungan," Bang Ray merangkulku lebih erat, "saya dan Arella memang punya hubungan." Aku melotot, menyingkirkan tangan Bang Ray, "apa sih Abang ini. Jangan nambah gosip deh."
Bang Ray terkekeh kemudian mengacak puncak kepalaku, "Arella ini sepupu saya. Sebenarnya Arella ini bisa dikatakan magang di perusahaan kita sebelum benaran kerja di perusahaannya sendiri. Itulah sebabnya Arella merahasiakan identitasnya selama ini, mungkin karena dia merasa kalian akan sungkan kalau tahu dia ini anak pak Adinata, pemilik Aditama group." Ucapan Bang Ray membuatku melotot. Aku nggak mengira dia bakal mengatakannya di sini. Aku jelas melihat wajah-wajah kaget saat Bang Ray menyebutkan aku anak pemilik Aditama group meski hanya berlangsung sesaat, tergantikan dengan ekspresi sungkan. Maia cepat bereaksi, dia menatapku tidak percaya. Aku cuma bisa nyengir dan mengucapkan sorry tanpa suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berondong's Attack
ChickLitPunya pacar berondong? ... Hmm, pasti ngegemesin! Tapi kalo kamu pacaran sama anak SMA disaat umurmu udah 27, ini namanya bencana!!
